Ringkasan Berita
- H Murni (69), warga Tanjung Pinang, sengaja datang lebih awal setelah sehari sebelumnya gagal mendapatkan bubur sop.
- Setiap hari selama Ramadan, sekitar 1.000 porsi bubur sop disiapkan pengurus masjid untuk masyarakat.
- Rantang dan mangkuk tersusun rapi di atas meja stanless.
Topikseru.com, Medan – Menjelang waktu berbuka, halaman Masjid Raya Al Mashun di Kota Medan mulai dipadati warga. Rantang dan mangkuk tersusun rapi di atas meja stanless. Aroma bubur sop khas Melayu perlahan menyebar di udara sore Ramadan.
Tradisi pembagian bubur sop ini bukan sekadar kegiatan berbagi makanan. Ia adalah warisan budaya yang telah hidup sejak era Kesultanan Deli dan terus dijaga hingga kini.
Setiap hari selama Ramadan, sekitar 1.000 porsi bubur sop disiapkan pengurus masjid untuk masyarakat. Pembagian dilakukan selepas salat Asar bagi warga yang membawa wadah sendiri. Sementara jamaah yang berbuka di area masjid akan mendapatkan sajian tersebut tepat saat azan Magrib berkumandang.
Antre Sejak Sore Demi Seporsi Kenangan
Sejak pukul 15.00 WIB, warga sudah mulai berdatangan. Sebagian rela menunggu berjam-jam agar tak kehabisan.
H Murni (69), warga Tanjung Pinang, sengaja datang lebih awal setelah sehari sebelumnya gagal mendapatkan bubur sop.
“Semalam tidak kedapatan, jadi hari ini datang lebih awal. Tidak apa-apa menunggu lama, yang penting bisa berbuka dengan bubur sop di sini,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Namun bagi Murni, bubur sop bukan hanya soal rasa. Masjid Raya menyimpan kenangan masa kecilnya bersama sang ayah.
“Saya rindu kemegahan masjid ini dan kenangan salat bersama ayah. Datang ke sini membawa kebahagiaan tersendiri,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Dulu Berebut, Kini Bisa Dibawa Pulang
Murni mengenang masa ketika pembagian bubur sop dilakukan secara terbatas dan tidak boleh dibawa pulang. Warga harus menunggu piring kosong untuk bisa menikmati hidangan tersebut.
“Dulu sampai berebut, dan tidak bisa dibawa pulang. Sekarang sudah bisa dinikmati bersama keluarga di rumah,” katanya.
Perubahan sistem pembagian membuat tradisi ini semakin inklusif. Kini, warga bisa berbagi kebahagiaan berbuka bersama keluarga di rumah masing-masing.
Empat Tahun Tak Mencicipi, Kini Kembali untuk Melepas Rindu
Cerita serupa datang dari Elfrina (60). Ia mengaku selalu merindukan suasana berbuka di Masjid Raya setiap Ramadan.
“Saya suka berbuka di sini karena suasananya berbeda dan penuh kenangan,” ucapnya.
Empat tahun lamanya Elfrina tak sempat mencicipi bubur sop khas Melayu tersebut karena mengikuti anaknya merantau. Tahun ini, ia kembali dengan membawa mangkuk kecil agar bisa membawa sebagian bubur untuk dinikmati sebelum kembali ke perantauan.
Dulu, ia datang bersama rombongan teman-temannya. Kini hanya seorang sahabat lansia yang menemaninya. Namun semangatnya tetap sama.
Ramadan yang Menghidupkan Warisan Budaya
Tradisi bubur sop di Masjid Raya Al Mashun menjadi bukti bahwa warisan Kesultanan Deli tidak sekadar tercatat dalam sejarah, tetapi terus hidup di tengah masyarakat modern.
Di tengah hiruk pikuk kota, seporsi bubur sop mampu menghadirkan kembali kenangan masa lalu, kebersamaan keluarga, dan rasa syukur yang sederhana.
Bagi para lansia seperti Murni dan Elfrina, Ramadan di Masjid Raya bukan hanya tentang berbuka puasa. Ia adalah perjalanan pulang—ke kenangan, ke keluarga, dan ke akar budaya yang tak pernah benar-benar hilang.









