Ramadan 1447 H

Kultum Ramadhan 27 Februari 2026: Puasa Sebagai Terapi Jiwa di Bulan Ramadhan

×

Kultum Ramadhan 27 Februari 2026: Puasa Sebagai Terapi Jiwa di Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Topikseru.com, Jakarta – Kultum Ramadhan 27 Februari 2026: Puasa sebagai Terapi Jiwa di Bulan Ramadhan di mana  menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental merupakan tujuan yang diharapkan setiap orang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Islam menghadirkan tuntunan kehidupan melalui berbagai ibadah yang disyariatkan.

Salah satu contohnya adalah puasa. Puasa merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Dengan tujuan membentuk derajat takwa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 183. Di samping nilai spiritual tersebut, puasa juga memiliki manfaat preventif terhadap berbagai gangguan fisik maupun mental.

Selama berpuasa, tubuh mengalami perubahan dalam cara mengelola energi ketika berada dalam kondisi defisit kalori. Pada saat yang sama, jiwa dilatih untuk menumbuhkan kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta mengatur emosi dan respons terhadap stres. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda baginda Nabi SAW,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ (رَوَاهُ ابن خزيمة وابن حبان)

Artinya, “Puasa itu bukan sekadar (menahan) dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan rafats (ucapan/perbuatan keji). Maka jika ada seseorang mencacimu atau berbuat bodoh (kasar) kepadamu, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa,” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Syekh Ash-Shan’ani dalam At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan makan dan minum tetapi tetap mengatakan atau melakukan hal yang sia-sia dan keji, maka ia pada hakikatnya tidak dianggap berpuasa secara sempurna karena rusak pahalanya dan berkurang ganjarannya, hingga seakan-akan ia tidak berpuasa. (Ash-Shan’ani, At-Tanwir Syarhul Jami’ Ash-Shaghir, [Riyadh, Darussalam, 2011], jilid IX, hlm. 229).

Jabir bin Abdillah pun berkomentar,

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ وَدَعْ أَذَى الْجَارِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ سَكِينَةٌ وَوَقَارٌ يَوْمَ صَوْمِكَ وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاءً

“Ketika engkau berpuasa, maka pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu juga harus puasa dari dusta dan hal-hal yang haram. Jangan mengganggu tetangga. Bersikap tenanglah ketika puasa. Jangan samakan antara hari puasa dan tidak puasamu.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathoiful Ma’arif, [Riyadh, Daar Ibnu Khuzaimah, 1428 H], hlm. 364)

Dari hadis dan penjelasan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan latihan pengendalian diri terhadap ucapan, perilaku, dan pengelolaan emosi yang berkaitan dengan mekanisme sistem saraf serta fungsi otak manusia.

Baca Juga  Salah Pilih Makanan Saat Sahur? Ini 6 Jenis yang Bisa Bikin Puasa Jadi Berat!

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bastani dkk. (2017) melaporkan bahwa individu yang menjalankan puasa Ramadhan mengalami peningkatan signifikan pada kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF), serotonin, dan nerve growth factor (NGF) dalam plasma darah. Ketiga zat ini berperan penting dalam fungsi kognitif, stabilitas suasana hati, serta kemampuan otak beradaptasi terhadap stres (Bastani et al, 2017, The Effects of Fasting During Ramadan on the Concentration of Serotonin, Dopamine, Brain-Derived Neurotrophic Factor and Nerve Growth Factor, [Neurology International, Vol. 9:7043], hlm. 29–32).

BDNF merupakan protein yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel saraf, proses belajar dan memori, serta regulasi suasana hati. Penurunan kadar BDNF diketahui berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi. Stres kronis dan depresi dapat menyebabkan penurunan kadar BDNF, peningkatan kematian sel, serta berkurangnya pertumbuhan neuron baru di hipokampus. Sebaliknya, peningkatan kadar BDNF sering dikaitkan dengan perbaikan kondisi psikologis. (Correia, Ana Salomé et al. BDNF Unveiled: Exploring Its Role in Major Depression Disorder, Serotonergic Imbalance, and Associated Stress Conditions. [Pharmaceutics, Vol. 15,8 2081], hlm. 4).

Respons biologis tubuh terhadap puasa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi metabolik, durasi puasa, pola makan, serta karakteristik individu. Oleh karena itu, pola makan yang teratur, kendali emosi, serta ketenangan selama berpuasa sebagaimana dianjurkan Nabi SAW dalam haditsnya berpotensi memengaruhi keseimbangan neurokimia yang berkontribusi terhadap stabilitas emosional.

Sebab kondisi psikologis yang tidak stabil sering kali memicu ketidakteraturan pola makan yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap gangguan metabolik. Oleh karena itu, puasa dapat menjadi salah satu bentuk terapi pengendalian diri yang membantu menata kembali pola hidup dan regulasi emosi.

Stabilitas jiwa yang diperoleh melalui peningkatan kualitas ibadah selama Ramadhan, seperti zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menghindari perbuatan munkar, dapat mendorong terbentuknya pribadi yang lebih tenang sekaligus menebalkan dinding keimanan. Pada akhirnya, hal ini dapat mengarahkan energi tubuh dan jiwa untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Dengan demikian, puasa yang dilakukan sesuai dengan ajaran Nabi SAW bukan hanya ibadah wajib yang berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki dampak positif bagi kesehatan psikologis dan neurobiologis manusia. Wallahu a’lam.

Ustadzah Tuti Lutfiah Hidayah, Alumnus Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.