- Pasar malam Ramadan di Lapangan Benteng Medan ramai dikunjungi warga setiap sore hingga malam untuk berburu takjil dan berbuka puasa bersama.
- Aneka kuliner terjangkau serta wahana permainan keluarga menjadi daya tarik utama di lokasi strategis pusat kota tersebut.
- Suasana yang tertata rapi dan relatif bersih membuat pasar malam ini berbeda dari pasar malam pada umumnya.
Topikseru.com, Medan – Menjelang azan Magrib, aroma gorengan hangat dan kolak manis bercampur di udara Lapangan Benteng.
Langit sore yang perlahan menguning menjadi latar keramaian warga yang memadati pasar malam Ramadan di jantung Kota Medan itu.
Anak-anak berlarian di antara wahana permainan, sementara orang dewasa sibuk memilih takjil untuk berbuka puasa.
Sejak pukul 15.00 WIB, satu per satu pedagang membuka lapak. Meja-meja sederhana dipenuhi aneka kue basah berwarna-warni, lemper, risol, martabak mini, hingga makanan kekinian seperti dimsum dan kebab.
Di sisi lain, deretan minuman segar—es kolak, es buah, hingga jus mangga—tersusun rapi dalam wadah bening yang menggoda.
Harga yang ditawarkan relatif ramah di kantong. Dengan Rp10.000 hingga Rp20.000, pengunjung sudah bisa membawa pulang seporsi takjil atau minuman pelepas dahaga. Tak heran, semakin mendekati waktu berbuka, antrean di sejumlah lapak terlihat mengular.
Di sela keramaian, Hera bersama tiga temannya tampak memilih menu berbuka. Mereka sengaja datang lebih awal untuk menikmati suasana.
“Kami pilih berbuka di sini karena suasananya enak dan pilihan makanannya banyak. Tadi saya beli es kolak nangka, rasanya mantap,” ujar Hera, Sabtu (28/2/2026), sembari tersenyum.
Bagi banyak warga, Lapangan Benteng bukan sekadar tempat berburu makanan. Area yang tertata dengan meja dan kursi membuat pengunjung bisa langsung menyantap hidangan bersama keluarga atau sahabat.
Percakapan ringan, tawa anak-anak, dan denting sendok yang beradu dengan gelas plastik berpadu menjadi harmoni khas Ramadan.
Astri, pengunjung lainnya, mengetahui informasi pasar malam ini dari media sosial. Ia langsung mengajak teman-temannya untuk merasakan atmosfer berbeda dari pasar malam biasanya.
“Tempatnya mudah dijangkau, jadi gampang janjian. Harga makanan dan minumannya juga masih tergolong murah, tidak terlalu mahal,” katanya. Ia menilai kebersihan dan penataan area menjadi nilai lebih dibanding pasar malam lain yang cenderung panas dan sempit.
“Menurut saya lebih bersih dan tidak panas seperti pasar malam biasanya,” tambahnya.
Tak hanya kuliner, pasar malam ini juga menghadirkan pedagang aksesoris, sandal, parfum, hingga jam tangan.
Di sudut lain, wahana permainan seperti komidi putar mini dan permainan ketangkasan dipenuhi anak-anak yang menunggu giliran. Tawa mereka pecah setiap kali permainan dimulai, menambah semarak suasana.
Bagi para pedagang, Ramadan menjadi momen yang dinanti. Meski harus bersaing dengan banyak lapak lain, ramainya pengunjung memberi harapan akan peningkatan pendapatan dibanding hari biasa. Setiap sore hingga malam, arus warga yang datang seolah tak putus, terutama menjelang akhir pekan.
Dengan lokasi strategis di pusat kota dan konsep yang lebih tertata, pasar malam Ramadan di Lapangan Benteng menjelma menjadi ruang temu warga. Di tempat ini, orang-orang tak hanya membeli makanan, tetapi juga merayakan kebersamaan—menunggu waktu berbuka dengan cerita, canda, dan rasa syukur yang sederhana.












