Ramadan 1447 H

Khutbah Jumat: Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa

×

Khutbah Jumat: Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa

Sebarkan artikel ini
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat angkat mengangkat tema Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa di mana ibadah puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi memiliki tujuan besar, yaitu mencetak pribadi yang bertakwa.

Topikseru.com, JakartaKhutbah Jumat angkat mengangkat tema Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa di mana ibadah puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi memiliki tujuan besar, yaitu mencetak pribadi yang bertakwa.

Karena itu, penting bagi kita memahami ciri-ciri orang bertakwa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, agar ibadah yang kita lakukan benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan kita.

Khutbah I 

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt Mengawali khutbah Jumat ini, tak henti-hentinya khatib berwasiat pada seluruh jamaah dan juga diri khatib pribadi untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah.

Terlebih pada momentum Ramadhan saat ini, kita harus terus memperkuat rasa ketakwaan karena takwa menjadi tujuan utama dari disyariatkan ibadah puasa Ramadhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan di penghujung ayat 183 dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Alhamdulillah saat ini kita berada di bulan suci Ramadhan.

Berbicara tentang Ramadhan, kita tidak akan bisa lepas dari seputar puasa, Al-Qur’an, dan ketakwaan. Hal ini bisa dilihat dari firman-firman Allah yang menjelaskan tentang hal ini.

Seperti ayat 183 surat Al-Baqarah yang membahas kewajiban dan tujuan puasa, kemudian ayat 185 dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah yang menjelaskan tentang diturunkannya Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Dalam Al-Qur’an pun dijelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa yang disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 2 sampai 4. Dalam ayat ini disebutkan bahwa: ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Kemudian Allah menjelaskan 5 ciri orang bertakwa dalam kelanjutan ayat ini, yakni pada ayat ke 3 dan ke 4:

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat.”

Dari ayat ini, kita bisa memahami 5 ciri-ciri orang yang bertakwa yakni: Pertama, beriman kepada hal-hal yang ghaib. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir mengatakan bahwa hal ghaib yang dimaksud di sini seperti hari kebangkitan atau hari kiamat, hisab (perhitungan amal di dunia), surga, neraka, dan hal ghaib lainnya.

Orang beriman tidak berhenti hanya pada benda material dan fisik empiris yang dapat dijangkau oleh pikiran pendek saja, namun menjangkau alam metafisik di balik materi, yaitu ruh, jin, malaikat, dan puncaknya adalah wujud dan keesaan Allah swt.

Penguatan keimanan kepada hal-hal yang ghaib dan tak kasat mata di era modern saat ini menjadi penting. Pasalnya, banyak orang yang hanya percaya pada sesuatu yang hanya bisa dilihat, dibuktikan secara ilmiah, dan diterima oleh logika.

Pola pikir manusia saat ini sering kali sangat realistis, pragmatis, dan rasional. Di sinilah letak keimanan diuji yakni ketika kita tidak bisa melihat secara langsung Allah dan makhluk Allah lainnya yang ghaib, kita harus tetap mempercayainya.

Keimanan kepada yang ghaib akan melahirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah kehidupan kita. Inilah yang kemudian disebut dengan ihsan sebagaimana hadits Rasulullah saw:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihatnya, maka ketahuilah bahwa Allah melihatmu…” (HR. Muslim) Kedua adalah menegakkan shalat. Shalat adalah tiang agama dan menjadi penghubung antara manusia dengan Allah.

Baca Juga  Sidang Isbat Sore Ini, Awal Puasa Ramadhan Diprediksi Beda Hari

Orang bertakwa tidak menyepelekan shalat dengan hanya melaksanakannya saat sempat saja. Rasulullah bersabda:

أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ، وَإنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

Artinya: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.” (HR At-Tirmidzi).

Karena itu, agar menjadi orang bertakwa, kita harus senantiasa menjaga shalat kita dengan penuh kesadaran, melaksanakannya tepat waktu, dan menjadikannya sebagai kebutuhan spiritual dalam hidup, bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah​​​​​​​Ketiga, gemar berinfak dari rezeki yang Allah berikan. Orang yang bertakwa memiliki kepekaan dan kepedulian sosial. Orang bertakwa menyadari bahwa rezeki yang dimiliki bukan sepenuhnya miliknya.

Rezeki adalah titipan dari Allah. Di dalam setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain, seperti fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan. Orang yang bertakwa tidak akan pelit terhadap hartanya.

Orang bertakwa gemar bersedekah, membantu sesama, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Ingat, harta yang dibelanjakan di jalan Allah tidak akan berkurang, justru akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.

Orang yang bertakwa bukan hanya memiliki kesalehan individual, namun juga memiliki kesalehan sosial. Orang yang bertakwa adalah sosok terbaik yang senantiasa menebar kebaikan kepada lingkungannya dan orang lain merasa aman bersamanya.

Rasulullah saw bersabda: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain) merasa aman dari kejelekannya.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat, beriman kepada kitab-kitab Allah. Selain percaya kepada Al-Qur’an, orang bertakwa juga meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an hadir menjadi penyempurna dan petunjuk terakhir bagi umat manusia.

Orang yang bertakwa akan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipahami, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kelima, yakin kepada hari Kiamat.

Keyakinan kepada hari akhir akan membuat kita hidup dengan penuh tanggung jawab. Kita akan sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt. Orang yang yakin akan adanya hari akhir tidak akan mudah berbuat zalim, tidak akan menipu, tidak akan mengambil hak orang lain.

Karena ia sadar bahwa semua perbuatannya akan dihisab di hadapan Allah. Keimanan kepada hari akhir juga membuat kita lebih sabar dalam menghadapi kehidupan, karena yakin bahwa keadilan Allah pasti akan ditegakkan.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Demikianlah beberapa hal yang penting kita pahami terkait ibadah puasa, Al-Qur’an, dan ciri-ciri orang bertakwa. Mudah-mudahan kita senantiasa diberikat taufik dan hidayah oleh Allah swt dalam kehidupan dunia dan akhirat kita. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِهِ، لَهُ الْحَمْدُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Ustadz H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung