Ramadan 1447 H

Rincian Jumlah Rekaat, Tata Cara, dan Bacaan Sholat Idul Fitri

×

Rincian Jumlah Rekaat, Tata Cara, dan Bacaan Sholat Idul Fitri

Sebarkan artikel ini
sholat Ied
Bagi umat Islam di dunia pada pagi hari di 1 Syawal selalu membawa nuansa kemenangan dan haru yang tak terlukiskan setelah sebulan penuh umat Islam berpuasa. Di momen puncak tersebut, jutaan umat Muslim berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan untuk menunaikan ibadah sholat Ied.

Topikseru.com, Jakarta – Bagi umat Islam di dunia pada pagi hari di 1 Syawal selalu membawa nuansa kemenangan dan haru yang tak terlukiskan setelah sebulan penuh umat Islam berpuasa.

Di momen puncak tersebut, jutaan umat Muslim berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan untuk menunaikan ibadah sholat Ied.

Berbeda dengan sholat lima waktu pada umumnya, sholat Ied memiliki keunikan tersendiri yang sering kali membuat sebagian orang, terutama yang jarang melaksanakannya, merasa ragu sejenak saat berdiri di saf sebenarnya, berapa kali takbir sholat Idul Fitri yang harus dilakukan pada setiap rakaatnya?

Keraguan ini sangat wajar, mengingat ibadah sunah muakkad ini hanya dilakukan dua kali dalam setahun yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Menggemakan takbir tambahan dalam sholat Ied bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol pengagungan kebesaran Allah SWT atas nikmat kemenangan yang diraih.

Artikel ini akan merangkum dan membedah secara tuntas panduan jumlah takbir, bacaan yang dianjurkan di sela-sela takbir, hingga landasan hadis sahih yang menjadi pedomannya.

Berapa Kali Takbir Sholat Idul Fitri?
Sholat Idul Fitri dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah (meskipun sah dilakukan sendiri/munfarid jika berhalangan). Ciri khas paling mencolok dari ibadah ini adalah adanya takbir tambahan (zawaid) yang dilakukan sebelum membaca surah Al-Fatihah.

Berikut adalah panduan jumlah takbir pada masing-masing rakaat:

Rakaat Pertama (7 Kali Takbir):
Setelah melakukan Takbiratul Ihram (takbir pembuka sholat) dan membaca doa Iftitah, jamaah disunahkan untuk melakukan takbir tambahan sebanyak 7 (tujuh) kali.

Rakaat Kedua (5 Kali Takbir):
Setelah bangkit dari sujud rakaat pertama dan melakukan Takbir Intiqal (takbir perpindahan posisi berdiri), jamaah kembali disunahkan melakukan takbir tambahan sebanyak 5 (lima) kali sebelum mulai membaca Al-Fatihah.

Setiap kali menggemakan takbir tambahan tersebut, jamaah disunahkan untuk mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga atau bahu. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Wa’il bin Hujr al-Hadlrami: “Saya melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Landasan Hadis tentang Jumlah Takbir Sholat Ied
Penetapan jumlah 7 dan 5 kali takbir ini bukanlah karangan ulama di masa belakangan, melainkan bersumber langsung dari praktik dan tuntunan murni Rasulullah SAW. Terdapat beberapa hadis sahih yang menguatkan pedoman ini, di antaranya:

Hadis Riwayat ‘Amr bin Syu‘aib:

“Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Nabi SAW pada hari Id bertakbir dua belas kali: tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, dan beliau tidak melakukan sholat sunat apapun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadis Kesaksian Ummul Mukminin Aisyah RA:

“Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW pada sholat Idul Fitri dan Idul Adlha bertakbir tujuh kali dan lima kali selain takbir untuk rukuk.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain yang disahihkan oleh Imam Ahmad, Aisyah RA juga menambahkan, “Rasulullah SAW pada sholat dua hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan surat).”

Bacaan Dzikir di Sela-Sela Takbir
Hal lain yang sering menjadi pertanyaan setelah mengetahui jumlah takbir adalah: apa yang harus dibaca di sela-sela jeda antar takbir tersebut?

Secara historis, dalam sunah murni Rasulullah SAW, tidak ada tuntunan mutlak atau bacaan spesifik yang diwajibkan di sela-sela takbir. Namun, para ulama (mayoritas mazhab Syafi’i) sangat menganjurkan umat Islam untuk mengisi jeda tersebut dengan puji-pujian (dzikir) kepada Allah SWT. Berdasarkan panduan dari Nahdlatul Ulama (NU), berikut adalah dua opsi bacaan yang paling utama untuk dilafalkan secara sirr (pelan):

Baca Juga  Cara Menjaga Kesehatan Saat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan

Opsi Pertama:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allahu akbar kabira, wal hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila.
Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Opsi Kedua:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian takbir tambahan (7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua), imam akan membaca surah Al-Fatihah. Secara sunah, imam dianjurkan membaca surah Al-A’la pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua. Setelah itu, gerakan sholat dilanjutkan dengan rukuk, iktidal, dan sujud seperti sholat biasa.

Kesunahan Mendengarkan Khutbah Setelah Salat
Rangkaian ibadah Idul Fitri tidak berakhir saat salam diucapkan. Apabila Anda menunaikan ibadah ini secara berjamaah di masjid atau lapangan, terdapat kesunahan yang amat ditekankan, yakni tetap duduk dan mendengarkan khutbah Idul Fitri.

Khutbah ini merupakan momen refleksi spiritual untuk merawat keimanan pasca-Ramadan. Berbeda dengan sholat Jumat di mana khutbah dilakukan sebelum sholat, pada sholat Ied, khutbah dilaksanakan setelah sholat.

Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah:

“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR. Asy-Syafi’i).

1. Bagaimana jika imam atau makmum lupa jumlah takbirnya?
Jika seseorang ragu jumlah takbir yang telah dilakukan, ambillah jumlah yang paling sedikit (berdasarkan asas keyakinan), lalu sempurnakan kekurangannya. Namun, karena takbir zawaid (tambahan) ini hukumnya sunah, sholat Ied tetap sah meskipun takbir tambahannya terlewat, keliru jumlahnya, atau sengaja tidak dilakukan.

2. Apakah makmum masbuk harus mengganti takbir tambahan yang tertinggal?
Jika makmum masbuk (terlambat) mendapati imam masih dalam posisi berdiri dan belum membaca Al-Fatihah, ia bisa mengejar takbir yang tertinggal. Namun, jika imam sudah mulai membaca Al-Fatihah atau sudah rukuk, makmum cukup mengikuti gerakan imam tanpa perlu mengqada takbir yang tertinggal.

3. Apakah boleh sholat Idul Fitri di rumah sendirian?
Boleh. Jika seseorang berhalangan hadir ke masjid atau lapangan karena sakit atau alasan syar’i lainnya, ia diizinkan melaksanakan sholat Id secara munfarid (sendirian) di rumah dengan tata cara yang sama (7 takbir di rakaat pertama, 5 di rakaat kedua), tanpa perlu disertai khutbah.

Sholat Idul Fitri adalah manifestasi dari rasa syukur seorang hamba atas petunjuk dan kekuatan yang diberikan Allah SWT selama bulan suci Ramadan. Rincian mengenai berapa kali takbir sholat Idul Fitri yakni 7 kali pada rakaat pertama dan 5 kali pada rakaat kedua merupakan warisan tak ternilai dari sunah Rasulullah SAW yang harus kita jaga keasliannya.

Mengisi jeda antar takbir dengan lantunan Subhanallah wal hamdu lillah akan menambah kekhusyukan ritme ibadah kita, mengingatkan bahwa tiada yang lebih pantas dibesarkan di alam semesta ini selain Allah Yang Maha Agung.

Kini, pertanyaan keraguan di saf sholat di pagi hari raya telah terjawab. Semoga setiap takbir yang kita angkat ke udara menjadi penggugur dosa, dan setiap bacaan tahmid yang meresap ke dalam dada mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang kembali kepada fitrah yang sejati. Taqabbalallahu minna wa minkum.