Ringkasan Berita
- Murid SDK BPK Penabur Banda Bandung itu sukses meraih peringkat kedua dunia dalam Grand Final Neo Science Olympiad 20…
- Perjalanan Menuju Panggung Dunia Neo Science Olympiad merupakan kompetisi sains internasional yang mempertemukan pela…
- Sepanjang 2024 hingga 2025, Natanael tercatat telah mengoleksi 18 medali dari berbagai ajang olimpiade sains tingkat …
Topikseru.com – Seorang siswa kelas 3 SD asal Bandung, Natanael Wiraatmaja (8), menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional.
Murid SDK BPK Penabur Banda Bandung itu sukses meraih peringkat kedua dunia dalam Grand Final Neo Science Olympiad 2025 yang digelar di Orlando, Amerika Serikat.
Prestasi tersebut bukan hanya mengharumkan nama sekolah dan keluarganya, tetapi juga membuka kesempatan langka: undangan khusus berkunjung ke markas National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan menyaksikan langsung peluncuran roket Falcon milik SpaceX dari kompleks Kennedy Space Center.
Capaian ini menjadi sorotan publik di media sosial. Di usianya yang masih belia, Natanael membuktikan bahwa anak Indonesia mampu bersaing di level global dalam bidang sains.
Perjalanan Menuju Panggung Dunia
Neo Science Olympiad merupakan kompetisi sains internasional yang mempertemukan pelajar berbakat dari berbagai negara dalam bidang Natural Science dan proyek inovasi ilmiah. Pada babak grand final, peserta diuji melalui soal tertulis serta presentasi proyek sains.
Natanael mengaku sempat menghadapi soal yang cukup menantang.
“Ada yang susah banget,” ujarnya polos.
Namun, kemampuan analisis dan ketekunannya membuahkan hasil. Sepanjang 2024 hingga 2025, Natanael tercatat telah mengoleksi 18 medali dari berbagai ajang olimpiade sains tingkat nasional dan internasional.
Matematika menjadi bidang yang paling ia tekuni. Rutinitas belajarnya dilakukan secara mandiri dengan pendampingan orang tua, diselingi eksperimen sederhana yang ia sukai sejak kecil.
Ketertarikan pada Sains Sejak Taman Kanak-Kanak
Ibunda Natanael, Novita Setiawan Lim, mengungkapkan minat sang anak terhadap sains sudah terlihat sejak usia dini.
“Sebetulnya dari TK sudah kelihatan. Dia senang mencoba-coba eksperimen kecil, dari situ rasa ingin tahunya terlihat,” ujar Novita di Bandung, Jumat (6/2/2026).
Minat itu semakin berkembang ketika Natanael duduk di kelas 1 SD dan aktif mengikuti science club serta berbagai kompetisi. Meski berprestasi, Novita menegaskan bahwa putranya tetap menjalani kehidupan anak seusianya.
“Tantangan terbesar kami justru soal fokus. Jadi dilatih dari hal-hal yang dia suka dulu, seperti eksperimen dan binatang,” katanya.
Bagi Novita, mendampingi anak berprestasi bukan soal tekanan, melainkan memahami minat dan menjaga keseimbangan emosi.
“Mama akan selalu dukung, tapi kalau menang jangan sombong, kalau kalah jangan marah,” tuturnya.
Momen Tak Terlupakan: Roket Falcon Meluncur
Di luar kompetisi, pengalaman paling membekas bagi Natanael adalah saat menyaksikan langsung peluncuran roket Falcon.
“Waktu countdown kelihatan, waktu roketnya naik juga kelihatan sampai ekornya,” katanya antusias.
Momen tersebut semakin menguatkan cita-citanya untuk menjadi ilmuwan di masa depan. Baginya, melihat roket meluncur bukan sekadar tontonan, tetapi gambaran nyata tentang impian yang ingin ia kejar.
Perjalanan Natanael menjadi bukti bahwa dengan minat yang tepat, pendampingan yang sabar, dan konsistensi belajar, anak Indonesia mampu menembus batas dunia sejak usia dini.







