Ringkasan Berita
- Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang pria mendekati Sheinbaum, merangkul dan berupa…
- "Saya memutuskan untuk menempuh jalur hukum karena ini yang saya rasakan sebagai perempuan dan juga yang dialami bany…
- Dalam video itu, Sheinbaum terlihat tenang menghadapi serangan mendadak tersebut.
Topikseru.com – Momen menyapa warga berubah menjadi insiden pelecehan ketika Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menjadi korban serangan fisik saat berada dekat gedung parlemen, Rabu (5/11).
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang pria mendekati Sheinbaum, merangkul dan berupaya mencium, bahkan sempat mencoba meremas bagian tubuh sang presiden sebelum diamankan petugas keamanan.
Dalam video itu, Sheinbaum terlihat tenang menghadapi serangan mendadak tersebut. Ia menepis tangan pelaku dengan gerakan cepat namun tetap menjaga sikap tenang dan sempat berkata, “Jangan khawatir,” kepada pengawal dan warga sekitar.
Wali Kota Mexico City, Clara Brugada, menyatakan pelaku telah ditangkap beberapa jam setelah kejadian. Menurut Brugada, lelaki itu dalam kondisi mabuk saat melakukan aksi tersebut.
“Jika mereka menyentuh presiden, mereka menyentuh kita semua,” tulis Brugada di akun X menanggapi peristiwa itu, menegaskan solidaritas publik terhadap Sheinbaum.
Sheinbaum sendiri langsung mengambil langkah hukum. Dia mengumumkan akan mengajukan tuntutan pidana terhadap pelaku dan menegaskan bahwa tindakan itu bukan serangan personal semata, melainkan serangan terhadap perempuan secara umum di Meksiko.
“Saya memutuskan untuk menempuh jalur hukum karena ini yang saya rasakan sebagai perempuan dan juga yang dialami banyak perempuan di negara kita,” kata Sheinbaum, dikutip dari laporan media internasional.
Insiden tersebut juga memantik perdebatan publik soal pengamanan pejabat negara. Dalam beberapa tahun terakhir, Sheinbaum menerapkan kebijakan berbeda soal protokol keamanan dibandingkan pendahulunya, misalnya tidak selalu menggunakan pengawalan militer saat turun bersapa ke publik.
Meski demikian, kejadian Rabu ini menyorot celah dalam pengamanan karena pelaku bisa mendekati sang presiden dengan mudah.
Menanggapi keprihatinan soal keamanan, Sheinbaum menegaskan bahwa pengalaman itu tidak akan mengubah prinsipnya terkait tatacara pengawalan.
Dia tetap berkomitmen untuk hadir di ruang publik tanpa pengawalan militer penuh, namun memastikan langkah-langkah perlindungan tetap ditingkatkan bila diperlukan.
Kasus ini juga menggarisbawahi masalah pelecehan berbasis gender yang masih marak di Meksiko. Data survei nasional menunjukkan hampir separuh perempuan di negara itu pernah mengalami bentuk pelecehan atau kekerasan seksual setidaknya sekali dalam hidup mereka, sebuah realitas yang kini kembali mencuat usai Sheinbaum menjadi korban.
Sebagai catatan, Claudia Sheinbaum (63) adalah perempuan pertama yang menjabat sebagai presiden Meksiko, sekaligus pemimpin pertama negara tersebut yang berdarah Yahudi.
Selama karier politiknya, Sheinbaum dikenal vokal memperjuangkan isu kesetaraan gender dan perlindungan terhadap kekerasan terhadap perempuan, sehingga insiden Rabu menimbulkan reaksi emosional dan politis yang luas di dalam negeri.
Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan lanjutan terkait motif pelaku dan memastikan proses hukum berjalan sesuai aturan.







