Ringkasan Berita
- Di saat jaringan telepon terputus, akses transportasi lumpuh, dan informasi menjadi barang langka, seorang pria memil…
- Bukan dengan pesan singkat atau panggilan telepon, melainkan dengan langkah kaki yang menyusuri jalanan panjang dan m…
- Ia berjalan dari Sibolga menuju Tarutung, menempuh jarak sekitar 66 kilometer, melewati medan perbukitan, jalanan lic…
Topikseru.com – Putusnya akses komunikasi akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara melahirkan sebuah kisah kemanusiaan yang menggetarkan hati.
Di saat jaringan telepon terputus, akses transportasi lumpuh, dan informasi menjadi barang langka, seorang pria memilih menempuh cara yang tak biasa demi satu hal paling penting bagi keluarganya: kabar keselamatan.
Bukan dengan pesan singkat atau panggilan telepon, melainkan dengan langkah kaki yang menyusuri jalanan panjang dan menantang.
Ia berjalan dari Sibolga menuju Tarutung, menempuh jarak sekitar 66 kilometer, melewati medan perbukitan, jalanan licin, dan ketidakpastian akibat dampak banjir.
Putusnya Akses Komunikasi, Kekhawatiran Keluarga Tak Terbendung
Banjir yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera Utara menyebabkan banyak jalur komunikasi terputus. Listrik padam, sinyal menghilang, dan akses transportasi nyaris tak bisa dilalui.
Dalam kondisi tersebut, kekhawatiran keluarga yang terpisah jarak pun semakin membesar.
Pria ini berada di Sibolga saat bencana melanda. Sementara keluarganya berada di Tarutung, menanti kabar tentang kondisi sanak saudara mereka.
Hari demi hari berlalu tanpa informasi, membuat kecemasan semakin menekan.
Tak ingin keluarganya terus diliputi ketidakpastian, ia pun mengambil keputusan yang jarang terpikirkan oleh banyak orang: berjalan kaki untuk menyampaikan kabar secara langsung.
Melangkah Sejak Pagi, Menantang Jarak dan Medan
Keputusan itu ia realisasikan sejak matahari baru terbit. Tanpa kendaraan, tanpa bekal berlebih, ia mulai melangkah menyusuri jalanan dari Sibolga menuju Tarutung.
Jalan yang dilalui bukan jalur biasa, melainkan lintasan antarkabupaten dengan jarak puluhan kilometer dan kontur perbukitan yang menguras tenaga.
Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena jarak, tetapi juga kelelahan fisik dan kekhawatiran yang menyertai.
Namun niatnya tetap teguh. Satu-satunya tujuan yang ada di benaknya adalah bertemu keluarga dan menyampaikan kabar bahwa mereka yang berada di Sibolga dalam keadaan selamat.
“Jumpa keluarga, ngasih kabar kalau keluarga di Sibolga baik-baik saja,” ucapnya lirih saat ditemui warga di tengah perjalanan.
Ketika ditanya sejak kapan ia berjalan, jawabannya singkat namun sarat makna.
“Dari tadi pagi,” katanya, seolah menegaskan bahwa waktu dan lelah bukan halangan.
Kepedulian Warga Menguatkan Langkah
Perjalanan panjang itu akhirnya mempertemukannya dengan sejumlah warga yang tergerak oleh ketulusan niatnya.
Melihat kondisi fisiknya yang mulai kelelahan, warga tidak tinggal diam. Mereka berinisiatif membantu mencarikan tumpangan mobil yang kebetulan menuju arah Tarutung.
Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian dibagikan oleh akun Facebook Ndoetch Dani pada Rabu, 17 Desember 2025.
Video itu pun menyebar luas dan mengundang empati warganet dari berbagai daerah.
Bagi pria tersebut, bantuan warga bukan sekadar tumpangan, melainkan bentuk nyata solidaritas dan kepedulian di tengah situasi bencana.
Kasih Sayang Keluarga yang Mengalahkan Segalanya
Kisah pria ini menjadi cerminan kuatnya ikatan keluarga dalam situasi darurat. Di saat teknologi tak lagi bisa diandalkan, kehadiran fisik dan niat tulus menjadi satu-satunya jalan untuk menghapus kecemasan.
Langkah kakinya yang menempuh puluhan kilometer bukan tentang jarak, melainkan tentang tanggung jawab moral sebagai bagian dari keluarga.
Baginya, memastikan orang-orang tercinta mengetahui kabar keselamatan jauh lebih berharga daripada rasa lelah, lapar, atau risiko di perjalanan.
Di tengah duka dan kerusakan akibat banjir, kisah ini hadir sebagai pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup. Empati warga, keteguhan hati seorang pria, dan cinta kepada keluarga berpadu menjadi satu cerita yang menguatkan banyak orang.
Bencana mungkin memutus akses komunikasi dan melumpuhkan infrastruktur, tetapi tidak mampu memutus kasih sayang. Kisah ini menjadi simbol harapan bahwa di tengah keterbatasan, manusia masih mampu saling menguatkan dan berbagi kepedulian. (*)













