Ringkasan Berita
- Malam penuh makna ini dimeriahkan oleh penampilan Kenriz, finalis Indonesian Idol asal Aceh Tengah, yang tampil denga…
- Keluarga saya masih berjuang untuk pulih,” ujar Kenriz dengan mata berkaca-kaca.
- Agam Inong Aceh 2025: Duta Budaya yang Juga Duta Kebaikan Salah satu momen puncak dalam malam amal tersebut adalah pe…
Topikseru.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh bersama Yayasan Agam Inong Aceh sukses menggelar Charity Night di Taman Budaya, Banda Aceh dalam suasana penuh kepedulian dan kebersamaan yang penuh haru.
Acara malam amal ini tidak hanya menjadi panggung pengumuman pemenang Agam Inong Aceh 2025, tetapi juga menjadi wadah solidaritas kemanusiaan untuk membantu warga yang terdampak bencana di sejumlah wilayah Aceh, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.
Malam penuh makna ini dimeriahkan oleh penampilan Kenriz, finalis Indonesian Idol asal Aceh Tengah, yang tampil dengan hati terbuka.
Di hadapan ratusan penonton, Kenriz berbagi kisah haru tentang bagaimana keluarganya sendiri turut terimbas banjir yang melanda kampung halamannya.
Suara emosionalnya menyentuh hati para hadirin, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam membantu sesama.
“Saya merasakan sendiri betapa beratnya kondisi di lapangan. Keluarga saya masih berjuang untuk pulih,” ujar Kenriz dengan mata berkaca-kaca.
“Mari kita satukan langkah, berikan sedikit yang kita punya, karena bagi mereka, itu adalah harapan besar.”
Lebih dari Sekadar Amal: Ruang untuk Empati dan Kebaikan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, dalam sambutannya pada Rabu (24/12), menekankan bahwa acara ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud nyata dari nilai keimanan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial yang dijunjung tinggi masyarakat Aceh.
“Melalui kegiatan ini, Yayasan Agam Inong Aceh bersama Disbudpar Aceh berikhtiar menghadirkan ruang kebaikan—tempat kita berbagi, peduli, dan saling menguatkan dalam nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan,” kata Dedy.
Ia menambahkan, seluruh donasi yang terkumpul tidak hanya berbentuk uang tunai, tetapi juga bantuan non-tunai serta barang-barang kebutuhan pokok seperti sembako, pakaian layak pakai, selimut, dan obat-obatan.
Semua bantuan tersebut akan didistribusikan langsung ke tiga daerah terdampak: Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.
Agam Inong Aceh 2025: Duta Budaya yang Juga Duta Kebaikan
Salah satu momen puncak dalam malam amal tersebut adalah pengumuman pemenang Agam Inong Aceh 2025. Namun, alih-alih menjadi ajang perayaan glamor, acara ini sengaja dikemas sebagai bentuk penguatan peran para duta pariwisata dan budaya Aceh sebagai figur teladan yang membawa pesan kepedulian sosial, akhlak mulia, dan harmoni antara manusia dengan alam.
“Agam Inong Aceh bukan hanya wajah pariwisata dan kebanggaan budaya, tetapi juga duta kemanusiaan dan penjaga nilai-nilai kebaikan,” tegas mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh tersebut.
Dedy menekankan bahwa para finalis dan pemenang Agam Inong memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi garda terdepan dalam menyebarkan semangat gotong royong, terutama di tengah kondisi bencana yang sedang melanda sebagian wilayah Aceh.
Aksi Nyata Pasca-Acara: Penanaman Pohon untuk Pemulihan Ekosistem
Selain distribusi bantuan, Disbudpar Aceh juga merancang tindak lanjut konkret berupa aksi penanaman pohon di wilayah-wilayah rawan longsor dan banjir sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan pasca-bencana.
Inisiatif ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan ekologis, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga alam.
“Insyaallah, ini menjadi amal jariyah dan warisan kebaikan bagi generasi Aceh di masa mendatang,” pungkas Dedy Yuswadi, menutup pernyataannya dengan doa dan harapan akan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Solidaritas yang Menginspirasi Generasi Muda
Malam Amal Agam Inong Aceh 2025 menjadi bukti nyata bahwa seni, budaya, dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan. Di tengah sorotan panggung dan sorak penonton, terpancar semangat solidaritas yang melampaui batas hiburan—menjadi jembatan empati antara yang mampu dan yang membutuhkan.
Dengan keterlibatan tokoh muda seperti Kenriz dan para Agam Inong sebagai duta perubahan, Aceh sekali lagi menunjukkan wajahnya yang tangguh, peduli, dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.
Acara ini bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menumbuhkan harapan—satu langkah kecil yang akan terus berjejak dalam sejarah kemanusiaan Aceh.







