Ringkasan Berita
- Pun bukan hanya soal menahan hawa nafsu dari kemaksiatan zahir dan batin.
- Di bulan suci ini, bisa juga kita manfaatkan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian kepada kerabat.
- Dengan memadukan menahan lapar-haus, mengendalikan hawa nafsu, dan meningkatkan kepedulian terhadap kerabat, ibadah k…
Topikseru.com, Jakarta – Kultum Ramadhan 25 Februari 2026: Bangun Kepedulian, Eratkan Ikatan Kerabat di mana Bulan Ramadhan tidak melulu soal puasa menahan lapar dan haus. Pun bukan hanya soal menahan hawa nafsu dari kemaksiatan zahir dan batin.
Di bulan suci ini, bisa juga kita manfaatkan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian kepada kerabat.
Dengan memadukan menahan lapar-haus, mengendalikan hawa nafsu, dan meningkatkan kepedulian terhadap kerabat, ibadah kita akan semakin sempurna di sisi Allah SWT. Pun kualitas kehidupan kita akan semakin meningkat, baik dari sisi kesalehan spiritual maupun kesalehan sosial.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Ayat ini menegaskan bahwa diwajibkan puasa agar kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Tentu banyak sekali cara bertakwa, termasuk peduli terhadap sesama, terutama kepada para kerabat terdekat kita. Hal ini merupakan bagian dari peningkatan ketakwaan seseorang. Dalam konteks kaitan bulan Ramadhan dan kepedulian sosial, Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: “Diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling dermawan.’ Sifat dermawannya yang paling menonjol itu tampak ketika bulan suci Ramadhan, saat bertemu dengan malaikat Jibril. Jibril menemui Rasulullah Saw pada setiap malam di bulan tersebut dan mengajarkan beliau Al-Qur’an. Sungguh kedermawanan Rasulullah terhadap kebaikan itu laksana angin yang berhembus.” (HR Imam Bukhari).
Hadits ini mengisyaratkan bagaimana bulan suci Ramadhan sangat berkaitan erat dengan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah SAW yang merupakan manusia paling dermawan dan pada bulan Ramadhan sampai meningkatkan kualitas kedermawanannya. Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah momen tepat untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap sesama manusia, terutama kepada kerabat terdekat kita.
Di samping itu, dalam hadits lain Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya kepedulian terhadap sesama. Beliau bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Siapa saja yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat.
“Siapa saja memudahkan urusan orang yang sedang dalam kesulitan, niscaya Allah memudahkan baginya dari kesulitan di dunia dan akhirat. Siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Imam Muslim).
Sementara itu, jika kita merujuk pada beberapa literatur kitab klasik, kepedulian terhadap kerabat, misalnya bersedekah kepadanya, melebihi keutamaan kepada orang lain yang bukan kerabat. Imam an-Nawawi dalam salah satu karyanya menulis:
أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْأَقَارِبِ أَفْضَلُ مِنْ الْأَجَانِبِ وَالْأَحَادِيثُ فِي الْمَسْأَلَةِ كَثِيرَةٌ مَشْهُورَةٌ
Artinya: “Ulama sepakat bahwa sedekah kepada sanak kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain. Hadits-hadits yang menyebutkan hal tersebut sangat banyak dan masyhur.” (Imam an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, [Beirut: Darul Fiqr, t.t.] jilid VI, hal. 238).
Nilai lebih dari kepedulian terhadap kerabat dibandingkan dengan orang lain non-kerabat ini tidak hanya dalam soal sedekah, tapi setiap hal kebaikan, sebagaimana kelanjutan dari penjelasan Imam an-Nawawi berikut:
ويستحب تخصيص الاقارب على الاجانب بالزكاة حيت يَجُوزُ دَفْعُهَا إلَيْهِمْ كَمَا قُلْنَا فِي صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا وَهَكَذَا الْكَفَّارَاتُ وَالنُّذُورُ وَالْوَصَايَا وَالْأَوْقَافُ وَسَائِرُ جِهَاتِ الْبِرِّ يُسْتَحَبُّ تَقْدِيمُ الْأَقَارِبِ فِيهَا حَيْثُ يَكُونُونَ بِصِفَةِ الِاسْتِحْقَاقِ وَاَللَّهُ تعالي أَعْلَمُ
Artinya: “Disunnahkan mengkhususkan para kerabat atas orang lain dalam pengalokasian zakat, yakni kerabat yang boleh diberi zakat, sebagaimana penjelasan yang saya jelaskan dalam bab sedekah sunnah dan tidak ada perbedaan antara keduanya. Begitu juga dalam hal (pengalokasian) kafarat, nazah, wasiat, wakaf, dan seluruh urusan kebaikan, disunnahkan mendahulukan kerabat yang berhak menerimanya. Wallahu Ta’ala A’lam,” (Imam an-Nawawi/jilid VI, hal. 238—238).
Dari semua pemaparan di muka bisa dipahami bahwa bulan suci Ramadhan bisa kita manfaatkan sebagai peningkatan kualitas kesalehan spiritual dengan cara berpuasa, menahan haus dan lapar, mengendalikan hawa nafsu yang sifat tercela, memperbanyak amal kebaikan, dan sekaligus meningkatkan kesalehan sosial dengan menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian kita terhadap sesama manusia, terutama kepada kerabat terdekat kita.
Cara meningkatkannya bagaimana? Cara paling efektif untuk meningkatkan kepedulian terhadap kerabat adalah dengan memulainya. Kita harus memerhatikan dan peka terhadap kerabat yang layak dibantu yang hidup di lingkungan kita, di setiap atau mungkin di satu daerah. Sederhananya, dimulai dengan yang paling memungkinkan untuk kita bantu.
Karena kita sedang di bulan Ramadhan, jangan sampai kita berbuka puasa dengan menu melimpah, tapi ada kerabat kita yang kekurangan makanan untuk berbuka. Perhatikan juga apakah masih ada kerabat kita yang tidak bersahur karena tidak memiliki bahan pokok untuk memasak, tapi di kulkas kita ada bahan yang sampai hampir busuk karena tidak terpakai.
Inilah contoh sederhana yang bisa kita implementasikan dari kepedulian terhadap kerabat. Dan kepedulian ini juga bisa diwujudkan dalam bentuk apa pun, tidak harus dalam bentuk makanan saja. Bisa dalam bentuk menghilangkan kesusahan, menutup aib, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.
Semoga pada bulan suci Ramadhan ini, kita bisa memaksimalkan dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin sehingga bisa mengamalkan setiap hal yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan spiritual maupun sosial. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.













