Topikseru.com – Khutbah Jumat 29 Mei 2026 mengangkat tema Tobat Ekologis, Menjaga Bumi Sebagai Amanah Ilahi di mana akhir-akhir ini, kita kerap menyaksikan kerusakan alam yang semakin memprihatinkan.
Selain dapat mengancam kelangsungan hidup berbagai biota yang ada di Bumi, kerusakan alam lambat laun juga akan berdampak buruk terhadap eksistensi manusia di muka bumi ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam.
Khutbah I
الحَمْدُ لله الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيَرًا وَنَذِيْرًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وِلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مَسْلشمثوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: {ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Mengawali khutbah pada hari Jumat yang mulia ini, kami mengajak para hadirin untuk senantiasa merawat dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala, dengan cara melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang oleh-Nya.
Mengapa kita perlu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dan menjadi salah satu poin penting yang harus disampaikan oleh khatib dalam setiap khutbahnya? Karena sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Haddad dalam Kitab Al-Washayan Nafi’ah, takwa dan keimanan merupakan fondasi penting yang mendasari setiap kebaikan dan amal saleh. Tanpa fondasi ketakwaan dan keimanan yang kokoh, kebaikan dan amal saleh yang dilakukan seseorang tidak akan bernilai di sisi Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Belakangan ini, kita sering menyaksikan betapa alam telah rusak parah akibat tangan manusia. Hutan ditebang tanpa kendali, gunung-gunung dikeruk demi kepentingan ekonomi, sungai-sungai dicemari, dan laut dipenuhi sampah yang mengancam kehidupan ekosistem hayati.
Akibatnya, bencana demi bencana datang silih berganti. Banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga perubahan iklim menjadi ancaman nyata yang kita rasakan bersama.
Krisis ekologis seperti ini muncul akibat keserakahan dan pola fikir manusia yang kerap kali memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi dan sumber keuntungan semata. Padahal, Islam telah mengajarkan bahwa alam merupakan amanah Allah yang harus dijaga oleh manusia sebagai penerima mandat untuk menjadi khalifah di bumi.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ}
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Ayat ini mengandung pelajaran penting bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini bukanlah tanpa tujuan. Kita diciptakan oleh Allah bukan sekadar untuk makan, minum, dan menikmati kehidupan dunia, tetapi untuk menjalankan amanah besar sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Dalam tafsirnya, Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang akan menetap di bumi dan memakmurkannya. Mereka adalah penerima mandat dari Allah untuk menjalankan roda kehidupan di dunia dengan aturan-aturan-Nya. ((Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Damaskus: Darul Fikr,1418 H.], juz I, hlm. 125)
Karenanya, status khalifah bukanlah kemuliaan yang tidak memiliki konsekuensi. Syekh Ali Jum’ah menjelaskan bahwa tanggung jawab sebagai khalifah merupakan bayaran atas ditundukkannya alam semesta oleh Allah demi menunjang kehidupan manusia. Maka dari itu, manusia bertanggung jawab penuh untuk selalu memakmurkan dan merawat kelestarian alam sebagai penunjang kehidupan.
Syekh Ali Jum’ah dalam karyanya, Al-Bi’ah wal Hifadz alaiha fi Mandzuril Islami halaman 49 menjelaskan:
اِسْتِخْلَافُ الْإِنْسَانِ فِي الْأَرْضِ هُوَ أَمْرٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِالْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا وَرِعَايَتِهَا، وَتَوْكِيلٌ مِنْهُ سُبْحَانَهُ لِلْإِنْسَانِ بِإِعْمَارِهَا وَإِصْلَاحِ مَا يَطْرَأُ عَلَيْهَا مِنَ الْفَسَادِ
Artinya: “Pengangkatan manusia sebagai khalifah di bumi sejatinya merupakan perintah dari Allah swt untuk menjaga dan merawat bumi, sekaligus penyerahan mandat dari Allah kepada mereka untuk memakmurkan bumi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi di dalamnya.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Berbagai jenis bencana alam dan krisis lingkungan yang kita alami saat ini pada dasarnya merupakan akibat dari keserakahan manusia yang secara masif melakukan berbagai kerusakan pada alam. Mereka menyalahgunakan statusnya sebagai khalifah di bumi untuk mengeksploitasi kekayaan alam tanpa mempertimbangkan dampaknya di masa depan.
Terkait fenomena kerusakan bumi, Allah berfirman dalam Q.S. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat di atas menjadi bahan refleksi bagi umat manusia bahwa segala kerusakan yang terjadi di alam ini adalah ulah dan perbuatan mereka sendiri. Fasad dengan setiap dimensi maknanya, merupakan akibat dari dosa dan keserakahan yang bersumber dari hawa nafsu manusia.
Karenanya, firman Allah لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ adalah ajakan untuk kembali dari tindakan eksploitatif yang dilakukan oleh umat manusia. Ayat ini sejatinya mengandung perintah untuk bertobat dari dosa ekologis yang selama ini kita lakukan. Sebagaimana tobat pada umumnya yang mengajak setiap pendosa untuk kembali dari perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam kitab At-Tahrir wat Tanwir jilid 21 halaman 113, Ibnu Asyur menjelaskan ayat yang telah khatib bacakan tadi:
وَالرُّجُوعُ مُسْتَعَارٌ لِلْإِقْلَاعِ عَنِ الْمَعَاصِي كَأَنَّ الَّذِي عَصَى رَبَّهُ عَبْدٌ أَبَقَ عَنْ سَيِّدِهِ، أَوْ دَابَّةٌ قَدْ أَبَدَتْ، ثُمَّ رَجَعَ
Artinya: “Kata ruju‘ (kembali) dalam ayat tersebut merupakan bentuk isti’arah (ungkapan metaforis) yang bermakna berhenti dari kemaksiatan. Seakan-akan seseorang yang durhaka kepada Tuhannya (kemudian bertobat) itu seperti seorang budak yang melarikan diri dari tuannya, atau seperti hewan yang lepas dan kabur, lalu kemudian kembali lagi.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Tobat ekologis yang kita bicarakan hari ini menjadi landasan utama bagi kita untuk meningkatkan kesadaran spiritual demi memperbaiki hubungan kita dengan alam. Bagaimana pun, hubungan manusia dengan alam sejatinya mencerminkan kesetaraan sebagai sesama makhluk Allah yang harus dirawat dan dijaga kelestariannya.
Ketika manusia rakus terhadap alam, memonopoli kekayaannya, bahkan merusak kelestariannya, maka sesungguhnya ia sedang mengkhianati amanah Allah yang telah diberikan kepadanya.
Oleh karena itu, mari kita sama-sama mulai dari diri sendiri. Menjaga kebersihan lingkungan, tidak merusak alam serta menanam kepedulian terhadap lingkungan pada anak-anak kita merupakan bagian dari cara menjalankan amanah sebagai khalifah untuk menjaga kelestarian alam.
Semoga kita semua dijadikan sebagai hamba yang amanah dalam menjaga bumi, serta menyelamatkan negeri kita dari berbagai bencana dan kerusakan. Aamiin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَ اعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ
اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Ustadz Muhammad Zainul Mujahid, Pengajar di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Darek, Lombok Tengah.










