Topikseru.com, Jakarta – Khutbah Jumat 27 Februari 2026: Ramdhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang di mana salah satu ajaran penting dari bulan Ramadhan adalah bahwa setiap kesempatan meningkatkan ibadah kebaikan dengan nilai pahala yang berlipat ganda tidak selalu datang dua kali.
Sebab itu, bulan mulia ini tidak semestinya diperlakukan sebagaimana bulan-bulan yang lain, tetapi dijadikan momentum untuk membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّينِ الْقَوِيمِ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الْكَرِيمِ فَإِنِّي أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua, khususnya nikmat dipertemukan dengan bulan Ramadhan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladaninya.
Sebagaimana Rasulullah senantiasa menyampaikan wasiat takwa dalam setiap khutbahnya, maka sebagai ittiba’ terhadap sunnahnya, izinkan kami untuk menyampaikan wasiat takwa kepada diri kami sendiri dan kepada jamaah sekalian.
Marilah kita terus berupaya menjadi pribadi yang bertakwa. Karena dengan takwa, hidup kita akan menjadi terarah, langkah menjadi ringan untuk melakukan ibadah dan kebaikan, dan hati menjadi tenang dalam menjalani hidup di dunia.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Termasuk nikmat yang sangat agung dan tidak ternilai harganya adalah ketika Allah swt masih berkenan mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan. Pada bulan ini, kita semua dididik untuk menahan diri, dilatih mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menghidupkan malam dengan ibadah, dan memperbanyak sedekah agar tumbuh kepekaan sosialnya.
Semua rangkaian ibadah di atas dan ibadah-ibadah lainnya sesungguhnya berporos pada satu tujuan mulia, yaitu meningkatnya ketakwaan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, [2]: 183).
Mengapa ketakwaan menjadi poros dari seluruh ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadhan? Karena takwa adalah fondasi dari segala kebaikan dan kunci keselamatan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang bertakwa akan terdorong untuk senantiasa berbuat baik, mulai dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele hingga yang besar.
Ia akan ringan tangan membantu saudaranya tanpa pamrih, menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menunaikan amanah dengan jujur, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan. Semua itu merupakan buah dari ketakwaan yang hidup di dalam hati kita.
Sayyid Murtadha az-Zabidi al-Husaini mengatakan dalam kitab Ithafussadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, jilid VIII, halaman 27:
وَالتَّقْوَى… لِأَنَّهَا أَسَاسُ كُلِّ خَيْرٍ وَالسَّبَبُ لِسَعَادَةِ الدَّارَيْنِ
Artinya, “Dan takwa… karena sesungguhnya ia adalah fondasi dari segala kebaikan dan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat.”
Dan perlu kita ingat kembali bahwa semua kebajikan yang kita lakukan, baik yang bernilai kecil dan cenderung dianggap sepele, hingga perbuatan besar dan membutuhkan pengorbanan, semuanya akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT pada bulan Ramadhan yang mulia ini. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda:
فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ
Artinya, “Maka bertakwalah kalian semua pada bulan Ramadhan, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan dilipatgandakan di dalamnya, demikian pula keburukan-keburukan.” (HR. At-Thabrani).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan yang sangat berharga ini dengan penuh kesungguhan dan kesadaran. Jangan sampai kita tertipu oleh anggapan bahwa Ramadhan tahun depan pasti masih ada untuk kita. Karena tidak ada seorang pun yang mampu menjamin usianya akan sampai pada Ramadhan berikutnya.
Tidakkah kita mengambil pelajaran dari saudara, tetangga, dan banyak orang yang memiliki rencana untuk memperbaiki diri “nanti di bulan Ramadhan yang akan datang”, namun ajal lebih dahulu menjemputnya. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, halaman 158 berkata dalam sebuah syair:
كَمْ كُنْتَ تَعْرِفُ مِمَّنْ صَامَ فِي سَلَف مِنْ بَيْنِ أَهْلٍ وَجِيرَانٍ وَإِخْوَانِ أَفْنَاهُمُ الْمَوْتُ وَاسْتَبْقَاكَ بَعْدَهُمْ حَيًّا فَمَا أَقْرَبَ الْقَاصِي مِنَ الدَّانِي وَمُعْجَبٍ بِثِيَابِ الْعِيدِ يَقْطَعُهَا فَأَصْبَحَتْ فِي غَدٍ أَثْوَابَ أَكْفَانِ حَتَّى يُعَمِّرَ الْإِنْسَانُ مَسْكَنَهُ مَصِيرُ مَسْكَنِهِ قَبْرٌ لِإِنْسَانِ
Artinya, “Betapa banyak yang kau kenal di antara mereka yang berpuasa di masa lalu, dari kalangan keluarga, tetangga, dan saudara maut telah membinasakan mereka, dan meninggalkanmu hidup setelah mereka maka betapa dekatnya yang jauh dengan yang dekat dan betapa banyak orang yang bangga dengan pakaian hari raya, ia menjahitnya namun keesokan harinya, pakaian itu menjadi kain kafan hingga manusia memakmurkan tempat tinggalnya namun tempat tinggal terakhirnya adalah kuburan bagi manusia.”
Maka sebelum ajal menjemput dan sebelum pintu tobat tertutup, mari kita bergegas memperbaiki diri dengan meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal kebajikan. Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berarti dalam hidup kita. Jika pada bulan Ramadhan yang di dalamnya semua amal kebajikan dilipatgandakan tidak mampu meningkatkan kualitas kita, lantas bulan apa lagi yang bisa kita nantikan? Imam Ibnu Rajab mengatakan dalam kitab Lathaiful Ma’arif, halaman 158:
مَنْ لَمْ يَرْبَحْ فِي هٰذَا الشَّهْرِ فَفِي أَيِّ وَقْتٍ يَرْبَحُ؟ مَنْ لَمْ يَقْرُبْ فِيهِ مِنْ مَوْلَاهُ فَهُوَ عَلَى بُعْدِهِ لَا يَرْبَحُ
Artinya, “Siapa saja yang tidak meraih keuntungan pada bulan (Ramadhan) ini, maka pada kapan lagi ia akan meraih keuntungan? Siapa saja yang tidak mendekat kepada Tuhannya di dalamnya (Ramadhan), maka dalam keadaan jauhnya (selain Ramadhan) itu ia tidak akan memperoleh keuntungan.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian khutbah Jumat tentang bulan Ramadhan sebagai kesempatan yang tidak selalu terulang ini kami sampaikan. Semoga khutbah ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi kita semua untuk memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
Dan semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang muttaqin. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.













