Ekonomi dan Bisnis

Harga Emas Spot Turun 0,7% Bertengger di Level US$ 4.716,70 Per Ons

×

Harga Emas Spot Turun 0,7% Bertengger di Level US$ 4.716,70 Per Ons

Sebarkan artikel ini
Harga Emas
Pada perdagangan Senin (13/4/2026), harga emas spot turun 0,7% ke level US$ 4.716,70 per ons, menjadi posisi terendah sejak 7 April. Harga emas dunia melemah pada awal pekan ini seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi global setelah gagalnya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Topikseru.com, New York – Pada perdagangan Senin (13/4/2026), harga emas spot turun 0,7% ke level US$ 4.716,70 per ons, menjadi posisi terendah sejak 7 April.

Harga emas dunia melemah pada awal pekan ini seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi global setelah gagalnya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Baca Juga  Harga Emas Spot Turun 0,1% Bertengger di Level US$ 4.759,54 Per Ons Troi Terbebani Perang Iran vs AS

Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak, yang pada akhirnya menekan prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga merosot 1% ke US$ 4.738,90 per ons.

Di saat yang sama, dolar AS menguat 0,4%, membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor global.

Baca Juga  Ramalam Harga Emas Sepekan ke Depan Pasca Negosiasi AS–Iran Gagal Total

Tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga minyak kembali melonjak di atas US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah, menyusul kegagalan negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik.

AS bahkan dikabarkan tengah menyiapkan blokade di Selat Hormuz guna membatasi ekspor minyak Iran.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.

Analis KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan kondisi ini membuat sentimen pasar berubah cepat. “Optimisme gencatan senjata memudar, dan lonjakan dolar serta harga minyak kembali menekan emas,” ujarnya.

Sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga emas tercatat sudah turun lebih dari 11%. Padahal, secara historis, emas biasanya menjadi aset lindung nilai saat terjadi gejolak geopolitik dan inflasi.

Namun, tingginya suku bunga justru mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil. Kenaikan harga energi yang memicu inflasi juga membuat bank sentral cenderung menahan atau bahkan menaikkan suku bunga.

Menurut Waterer, setiap kali harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel, pasar langsung berspekulasi soal potensi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi.

“Ekspektasi suku bunga inilah yang melemahkan kinerja emas,” katanya.

Saat ini, pelaku pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini semakin kecil.

Sebelumnya, sebelum konflik Timur Tengah memanas, pasar sempat memperkirakan akan ada dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.

Di pasar logam lainnya, harga perak turun 2% menjadi US$74,35 per ons, platinum melemah 0,2% ke US$2.041,40, sementara palladium justru naik 0,7% ke level US$1.530,80 per ons.