Topikseru.com, Jakarta – Kecelakaan kereta api kembali mengguncang Indonesia. Insiden melibatkan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak bagian belakang KRL relasi Kampung Bandan–Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (27/4/2026) malam.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.52 WIB ini mengakibatkan jalur padat Bekasi–Cibitung lumpuh total. Hingga Rabu pagi, sebanyak 14 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis.
Jumlah korban jiwa dalam satu kejadian ini menjadi yang tertinggi dalam dua dekade terakhir, setara dengan kecelakaan kereta tahun 2006 di Grobogan, Jawa Tengah.
Kronologi Singkat Kecelakaan
Kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melayani rute Gambir–Surabaya Pasar Turi diduga menabrak rangkaian KRL yang berada di jalur yang sama.
Benturan keras tak terhindarkan, menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta serta menimbulkan korban jiwa dan luka.
Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh pihak terkait.
Deretan Kecelakaan Kereta Terbesar di Indonesia
Berikut sejumlah kecelakaan kereta api besar yang pernah terjadi di Indonesia:
1. Kecelakaan Kereta Api Padang Panjang (1944)

Insiden ini menjadi yang paling mematikan dengan sekitar 200 korban jiwa akibat rem blong di jalur terjal.
2. Tragedi Bintaro (1987)

Tabrakan dua kereta di Pondok Betung menewaskan 156 orang dan melukai ratusan lainnya.
3. Kecelakaan Ratu Jaya Depok (1993)

Kesalahan komunikasi menyebabkan dua KRL bertabrakan, menewaskan 20 orang.
4. Kecelakaan Brebes (2001)

Tabrakan akibat pelanggaran sinyal merah menewaskan 31 orang.
5. Kecelakaan KA Kertajaya vs Sembrani (2006)

Tabrakan di Grobogan menewaskan 14 orang dan menyebabkan beberapa gerbong terguling.
6. Tabrakan KRL vs Truk Tangki (2013)

Tabrakan dengan truk BBM memicu kebakaran besar dan menewaskan tujuh orang.
Rangkaian kecelakaan ini kembali menyoroti pentingnya sistem keselamatan transportasi kereta api di Indonesia, mulai dari manajemen lalu lintas rel, teknologi sinyal, hingga koordinasi operasional.
Pemerintah dan operator kereta diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang.












