Topikseru.com, Jakarta – Proses identifikasi korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Tim Disaster Victim Identification (DVI) di RS Polri Kramat Jati menyebut alat biometrik belum mampu membaca seluruh identitas korban secara langsung.
Kepala RS Polri, Prima Heru Yulihartono, mengatakan hambatan utama terjadi saat penggunaan Mobile Automated Multi-Biometric Identification System (MAMBIS), perangkat canggih yang biasa digunakan untuk identifikasi cepat.
“Pada saat kita cek menggunakan MAMBIS, identitasnya tidak langsung keluar. Ini menjadi salah satu kendala yang masih kami dalami,” ujar Prima dalam konferensi pers, Selasa (28/4/2026).
Kondisi Jenazah Jadi Tantangan Tambahan
Selain kendala teknologi, kondisi fisik korban juga mempersulit proses identifikasi. Beberapa jenazah mengalami kerusakan pada bagian wajah, khususnya kepala, sehingga pengenalan visual tidak dapat dilakukan secara optimal.
Meski demikian, tim DVI tidak berhenti pada satu metode. Mereka mengombinasikan berbagai teknik identifikasi seperti:
- Sidik jari
- Rekam medis gigi
- Uji DNA
Langkah ini dilakukan untuk memastikan keakuratan data sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga.
14 Korban Meninggal, Puluhan Luka-Luka
Berdasarkan data terbaru dari PT Kereta Api Indonesia, jumlah korban meninggal dunia akibat tabrakan antara kereta Commuter Line dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek mencapai 14 orang.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut data tersebut dihimpun hingga Selasa pagi. Sementara itu, sebanyak 84 korban luka telah mendapatkan perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.
Seluruh korban meninggal dunia kini berada di RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lanjutan.
Keluarga Diminta Segera Melapor
Hingga saat ini, RS Polri telah menerima 10 kantong jenazah sejak dini hari. Sebanyak tujuh keluarga korban juga telah melapor ke posko DVI.
Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk segera datang dan membawa data pembanding, seperti:
- Kartu identitas
- Rekam medis
- Data gigi atau DNA keluarga
Langkah ini dinilai krusial untuk mempercepat proses pencocokan identitas korban.

















