Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Rabu (29/4/2026) harga logam mulia kembali melemah melanjutkan koreksi tajam sehari sebelumnya.
Tren penurunan ini mencerminkan tekanan pasar global yang masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Serta sikap wait and see investor menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS.
Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (29/4/2026) pukul 15.36 WIB.
Harga emas turun 0,83% menjadi US$ 4.559 per ons troi. Sementara itu, harga perak melemah 0,67% ke level US$ 72,56 per ons troi.
Dalam sepekan terakhir, tekanan terhadap logam mulia semakin dalam.
Harga emas tercatat terkoreksi 3,55%, sedangkan perak mengalami penurunan lebih tajam sebesar 6,34%.
Koreksi ini menandai berlanjutnya tren pelemahan setelah sebelumnya emas turun sekitar 2%.
Dan perak anjlok hingga 3% ke level terendah sejak akhir Maret 2026.
Menurut Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menilai penurunan tersebut.
Dipicu oleh kombinasi aksi ambil untung (profit taking), penguatan dolar AS.
serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang arah kebijakan moneter dari Federal Reserve.
Dia menjelaskan investor saat ini cenderung menahan posisi sambil menunggu arah kebijakan terbaru.
“Dan pandangan Jerome Powell terkait jalur suku bunga ke depan,” kata Bram.
Di mana sosok Jerome Powell menjadi perhatian utama pelaku pasar, mengingat pernyataannya kerap
memberikan sinyal arah kebijakan suku bunga AS yang berdampak
Langsung pada pergerakan aset safe haven seperti emas dan perak.
Selain faktor moneter, sentimen negatif juga datang dari dinamika geopolitik.
Ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Serta gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, menjaga harga minyak tetap tinggi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih persisten, sehingga memperkuat ekspektasi.
Bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish).
Lingkungan suku bunga tinggi umumnya menekan daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil (yield).
Di tengah tekanan tersebut, harga emas dan perak sempat menunjukkan penguatan terbatas dalam perdagangan intraday.
Namun, kenaikan ini dinilai belum mencerminkan perubahan sentimen secara fundamental.
Dia menegaskan kenaikan ini lebih bersifat technical rebound karena harga sebelumnya sudah turun ke area terendah dalam hampir tiga pekan.
“Ada pembelian di area support, namun secara fundamental sentimen belum banyak berubah,” ujar Bram.
Ia menambahkan, selama dolar AS masih kuat dan pasar masih menunggu keputusan The Fed, pergerakan harga emas dan perak cenderung terbatas.
“Kenaikan saat ini lebih tepat dibaca sebagai rebound jangka pendek, belum sebagai pembalikan tren besar,” kata Bram.












