Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026) Nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Nilai tukar rupiah melemah 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.394 per dolar AS. Lagi-lagi rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.
Di Asia, nilai tukar rupiah melemah Bersama beberapa Mata Uang lainnya. Rupee India mencatat pelemahan terdalam yakni 0,31%.
Disusul Ringgit Malaysia yang melemah 0,18%, rupiah melemah 0,17%, baht Thailand melemah 0,07%.
Dolar Hong Kong melemah 0,05%, yen Jepang melemah 0,01% dan dolar Singapura melemah 0,01%.
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Won Korea menguat 0,34%.
Yuan China menguat 0,16%, dolar Taiwan menguat 0,05% dan peso Filipina menguat 0,03% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 98,45, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 98,37.
Rupiah Tergelincir ke Level Rp 17.429 per Dolar AS

Pada awal perdagangan Selasa (5/5/2026) nilai tukar rupiah di pasar spot kembali tembus ke atas Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, pada Selasa (5/5/2026) pukul 10.32 WIB, rupiah bergerak di level Rp 17.428 per dolar AS, melemah 0,20% dibanding sehari sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut, Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi berpandangan pelemahan rupiah pagi ini disebabkan oleh dinamika geopolitik global kembali memanas dan berpotensi mempengaruhi aktivitas ekonomi serta perdagangan internasional.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mulai melakukan upaya pembebasan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya di Truth Social pada Minggu, Trump menegaskan bahwa langkah ini dilakukan demi kepentingan bersama, termasuk Iran dan kawasan Timur Tengah.
Ketegangan juga terjadi di kawasan Eropa Timur. Ukraina dilaporkan melancarkan serangkaian serangan drone ke wilayah Rusia pada Minggu.
Serangan tersebut menargetkan berbagai infrastruktur strategis, termasuk pelabuhan Primorsk di Laut Baltik yang dilaporkan terbakar.
Serta sejumlah kapal. Intensitas serangan terhadap infrastruktur energi dan target lainnya pun meningkat.
Di tengah gejolak global tersebut, sebenarnya kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 surplus sebesar US$ 3,32 miliar, meningkat dibandingkan Februari 2026 yang sebesar US$ 1,27 miliar.
Namun demikian, tekanan mulai terlihat pada sektor riil. Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada April 2026.
Data Purchasing Managersā Index (PMI) dari S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di level 49,1, terendah sejak Juli 2025.
“Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi,” jelas Ibrahim, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 karena sejumlah faktor. Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi.
Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Menembus Level Rp17.550 Per Dolar AS Pekan Ini
Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi ke level Rp 17.427 per dolar Amerika Serikat (AS), bahkan sempat menyentuh Rp 17.435 per dolar AS pada pukul 10.15 WIB.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan dari dalam negeri.
“Target saya dalam minggu ini adalah di Rp 17.550 per dolar AS. Kemungkinan besar akan tercapai,” ujar Ibrahim, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Sehingga, meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi global yang lebih tinggi. Hal ini membuka peluang bank sentral, termasuk The Fed, untuk kembali menaikkan suku bunga.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Indonesia tercatat masih mengimpor minyak dalam jumlah besar, sehingga kenaikan harga minyak meningkatkan permintaan valas.
Di saat yang sama, kebutuhan dolar juga meningkat pada kuartal II seiring pembagian dividen oleh perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.
Ibrahim juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang mengalami penyusutan akibat intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dan pembelian surat utang negara.
Di sisi lain, data manufaktur Indonesia menunjukkan pelemahan. Purchasing Managers Index (PMI) yang berada di bawah level 50 mengindikasikan kontraksi sektor manufaktur, seiring mahalnya bahan baku impor.
“Kita melihat sudah di bawah 50, ini mengindikasikan bahwa impor-impor barang dari luar negeri mengalami tekanan karena harganya mahal kemudian barangnya tidak ada sehingga membuat manufaktur di Indonesia mengalami penurunan,” kata Ibrahim.
Kenaikan harga minyak juga dinilai berisiko memperlebar defisit anggaran pemerintah, yang diperkirakan mendekati batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Lebih lanjut, pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas impor mulai berdampak pada masyarakat melalui kenaikan harga barang.
“Kita melihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mulai dari barang impor, elektronik, hingga bahan pangan,” ujar Ibrahim.












