Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan Senin (4/5/2026) Rupiah/">Nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Nilai tukar rupiah melemah 0,33% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.337 per dolar AS. Ini adalah posisi rupiah terlemah sepanjang masa.
Di Asia, rupiah melemah bersama beberapa mata uang lainnya. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam yakni 0,45%.
Disusul rupiah yang melemah 0,33%, peso Filipina melemah 0,19%, dolar Singapura melemah 0,15% dan rupee India yang melemah 0,13%.
Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar yakni 0,35%.
Disusul yuan China yang menguat 0,16%, dolar Taiwan menguat 0,10%, yen Jepang menguat 0,03%.
Dolar Hong Kong menguat 0,02% dan won Korea yang menguat 0,006% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 98,25, naik dari akhir pekan lalu yang ada di 98,15.
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,23% Duduk di Level Rp17.377 Per Dolar AS Siang Ini

Pada perdagangan Senin (4/5/2026) pukul 12.20 WIB, nilai tukar rupiah melemah 0,23% secara harian ke Rp 17.377 per dolar AS di pasar spot.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat nilai tukar rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 2,08% secara bulanan atau month on month (MoM) dan telah anjlok sekitar 3,98% secara year to date (YtD).
Di satu sisi, cadangan devisa tergerus US$ 8,9 miliar YoY ke US$ 148,2 miliar (terendah sejak Juli 2024).
“Menurut kami, tekanan masih dominan di kuartal II – 2026. Kisaran proyeksi kami Rp 17.000 –Rp 17.700, bias mid-range Rp 17.300 – Rp 17.500,” ujar BRI Danareksa Sekuritas dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
BRI Danareksa Sekuritas mengestimasikan setiap 1% depresiasi rupiah berkorelasi dengan sekitar 3% – 5% koreksi IHSG di fase tekanan.
Serta setiap Rp 100 pelemahan dari Rp 17.000, estimasi outflow tambahan Rp 1,5 triliun – Rp 2,5 triliun per minggu di pasar saham.
“Rupiah lemah memicu double-loss bagi asing (capital loss + foreign exchange/FX loss) sehingga mempercepat aksi jual, terutama di saham likuid berkapitalisasi besar,” jelas BRI Danareksa Sekuritas.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Bergerak Berfluktuatif
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (1/5/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,05% secara harian ke Rp 17.337 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,31% secara harian ke Rp 17.378 per dolar AS pada Kamis (30/4/2026).
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih tertekan pada Senin (4/5/2026), kecuali ada perkembangan positif seputar geopolitk Timur Tengah. Selain itu, sentimen domestik masih negatif.
Adapun untuk Senin pergerakan rupiah akan dipengaruhi data ekonomi domestik yang akan dirilis. Di antaranya akan dirilis data manufaktur, perdagangan dan inflasi.
“Khususnya inflasi diperkirakan akan menurun, yang seharusnya naik dikarenakan pemerintah tidak menaikkan harga jual solar, pertalite dan pertamax,” ucap Lukman.
Lukman menilai penurunan inflasi ini akan semakin dilematik bagi BI dalam keputusan suku bunga karena dengan mempertahankan di tingkat sekarang, rupiah menjadi tidak menarik.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menambahkan, sentimen geopolitik juga akan mempengaruhi gerak rupiah.
Sebab Israel sampai saat ini masih terus melakukan penyerangan terhadap Lebanon.
Di sisi lain blokade yang dilakukan angkatan laut AS yang berkepanjangan kemungkinan akan membuat Iran terus memblokir Selat Hormuz sebagai pembalasan.
Blokade yang berkepanjangan di jalur pelayaran tersebut menunjukkan gangguan pasokan minyak global yang lebih besar.
“Indeks dolar menguat karena sentimen geopolitik,” ucap Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Senin (4/5/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.350 – Rp 17.400 per dolar AS.
Sementara Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.300 – Rp 17.400 per dolar AS.












