Topikseru.com, Jakarta – Berdasarkan data Bloomberg, Nilai Tukar Rupiah ditutup pada level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026).
Nilai tukar rupiah melemah 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.394 per dolar AS. Rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat meningkatkan risiko menjadi tekanan yang tidak terkendali.
Analis Pasar Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, mengatakan bahwa sejatinya rupiah saat ini dapat dipersepsikan turun kelas atau kurang diminati.
Hal ini sejalan dengan rupiah yang juga melemah terhadap pairing valas mata uang kawasan. Secara ytd misalnya, MYR/IDR di 4395,82 dari 4.111, SGD/IDR di 13.649 dari 13.104, THB/IDR di 531,61 dari 534,8.
Eddy menjelaskan bahwa nilai fundamental rupiah pada dasarnya dapat diukur dengan sejumlah pendekatan ekonomi, seperti purchasing power parity (PPP), International Fisher Equation, serta interest rate parity.
âMeskipun dapat dipersepsikan turun kelas atau kurang diminati, namun sebenarnya depresiasi mata uang itu banyak manfaatnya jika negara mampu memanfaatkan momentum tersebut,â ujarnya Eddy.
Maksudnya, nilai tukar yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.
Selain itu, barang impor menjadi relatif lebih mahal, sehingga mendorong penggunaan produk dalam negeri.
Dengan begitu, perusahaan dalam negeri menjadi lebih kompetitif melawan barang impor yang terasa lebih mahal.
Tak hanya itu, depresiasi rupiah juga dapat menarik aliran investasi asing langsung alias foreign direct investment (FDI).
Lantaran biaya produksi di dalam negeri menjadi lebih murah bagi investor asing.
Hal ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Meski demikian, Eddy mengakui bahwa pelemahan rupiah saat ini bisa memunculkan persepsi negatif di kalangan investor global.
Seolah-olah mata uang Indonesia menjadi kurang diminati dibandingkan mata uang negara lain di kawasan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa risiko utama yang perlu diwaspadai adalah kondisi pelemahan rupiah berubah menjadi fenomena spekulatif yang tidak sehat di pasar keuangan.
âYang menjadi masalah adalah, jika depresiasi mata uang itu berubah menjadi âdestablizing speculationâ,”
“Di mana mekanisme pasar berubah menjadi âherding behaviorâ yang membuat mata uang tersebut terus melorot dan akhirnya hancur total,â tandasnya.
Menurut Eddy, kondisi tersebut dapat terjadi apabila ketidakpastian global yang tinggi bertemu dengan kondisi domestik yang dinilai kurang menarik bagi investor.
Kombinasi keduanya berpotensi memicu tekanan berkelanjutan terhadap rupiah.












