Topikseru.com, Jakarta – Kabar gembira datang dari Iran-siap-gempur-habis-habisan-panjang-dan-menyakitkan/">ASs="auto-tag-link" href="https://topikseru.com/bisnis/43264/harga-minyak-mentah-di-perdagangan-kamis-7-5-2026-brent-naik-88-sen-dan-west-texas-intermediate-naik-12/">Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut semakin dekat menuju kesepakatan jangka pendek untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Meski demikian, sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, masih belum menemukan titik temu.
Mengutip Reuters, Kamis (7/5/2026), sumber dan pejabat yang mengetahui proses negosiasi menyebut kedua negara tengah membahas memorandum sementara, bukan perjanjian damai komprehensif.
Skema ini dirancang untuk menghentikan pertempuran dalam jangka pendek sembari membuka ruang perundingan lanjutan.
Harapan terhadap tercapainya kesepakatan tersebut langsung memengaruhi pasar global.
bursa saham Asia menguat ke level rekor tertinggi dan harga minyak dunia sempat merosot tajam
Karena pelaku pasar memperkirakan gangguan pasokan energi dapat mereda jika Selat Hormuz kembali dibuka.
Namun, pembicaraan sejauh ini masih menyisakan banyak perbedaan mendasar, terutama terkait program nuklir Iran.
Negosiasi belum menyentuh penyelesaian atas stok uranium Iran yang diperkaya mendekati level senjata maupun durasi penghentian aktivitas nuklir Teheran.
Seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam mediasi mengatakan fokus utama saat ini adalah memastikan penghentian perang secara permanen terlebih dahulu.
“Prioritas kami adalah mereka mengumumkan berakhirnya perang secara permanen,”
“Isu lainnya bisa dibahas setelah kedua pihak kembali ke meja perundingan langsung,” ujarnya kepada Reuters.
Berdasarkan rancangan yang dibahas, kesepakatan akan berjalan dalam tiga tahap, yakni penghentian resmi perang.
Penyelesaian krisis Selat Hormuz, dan pembukaan jendela negosiasi selama 30 hari untuk membahas kesepakatan yang lebih luas.
Sumber dari Pakistan dan pihak lain yang mengetahui proses mediasi menyebut memorandum satu halaman
Untuk mengakhiri konflik secara resmi sudah mendekati final, meski masih ada sejumlah perbedaan pandangan antara kedua pihak.
Presiden AS Donald Trump kembali menunjukkan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan.
Ia menyebut Iran ingin mencapai kompromi dan konflik bisa segera berakhir.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Itu sangat mungkin terjadi,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Meski begitu, pejabat Iran merespons lebih hati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran akan memberikan jawaban pada waktunya.
Sementara anggota parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyebut proposal AS lebih menyerupai “daftar keinginan Amerika” dibanding kesepakatan realistis.
Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan menyindir laporan mengenai kemajuan negosiasi
Dengan menyebut “Operation Trust Me Bro failed”, yang menggambarkan skeptisisme Iran terhadap klaim AS.
Laporan mengenai potensi kesepakatan sempat membuat harga minyak dunia anjlok hingga menyentuh level terendah dua pekan pada Rabu (6/5).
Harga minyak Brent turun sekitar 11% hingga sempat berada di kisaran US$ 98 per barel sebelum kembali bergerak di atas US$ 100 per barel.
Pasar saham global juga melonjak, sementara imbal hasil obligasi turun seiring meningkatnya
Optimisme bahwa perang yang mengganggu pasokan energi dunia dapat segera mereda.
Senior Portfolio Manager GCI Asset Management Takamasa Ikeda mengatakan.
Pasar melihat peluang berkurangnya eskalasi militer meskipun isi proposal perdamaian masih sangat terbatas.
“Isi proposal perdamaian AS-Iran memang masih tipis, tetapi pasar berharap tidak akan ada aksi militer lanjutan,” ujarnya.
Di sisi lain, Trump pada Selasa (5/5) juga menghentikan sementara misi angkatan laut AS
Yang sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Langkah itu diambil setelah muncul kemajuan dalam negosiasi.
NBC News melaporkan, keputusan tersebut juga dipengaruhi sikap Arab Saudi yang disebut menolak penggunaan pangkalan militernya untuk operasi AS di kawasan.
Meski pembahasan terus berlangsung, memorandum sementara ini belum mencakup sejumlah tuntutan utama AS
Yang selama ini ditolak Iran, seperti pembatasan program rudal balistik dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah.
Selain itu, rancangan kesepakatan juga belum membahas stok uranium Iran lebih dari 400 kilogram
Yang telah diperkaya mendekati level senjata nuklir, salah satu isu utama yang menjadi perhatian Washington.












