Kesehatan

Sejumlah Provinsi di Indonesia Serukan Waspadai Virus Hanta atau Hantavirus

×

Sejumlah Provinsi di Indonesia Serukan Waspadai Virus Hanta atau Hantavirus

Sebarkan artikel ini

Ada 8 Kasus Virus Hanta di 4 Provinsi

Hantavirus
Waspadai Hantavirus. (Foto: Topikseru.com/ Puskesmas Jagasatru)

Topikseru.com, Medan – Sejumlah provinsi di Indonesia mengimbau masyarakat untuk waspada penyebaran Virus Hanta atau hantavirus. Seperti Provinsi Sulbar.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Asran Masdy mengimbau masyarakat mewaspadai kemungkinan penyebaran virus Hanta atau Hanta Virus atau Hantavirus di daerah itu.

“Meski belum ada laporan adanya penyebaran virus ini di Sulbar, tapi kami tetap mengingatkan dan mengimbau masyarakat untuk waspada,” kata Asran Masdy di Mamuju, Kamis.

Ia menjelaskan virus Hanta dapat menyerang paru-paru dan ginjal, serta menyebabkan kemunduran fungsi ginjal. Gejalanya, kata dia, antara lain demam, sesak napas, dan batuk ringan.

“Gejalanya batuk-batik kecil, demam, dan sesak napas. Jika tidak ditangani cepat bisa berdampak pada organ ginjal,” ucap Asran Masdy.

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh perangkat kesehatan dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan desa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penularan virus Hanta.

“Kami mengajak semua pihak, termasuk kader dan petugas kesehatan di lapangan, untuk ikut mensosialisasikan bahaya virus ini dan cara pencegahannya,” ujar Asran Masdy.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup sehat dan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan agar dapat meminimalisir risiko penyebaran berbagai penyakit, termasuk virus Hanta.

“Dengan kewaspadaan dini dan edukasi yang merata, risiko penularan virus Hanta di Sulbar bisa dicegah sejak awal,” kata Asran Masdy.

Kemenkes RI: Ada 8 Kasus Virus Hanta di 4 Provinsi

Sebelumnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat per 19 Juni 2025 ada delapan kasus virus Hanta tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) Hantavirus Indonesia di empat provinsi dan semuanya dinyatakan sudah sembuh.

Keempat provinsi tersebut yakni Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.

Selain itu satu kasus yang ditemukan di Kabupaten Bandung Barat pada 20 Mei 2025 di RSUP Hasan Sadikin, Bandung, dan pasien sudah sembuh serta kembali beraktivitas.

Virus Hanta adalah penyakit zoonosis atau ditularkan dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh Orthohantavirus. Penularan melalui kontak langsung dengan rodensia atau hewan pengerat, seperti tikus, dan belum ditemukan penularan dari manusia.

Beberapa cara mencegah virus Hanta yakni pengendalian populasi rodensia, menghindari kontak dengan urine, tinja, air liur, dan sarang rodensia.

Kemudian menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan rumah, terutama ruang yang jarang dipakai seperti loteng dan gudang, serta menghindari menyentuh rodensia, baik hidup maupun mati.

Mengelola sampah secara benar, menempatkan perangkap tikus di rumah/tempat kerja, menggunakan alat pelindung diri  bagi pekerja berisiko seperti petani, buruh bangunan, tenaga laboratorium dokter hewan.

IDAI: Virus Hanta Bukan Baru dan Bisa Dicegah Lewat PHBS

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut virus hanta bukanlah virus baru dan penularannya dapat dicegah melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Sebagai masyarakat, sebagai orang tua, jangan panik dulu karena belum tentu juga apa yang terjadi itu (virus) bisa menularnya seperti COVID-19,” kata Ketua Umum PP IDAI DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp. A, Subsp. Kardio (K) dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Piprim menyampaikan, virus hanta berasal dari hewan perekat seperti tikus dengan penularan antarmanusia hanya dapat terjadi jika melakukan kontak erat yang berkepanjangan dengan pihak yang tertular.

Sifat dari virus itu pun dinyatakan berbeda dengan COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 cara penularannya melalui percikan pernapasan (droplets).

Meski demikian, belum ada vaksin yang dapat melindungi masyarakat dari virus hanta.

“Jadi memang kuncinya ada di perilaku hidup bersih dan sehat. Rajin cuci tangan, higienis dan sanitasi,” ucap dia.

Piprim menyebut penerapan PHBS juga mencakup menjaga lingkungan, utamanya tempat penyimpanan makanan, tetap bersih dan terbebas dari tikus.

Menurut dia, dengan terangkatnya isu virus hanta dapat dijadikan sebagai momentum untuk mengingatkan kembali masyarakat terkait penerapan hidup yang bersih.

Pakar infeksi penyakit tropik IDAI Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH menambahkan bahwa sampai saat ini Indonesia belum pernah melaporkan adanya penularan virus hanta jenis Andes yang ramai dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius.

Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga itu mengatakan virus hanta jenis Andes sampai sekarang diketahui baru menyebar di kawasan Amerika Selatan, Argentina, dan Chili.

Meski demikian, dia berharap masyarakat dapat tetap menjaga kebersihan seperti rajin membersihkan kotoran dan kencing tikus menggunakan desinfektan, dan menghindari daerah berdebu yang berisiko menjadi sarang tikus.

“Tetap kuncinya adalah menjaga kebersihan masing-masing melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Tidak ada keraguan-keraguan dalam kondisi apa pun, terhadap penyakit apa pun,” kata dia.

Ketahui Cara Penularan Utama Virus Hanta dari Tikus ke Manusia

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan virus hanta bisa menular melalui inhalasi aerosol dari debu urin tikus yang mengering atau air liur tikus yang sakit virus andes yang dapat menyebabkan penyakit sindrom paru.

“Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” kata Dicky dalam percakapan daring dengan ANTARA, Rabu.

Ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan ini menjelaskan virus hanta bisa menular pada orang yang kontak dengan urin atau kotoran tikus di permukaan. Namun penyebaran ini tidak terjadi langsung begitu saja, perlu ada strain tertentu seperti virus andes yang bisa secara terbatas menular pada manusia ketika terjadi kontak silang.

Pada orang yang sudah terkontaminasi virus hanta, ada fase klinis awal yang menyertai seperti demam, nyeri, otot lemas, hingga pada fase kritis adanya kerusakan pembuluh darah paru dan kebocoran cairan sehingga menyebabkan edema dan gagal napas akut.

“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” kata Dicky.

Dicky mengatakan perburukan kondisi menuju fase berat bisa terjadi dalam hitungan hari sehingga penanganan dan deteksi dini diperlukan. Faktor ketahanan hidup jika terjangkit virus hanta adalah diagnosis yang tepat dan cepat untuk menghindari fase paru berat dan kematian karena keterlambatan diagnosis.

Sampai saat ini tidak ada terapi antivirus yang spesifik untuk penyakit ini, namun terapi suportif bisa dilakukan seperti memenuhi kebutuhan oksigen dengan ventilator dan manajemen cairan yang ketat. Ia juga mengatakan potensi virus ini untuk menjadi pandemi global sangat kecil karena penularan utama bukan antar manusia.

Ia juga mengingatkan untuk menjaga kebersihan diri khususnya di lingkungan yang tinggi risiko seperti lingkungan kapal laut, atau di ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *