Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah 0,34% Terseret di Level Rp 17.900 per Dolar AS

×

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah 0,34% Terseret di Level Rp 17.900 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini

Analis Pasar: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Dalam Jangka Pendek

Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah spot ada di level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,34% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.839 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS pagi ini. Rupiah mencatat pelemahan terdalam yakni 0,34%, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,25%.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi. Pukul 09.13 WIB Nilai Tukar Rupiah kembali melemah di pasar spot.

Nilai tukar rupiah spot ada di level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,34% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.839 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS pagi ini. Rupiah mencatat pelemahan terdalam yakni 0,34%, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,25%.

Lalu, baht Thailand melemah 0,09%, yuan China melemah 0,05%, dan peso Filipina yang melemah 0,02%.

Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Dolar Taiwan menguat 0,12%.

Won Korea menguat 0,07%, yen Jepang menguat 0,04%, dolar Singapura menguat 0,02% dan dolar Hong Kong yang menguat 0,01%.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,20, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 99,22.

Analis Pasar: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Dalam Jangka Pendek

Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terbatas dalam jangka pendek, setelah mengalami tekanan.

Asal tahu saja, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.839 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026), melemah 0,19% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.805 per dolar AS.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan mengatakan rupiah berpeluang menguat terbatas dalam jangka pendek setelah beberapa waktu lalu mengalami tekanan yang cukup besar.

Sentimen positif datang dari stabilisasi pasar global, masuknya aliran devisa, serta meningkatnya harapan pasar terhadap potensi perpanjangan gencatan senjata Amerika Serikat–Iran yang dapat mengurangi ketidakpastian geopolitik dan menurunkan tekanan pada harga energi global.

Meski demikian pada kuartal III-2026 menuju kuartal IV-2026, Brahmantya melihat rupiah masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 18.000- Rp 18.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Namun jika area tersebut tertembus maka rupiah berpotensi menuju harga psikologis berikutnya pada kisaran Rp 19.000-Rp 20.000 per dolar AS.

“Arah pergerakannya akan sangat bergantung pada kondisi global, terutama kekuatan dolar AS, harga energi, dan arus modal asing ke emerging market,” kata Brahmantya kepada Kontan, Senin (1/6/2026) lalu.

Menurut Brahmantya, kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) merupakan langkah yang positif karena membantu meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri.

Ketika eksportir menempatkan devisa hasil ekspornya di perbankan domestik, likuiditas valas menjadi lebih besar sehingga tekanan terhadap rupiah bisa berkurang.

Selain itu, kebijakan ini juga membantu mengurangi keluarnya devisa ke luar negeri, memperkuat kemampuan intervensi pasar oleh Bank Indonesia, serta memberikan sinyal kepada investor bahwa pemerintah dan otoritas moneter serius menjaga stabilitas nilai tukar.

Namun, ia melihat DHE SDA lebih tepat disebut sebagai bantalan daripada solusi utama.

Sebab pergerakan rupiah saat ini masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, harga minyak dunia, kondisi likuiditas global, dan sentimen geopolitik.

“Jadi meskipun DHE SDA dapat membantu menahan volatilitas, rupiah tetap berpotensi mengalami tekanan jika faktor-faktor eksternal tersebut memburuk,” tambahnya.

Sentimen Pemberat Rupiah Brahmantya juga menuturkan ada tiga faktor utama yang akan memberatkan pergerakan rupiah.

Pertama, arah kebijakan Federal Reserve, karena jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar akan tetap kuat.

Kedua, harga minyak dunia, mengingat Indonesia masih sensitif terhadap kenaikan harga energi dan kebutuhan impor migas.

Ketiga, geopolitik global, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah yang dapat memicu sentimen risk-off dan mendorong investor kembali ke aset safe haven.

Selain itu, kenaikan yield obligasi global juga perlu dicermati karena dapat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara, DHE SDA dapat memperkuat fondasi pasar valas domestik, tetapi stabilitas rupiah tetap ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan fundamental dalam negeri dan kondisi global.

Jadi kebijakan ini adalah bantalan yang baik, bukan tameng yang kebal terhadap tekanan eksternal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *