Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Terkapar Lagi di Level Rp18.188 per Dolar AS Sore Ini

×

Nilai Tukar Rupiah Terkapar Lagi di Level Rp18.188 per Dolar AS Sore Ini

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah spot ditutup di level Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,84% dibanding penutupan Jumat (5/6/2026) di Rp 18.036 per dolar AS.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (8/6/2026) Nilai Tukar rupiah tak mampu keluar dari tekanan dan ditutup ke level terburuk sepanjang masa lagi di pasar spot.

Nilai tukar rupiah spot ditutup di level Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,84% dibanding penutupan Jumat (5/6/2026) di Rp 18.036 per dolar AS.

Penutupan kali ini adalah rekor penutupan terendah rupiah sepanjang masa. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan intraday, rupiah sudah sempat tembus ke level Rp 18.205 per dolar AS pada pukul 13.10 WIB.

Hingga pukul 15.00 WIB, mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah.

Di mana, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 1,03%.

Selanjutnya, rupee India terkoreksi 0,74% dan peso Filipina ditutup anjlok 0,31%. Disusul, dolar Taiwan yang ditutup ambles 0,29%.

Berikutnya ada baht Thailand turun 0,26% dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,008% terhadap the greenback.

Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 1,73%.

Diikuti, yuan China naik 0,06% dan dolar Singapura terkerek 0,05%. Lalu ada yen Jepang yang menguat tipis 0,04%.

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,83% ke Level Rp18.187 per Dolar AS Siang Ini

Pada perdagangan Senin (8/6/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan di pasar spot.

Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, hingga pukul 12.00 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,83% ke level Rp 18.187 per dolar AS.

Sebelumnya, pada Jumat (5/6/2026), rupiah masih menguat tipis 0,07% secara harian ke posisi Rp 18.036 per dolar AS.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Menurut Ibrahim, konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang melibatkan AS dan Iran, termasuk eskalasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.

Di saat yang sama, konflik antara Israel dengan Palestina dan Lebanon Selatan juga terus berlanjut. Situasi tersebut meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS.

“Perkembangan geopolitik tersebut membuat dolar AS menguat dan harga minyak mentah dunia ikut naik,” ujar Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, sentimen negatif terhadap rupiah juga datang dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.

Data nonfarm payrolls (NFP) AS pada Mei tercatat bertambah 172.000 tenaga kerja, jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 88.000 tenaga kerja.

Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.

Bahkan, pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.

“Dengan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, kemungkinan kebijakan suku bunga rendah dalam waktu dekat menjadi semakin kecil,” kata Ibrahim.

Ia menambahkan, tingginya inflasi global juga membuat banyak bank sentral cenderung mempertahankan sikap moneter yang ketat, termasuk The Fed.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.

Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia dan memperbesar risiko pelebaran defisit fiskal.

Menurut Ibrahim, sejumlah indikator domestik juga perlu dicermati, termasuk tren inflasi yang mulai meningkat serta surplus neraca perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda penyempitan.

“Kemarin data inflasi Indonesia kembali meningkat. Pada Juni ini inflasi juga berpotensi naik. Neraca perdagangan masih surplus, tetapi surplusnya semakin menyempit,” jelasnya.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan volatil dengan kecenderungan melemah.

“Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup di kisaran Rp 18.030 hingga Rp 18.100 per dolar AS,” pungkasnya.

Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah 0,39% Bersandar di Level Rp18.107 Per Dolar AS

Pada awal perdagangan Senin (8/6/2026) nilai tukar rupiah langsung tertekan dan tembus ke atas Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.

Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 18.107 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,39% dibanding penutupan Jumat (5/6/2026) yang berada di Rp 18.036 per dolar AS.

Bahkan pada pukul 09.01 WIB, rupiah sempat bertengger di posisi Rp 18.117 per dolar AS dan jadi rekor terburuk rupiah sepanjang masa.

Hingga pukul 09.01 WIB, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,92%.

Selanjutnya ada dolar Taiwan yang tertekan 0,44% dan peso Filipina terkoreksi 0,33%.

Disusul, baht Thailand yang turun 0,17%. Berikutnya, yen Jepang tergelincir 0,02% dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,003%.

Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,58%. Lalu ada yuan China yang terkeren 0,07%.
Kemudian, dolar Singapura menguat tipis 0,01% terhadap the greenback di pagi ini.

Analis Pasar: Nilai tukar rupiah dalam Tren Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sedang dalam tren melemah diproyeksi memberi tekanan tambahan bagi emiten sektor konsumer.
Pergerakan nilai tukar hingga daya beli diproyeksi menjadi penentu kinerja sektor konsumer ke depan.

Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas mengatakan, pelemahan rupiah pada dasarnya memberikan dampak yang berbeda pada masing-masing subsektor konsumer.

Dampak terbesar dirasakan oleh emiten yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor seperti makanan dan minuman, susu, farmasi, personal care, hingga produk berbasis petrokimia.

“Kenaikan biaya bahan baku impor akan menekan margin laba apabila perusahaan tidak mampu melakukan penyesuaian harga jual secara cepat,” ujar Thoriq.

Namun demikian, Thoriq melihat dampak pelemahan rupiah terhadap sektor konsumer pada 2026 relatif lebih terkendali dibandingkan periode tahun 2022 – 2024 karena inflasi domestik masih berada dalam rentang target Bank Indonesia BI) dan daya beli masyarakat tetap ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9% – 5,7% dengan inflasi yang tetap terkendali.

Perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) besar seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) umumnya memiliki kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen sehingga tekanan margin akibat pelemahan rupiah cenderung bersifat sementara dibandingkan emiten skala kecil.

Selain itu, harga beberapa komoditas bahan baku seperti gula dan kakao yang relatif lebih moderat pada 2026 turut membantu menjaga profitabilitas sektor.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari mengatakan, pelemahan rupiah masih jadi tekanan bagi sektor konsumer karena sebagian bahan baku dan kemasan berbasis dolar AS.

Dampaknya berupa kenaikan biaya produksi dan tekanan margin apabila perusahaan tidak dapat meneruskan kenaikan biaya ke harga jual.

Setiap pelemahan rupiah berpotensi menekan laba emiten konsumer, meski dampaknya berbeda pada tiap perusahaan.

Emiten MYOR dan ICBP relatif lebih defensif karena memiliki eksposur ekspor, sementara PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) lebih rentan karena pendapatannya lebih bergantung pada pasar domestik.

“Prospek sektor konsumer masih positif dgn tanda-tanda pemulihan yang semakin terlihat,” ucap Brigita.

Menurut Brigita, ada beberapa pendorong utamanya, seperti dukungan belanja pemerintah dan program makan bergizi gratis (MBG), serta basis perbandingan yang lebih rendah pada kuartal II – kuartal III 2026.

Selain itu, valuasi sektor masih relatif menarik. Tercatat pada kuartal I – 2026, penjualan consumer staples tumbuh 5,9% yoy dan laba bersih agregat naik 1,3% yoy, mengindikasikan awal pemulihan konsumsi domestik.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo melihat prospek sektor konsumer masih positif dalam jangka menengah, didukung oleh pertumbuhan konsumsi domestik, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta stabilnya inflasi.

Selain itu, karakter sektor konsumer yang defensif membuat permintaannya relatif lebih stabil dibanding sektor siklikal.

Pertama Kali, Begini Pergerakannya di Pekan Ini Beberapa sentimen utama yang perlu diperhatikan adalah pergerakan nilai tukar rupiah, tren harga bahan baku global, daya beli masyarakat, inflasi, serta perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

“Investor juga perlu mencermati strategi pricing dari masing-masing emiten dan kemampuan mereka menjaga volume penjualan di tengah potensi kenaikan harga produk,” terang Azis.

Brigita juga melihat risiko negatif yang perlu dicermati antara lain pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

Selain itu, tingginya harga minyak mentah Brent, risiko kenaikan harga crude palm oil (CPO), potensi penyesuaian harga bahan bakar subsidi (BBM) subsidi yang dapat menekan daya beli, dan kemampuan emiten melakukan pass-through kenaikan biaya ke harga jual juga perlu diperhatikan.

Alhasil, Brigita merekomendasikan beli saham MYOR dengan target harga Rp 2.700 per saham.

Sedangkan Azis merekomendasikan wait and see atau buy on weakness saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dengan syarat adanya rebound dengan target harga Rp 4.540 – Rp 4.550 dan suppport di level Rp 4.240 – Rp 4.200 per saham.

Sementara Thoriq merekomendasikan buy on weakness saham CMRY dengan target harga Rp 4.600 per saham dengan stoploss di Rp 4.050 per saham.

Serta trading buy saham ICBP dengan target harga Rp 6.900 per saham dan stoploss di Rp 6.200 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *