Topikseru.com, New York – Pada perdagangan Jumat (6/12/2026) Harga Emas spot kembali melemah pada Jumat dan berada di jalur untuk mencatat kerugian mingguan yang cukup besar.
Kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang masih tinggi serta kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menjadi faktor utama yang menekan Logam Mulia tersebut.
Di mana harga emas spot turun 0,8% menjadi US$ 4.182,47 per troy ounce. Secara mingguan, emas diperkirakan merosot sekitar 3,4%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru naik 2,2% ke level US$ 4.203,60 per ons troi.
Sehari sebelumnya, emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan sebelum akhirnya ditutup menguat di US$ 4.219,69 per ons troi.
Penguatan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran dan mengisyaratkan adanya peluang kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Analis Marex, Edward Meir, mengatakan pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik.
“Harga emas saat ini sepenuhnya digerakkan oleh berita-berita geopolitik. Pasar juga akan mencermati setiap sinyal dari The Fed terkait kemungkinan kenaikan suku bunga. Jika arah kebijakan itu semakin jelas, emas berpotensi turun menembus level US$ 4.000 per ounce,” ujarnya.
Sejak konflik Iran pecah, harga emas tercatat telah kehilangan sekitar 20% nilainya.
Pasar khawatir lonjakan biaya energi akibat ketegangan di Timur Tengah dapat mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield). Data terbaru menunjukkan harga produsen di Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Mei.
Kenaikan ini menghasilkan pertumbuhan tahunan terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir, terutama karena lonjakan harga produk energi akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan alat pemantau suku bunga FedWatch milik CME Group, para pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Di sisi geopolitik, Trump menyatakan Amerika Serikat dan Iran berpotensi menandatangani kesepakatan damai secepatnya akhir pekan ini yang akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, pihak Iran membantah telah mengambil keputusan final terkait kesepakatan tersebut. Sentimen negatif juga datang dari pasar investasi.
Kepemilikan emas pada ETF berbasis emas terbesar di dunia, SPDR Gold Trust yang berbasis di New York, turun sekitar 0,3% menjadi 923,89 ton metrik pada Rabu.
Sementara itu, bank investasi ANZ memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$ 400, dari sebelumnya menjadi US$ 5.200 per ounce, sebagai respons terhadap tingginya volatilitas harga dalam beberapa pekan terakhir.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak turun 0,9% menjadi US$ 66,78 per ounce, sedangkan platinum naik tipis 0,4%ke US$ 1.725,99 per ounce.
Keduanya diperkirakan tetap mencatat kerugian mingguan. Di sisi lain, palladium menguat 1,7% menjadi US$ 1.290,15 per ounce dan telah membukukan kenaikan sekitar 5% sepanjang pekan ini.
Pergerakan pasar logam mulia dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga The Fed.












