Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (22/6/2026) siang. Pukul 12.13 WIB kurs rupiah terus melemah berada di level Rp17.827 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,13% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.804 per dolar AS.
Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS siang ini. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam yakni 0,47%.
Disusul won Korea yang melemah 0,43%, ringgit Malaysia melemah 0,37%, yen Jepang melemah 0,23%, yuan China melemah 0,15%.
Kurs Rupiah melemah 0,13%, dolar Singapura melemah 0,11%, rupee India melemah 0,10%, dolar Taiwan melemah 0,10% dan dolar Hong Kong melemah 0,03% terhadap dolar AS.
Sedangkan baht Thailand menguat 0,12% terhadap dolar AS siang ini.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 100,90, naik dari akhir pekan lalu yang ada di 100,84.
Pengamat Mata Uang: Kurs Rupiah akan Bergerak Melemah di Rentang Rp17.500 hingga Rp18.000 per Dolar AS
Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), kurs rupiah spot ditutup melemah 0,06% ke level Rp 17.804 per dolar Amerika Serikat (AS).
Diketahui dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,31% dari posisi Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026) lalu.
Sedangkan kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia justru stagnan di angka Rp 17.826 per dolar AS pada Jumat (19/6/2026).
Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor masih menguat 0,53% dari posisi Rp 17.921 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Rupiah diproyeksi masih akan tertekan pada pekan depan, meskipun optimisme pasar sempat meningkat setelah Indonesia berhasil mempertahankan status sebagai negara berkembang (Emerging Market) dalam tinjauan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi berpandangan, sentimen domestik yang mempengaruhi pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir berasal dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Lembaga itu menyatakan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.
Keputusan ini diambil setelah MSCI kembali menyuarakan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham tanah air.
Penurunan peringkat ini mencerminkan minimnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar.
“Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat,” ujar Ibrahim.
Selain itu, MSCI juga menyoroti keterbatasan pasar valuta asing Indonesia. Tidak adanya pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien serta berbagai pembatasan di pasar valuta asing domestik dinilai masih menjadi hambatan bagi investor asing.
Namun, MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau Emerging Market, karena Indonesia mendapat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.
“Hal itu menjadi salah satu faktor MSCI masih mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat memberikan sinyal penurunan kelas sehingga membuat pasar kembali optimistis arus modal asing akan kembali membanjiri pasar keuangan Indonesia,” lanjut Ibrahim.
Dari sisi eksternal, perhatian pasar masih tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Ibrahim menyoroti bahwa sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun ini.
Menurutnya, sinyal tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.
Meski Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir, pernyataan pejabat The Fed dinilai bernada hawkish dan mendorong penguatan dolar AS.
Kondisi tersebut turut mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan membawa indeks dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Alhasil, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih menghadapi tekanan.
Dengan berbagai faktor di atas, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak cenderung melemah dalam rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang pekan depan.












