Ekonomi dan Bisnis

Harga Emas Spot Naik 0,8% Bertengger di Level US$ 4.194,99 per Ons

×

Harga Emas Spot Naik 0,8% Bertengger di Level US$ 4.194,99 per Ons

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Spot
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.194,99 per ons pada pukul 06.08 GMT. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat jatuh ke level terendah sejak 11 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru turun 0,8% menjadi US$ 4.213,10 per ons.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (22/6/2026) harga emas kembali menguat setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan.

Penguatan ini terjadi di tengah perkembangan positif dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut menekan harga minyak dunia.

Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.194,99 per ons pada pukul 06.08 GMT.

Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat jatuh ke level terendah sejak 11 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru turun 0,8% menjadi US$ 4.213,10 per ons.

Pergerakan pasar dipengaruhi hasil perundingan tingkat tinggi antara AS dan Iran yang berlangsung di Swiss.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan kemajuan yang baik.

Dalam pernyataan bersama, Qatar dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator mengungkapkan bahwa kedua negara telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Analis Marex Edward Meir menilai situasi telah berubah signifikan dibanding beberapa jam sebelumnya ketika kedua pihak masih terlibat perdebatan.

“Situasi saat ini sangat berbeda dibanding beberapa jam lalu. Kini terlihat ada kemajuan dalam pembicaraan,” ujar Meir.

Menurutnya, pasar masih akan bergerak mengikuti perkembangan geopolitik dalam beberapa waktu ke depan.

Namun, karena situasinya masih sangat dinamis, investor cenderung memilih menunggu kejelasan lebih lanjut. Kemajuan negosiasi tersebut langsung menekan harga minyak dunia.

Kontrak minyak Brent turun lebih dari 1% setelah pengumuman hasil pembicaraan.
Penurunan harga minyak menjadi faktor yang diperhatikan pasar karena dapat meredakan kekhawatiran inflasi.

Sebaliknya, harga minyak yang tinggi biasanya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.

Kondisi tersebut umumnya kurang menguntungkan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Di sisi lain, prospek emas masih dibayangi sikap hawkish bank sentral AS. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pekan lalu kembali menekankan risiko inflasi tanpa memberikan sinyal yang lebih lunak terkait arah kebijakan moneter.

Pernyataan tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Dari 19 pejabat The Fed, sembilan di antaranya memperkirakan suku bunga acuan masih perlu dinaikkan tahun ini.

Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember melonjak menjadi 89%, dibandingkan 61% sebelum pertemuan terakhir The Fed.

Kondisi ini menciptakan tarik-menarik sentimen di pasar emas. Di satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik mendukung pemulihan harga.

Namun di sisi lain, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS berpotensi membatasi ruang penguatan emas dalam jangka pendek.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Harga perak spot melonjak 2,4% menjadi US$ 66,48 per ons, platinum naik 0,7% ke US$ 1.675,91 per ons, dan paladium menguat 1,8% menjadi US$ 1.280,45 per ons.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *