Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (26/6), harga emas spot pada perdagangan pagi kembali turun ke bawah level US$ 4.000 per troi ons.
Sebelum memantul ke US$ 4.010,54 per troi ons pada pukul 13.17 WIB. Harganya masih turun 0,40% dibandingkan penutupan kemarin.
Harga emas hari ini di pasar global kembali turun dan berada pada jalur penurunan mingguan yang keempat.
Aksi jual yang dipimpin sektor teknologi di pasar saham Asia menambah kekhawatiran seputar prospek kenaikan suku bunga.
Penurunan harga emas hari ini menghapus kenaikan moderat pada sesi sebelumnya, sehingga logam mulia ini berada pada jalur koreksi mingguan sebesar 3,50%.
Penurunan di pasar saham Asia mendorong sebagian investor menjual emas guna menutupi kerugian pada kelas aset lain dalam portofolio mereka.
Charu Chanana, Kepala strategi investasi di Saxo Markets, mengatakan, ketika saham-saham yang ramai diperdagangkan berada di bawah tekanan, investor sering kali menjual apa yang bsia mereka jual, bukan hanya apa yang mereka inginkan.
“Emas telah menjadi aset investasi yang menguntungkan selama tahun lalu, sehingga dapat menjadi sumber dana tunai ketika portofolio perlu mengurangi risiko,” katanya mengutip Bloomberg.
Penurunan harga emas selama beberapa bulan terakhir menandai pembalikan tajam setelah kenaikan harga selama beberapa tahun.
Pada 2025, logam mulia mencatatkan tahun terbaiknya dalam empat dekade. Lonjakan harga didukung permintaan yang kuat terhadap aset safe haven karena risiko geopolitik.
Dan perdagangan pelemahan aset (debasement trade) di mana investor lebih memilih aset alternatif di tengah meningkatnya utang fiskal negara-negara maju.
Data yang dirilis Kamis, menunjukkan inflasi AS lebih landai dari perkiraan. Ini sedikit mengurangi tekanan pada emas batangan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun setelah indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, naik 0,4% pada Mei.
Pasar obligasi berekspektasi prospek kenaikan suku bunga tahun ini sedikit lebih rendah. Suku bunga yang lebih tinggi menjadi hambatan bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Menurut Chanana, angka inflasi memberi alasan bagi pasar untuk bernafas, tetapi bukan alasan untuk sepenuhnya bersantai.
“Harga emas pada dasarnya sudah memperhitungkan risiko pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut,”
“Tetapi belum mampu menyerap rezim imbal hasil riil yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama secara berkelanjutan,” ujar David Chao, Ahli strategi pasar di Invesco, dilansir Bloomberg, hari ini.
Terlepas dari nada agresif pada pertemuan Fed terakhir, Chao mengatakan bahwa ia tidak berpikir Fed akan menaikkan suku bunga.












