Ekonomi dan Bisnis

Kurs Rupiah Menguat 0,40% Berdiri Tegar di Level Rp 17.852 per Dolar AS

×

Kurs Rupiah Menguat 0,40% Berdiri Tegar di Level Rp 17.852 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Kurs Rupiah
kurs rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di mana penguatan ini sekaligus menjadi kenaikan harian rupiah selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (29/6/2026) kurs rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di mana penguatan ini sekaligus menjadi kenaikan harian rupiah selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah ditutup di level Rp 17.852 per dolar AS, menguat 0,40% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp 17.922 per dolar AS di pasar spot .

Di pasar global, indeks dolar AS masih bertahan di kisaran 101,4. Greenback tetap mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik.

Serta meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, pergerakan mata uang negara berkembang di Asia cenderung stabil karena harga minyak dunia belum kembali melonjak tajam.

“Stabilnya harga minyak mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi seperti India, Thailand, dan Filipina. Reaksi pasar yang relatif tenang juga mencerminkan keyakinan investor bahwa konflik Timur Tengah akan tetap terkendali sehingga perhatian kembali tertuju pada fundamental domestik,” ujar Lukman dilansir dari Reuters.

Di kawasan Asia, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik lebih dari 0,6% ke level 4,063 per dolar AS, yang merupakan posisi terkuat dalam hampir dua pekan.

Sementara itu, peso Filipina dan baht Thailand bergerak relatif stabil. Sebaliknya, won Korea Selatan melemah 0,6%, sedangkan dolar Taiwan terkoreksi tipis sekitar 0,2% terhadap dolar AS.

Kurs Rupiah Menguat 0,33% Berdiri di Level Rp17.863 per Dolar AS Siang Ini

Pada perdagangan Senin (29/6/2026) siang. Pukul 12.13 WIB kurs rupiah terus menguat berada di level Rp 17.863 per dolar Amerika Serikat (AS).

Di mana kurs rupiah menguat 0,33% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.922 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS siang ini. Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar yakni 0,58%.

Disusul rupiah yang menguat 0,33%, peso Filipina menguat 0,11%, baht Thailand menguat 0,11%, rupee India menguat 0,02% dan yuan China yang menguat 0,02% terhadap dolar AS.

Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS siang ini. Won Korea melemah 0,63%, dolar Taiwan melemah 0,16%, yen Jepang melemah 0,03%.

Dolar Hong Kong melemah 0,01% dan dolar Singapura yang melemah 0,008% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 101,36, naik dari akhir pekan lalu yang ada di 101,35.

Analis Pasar: Tekanan Terhadap Kurs Rupiah Berpotensi Berlanjut di Perdagangan Senin (29/6/2026)

Pada perdagangan akhir pekan Jumat (26/6) kurs rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada awal pekan. Meski sempat ditutup menguat

Sentimen eksternal berupa memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), kurs rupiah ditutup di level Rp 17.922 per dolar Amerika Serikat (AS).

Hal ini membuat kurs rupiah menguat 0,12% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.943 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah hari ini di pasar spot melemah 0,66% dari Rp 17.906 pada Jumat (19/6/2026) lalu.

Di sisi lain, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,11% secara harian ke Rp 17.962 per dolar AS dari hari sebelumnya Rp 17.942 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah Jisdor melemah 0,76% dibanding Rp 17.826 pada pekan lalu.

Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan, sepanjang pekan lalu penguatan dolar AS didorong oleh belum tuntasnya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS.

Menurutnya, sentimen tersebut mendorong indeks dolar AS (DXY) menembus level 101,74, yang merupakan level tertinggi sejak 13 Mei 2025. Dampaknya, rupiah bersama sejumlah mata uang lainnya berada dalam tekanan.

“USD/IDR juga terlihat dalam tekanan sepanjang pekan kemarin,” ujar Ariston.
Ariston memproyeksi tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan Senin (29/6).

Pasalnya, pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah, termasuk kabar serangan AS ke Iran dan serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Selain itu, inflasi AS yang masih tinggi dinilai membuka peluang bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan tekanan harga.

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump disebut memberikan dukungan terhadap berbagai langkah yang akan ditempuh Kevin Warsh, kandidat Gubernur The Fed pilihannya.

Dari domestik, Ariston melihat sejumlah isu juga masih membebani pergerakan rupiah.

Mulai dari pengendalian anggaran untuk berbagai program pemerintah, implementasi kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) melalui satu pintu, hingga perkembangan terkait MSCI yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen pergerakan rupiah datang dari respons positif pasar terhadap pemerintah.

Yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal.

Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun.

Pemerintah pun mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp 50 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara.

Menurut Ibrahim, pemotongan ini dilakukan untuk merespons risiko ekonomi global, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ariston memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada awal pekan depan, di rentang Rp 17.850 – Rp 18.000 per dolar AS pada Senin (29/6).

Sementara Ibrahim memproyeksi rupiah pada Senin akan bertengger di kisaran Rp 17.920 – Rp 17.960 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *