Ekonomi dan Bisnis

IHSG Melemah 57,18 Poin Terseret ke Level 5.838,94 di Perdagangan Sesi I

×

IHSG Melemah 57,18 Poin Terseret ke Level 5.838,94 di Perdagangan Sesi I

Sebarkan artikel ini
IHSG Melemah
Pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Senin (29/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 57,18 poin atau 0,97% ke 5.838,94 di pasar spot.

Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Senin (29/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 57,18 poin atau 0,97% ke 5.838,94 di pasar spot.

Ada Sebanyak 244 saham naik, 378 saham turun dan 183 saham stagnan. Hanya satu indeks sektoral yang selamat ke zona hijau, yakni sektor kesehatan yang naik 0,19%.

Sedangkan 10 indeks sektoral lainnya masuk zona merah. Indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor keuangan yang turun 1,58%, sektor infrastruktur turun 1,23% dan sektor barang baku yang turun 0,87%.

Total volume perdagangan saham di bursa hingga sesi I hari ini mencapai 7,51 miliar saham, dengan total nilai Rp 4,02 triliun.

Top gainers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:
1. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) (2,31%)
2. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) (2,27%)
3. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) (1,11%)

Top losers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:
1. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) (-6,45%)
2. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) (-4,61%)
3. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) (-3,42%)

Analis Pasar: Selama Sepekan, IHSH Sudah Longsor 4,55%

Selama sepekan, IHSH sudah longsor 4,55%. Koreksi IHSG tersebut dibarengi outflow investor asing sekitar Rp 6 triliun sepanjang pekan ini berjalan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,7% ke level 5.896,13 Pada Jumat (26/6/2026).

Menanggapi hal tersebut analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, salah satu sentimen yang cukup menekan IHSG adalah pengumuman dari MSCI yang menetapkan Indonesia berada di emerging market, namun dengan beberapa catatan yang perlu diperhatikan regulator pasar modal nasional.

Selain itu, pasar juga diwarnai oleh sentimen adanya rencana pemerintah memangkas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya menjaga defisit fiskal.

Plus tren pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah mencapai level Rp 17.919 per dolar Amerika Serikat (AS).

“Pelemahan harga komoditas dunia seperti minyak mentah yang selama sepekan turun sekitar 8% ke level US$ 69 per barel dan emas yang turun ke level US$ 4.033 per ons troi juga berdampak ke arah IHSG,” kata Herditya.

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, sentimen negatif bagi IHSG juga berasal dari eksternal, terutama saat mendekati akhir pekan.

Salah satunya adalah pelemahan indeks bursa Asia dan Eropa akibat tekanan jual saham sektor teknologi di tengah kekhawatiran investor terhadap kenaikan biaya infrastruktur Artificial Intelligence (AI).

Tekanan pada saham sektor teknologi tersebut memicu koreksi pada harga komoditas logam yang kemudian mendorong koreksi saham terkait. Secara teknikal, Alrich menyebut, IHSG berada di bawah level MA5, MA10, dan MA20.

Histogram positif MACD tampaknmulai melemah, sedangkan indikator Stochastic RSI memasuki area pivot. Dari situ, ia memperkirakan IHSG berpeluang menguji level 5.700–5.800 pada pekan depan.

“Investor akan menantikan sejumlah data ekonomi dari domestik, yaitu indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, dan inflasi,” kata Alrich.

Sebaliknya, Herditya memperkirakan IHSG masih rawan terkoreksi sepanjang pekan depan dengan support di level 5.736 serta resistance di level 6.112.

Pada pekan depan, para investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan juga keputusan The Fed pada masa mendatang yang diperkirakan masih cenderung hawkish.

Selain itu, rilis data inflasi dan PMI Indonesia yang diperkirakan akan cenderung landai serta pergerakan nilai tukar rupiah juga akan mempengaruhi pergerakan IHSG selama pekan depan.

Herditya menyarankan investor untuk mencermati saham BULL dengan kisaran harga di level Rp 364–Rp 378 per saham, JSMR sekitar Rp 3.170–Rp 3.410 per saham, serta WIIM sekitar Rp 1.725–Rp 1.755 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *