Ekonomi dan Bisnis

Analis Pasar: Pergerakan IHSG akan Dipengaruhi Arus Dana Asing dan Nilai Tukar Rupiah

×

Analis Pasar: Pergerakan IHSG akan Dipengaruhi Arus Dana Asing dan Nilai Tukar Rupiah

Sebarkan artikel ini
IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG ambruk 1,28% atau terpangkas 75,34 poin ke level 5.820,79 pada akhir perdagangan.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (29/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG ambruk 1,28% atau terpangkas 75,34 poin ke level 5.820,79 pada akhir perdagangan.

Menanggapi hal tersebut, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, ada tiga sentimen utama yang memengaruhi pergerakan IHSG hari ini.

Pertama, investor masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, yang saat ini sedang memasuki masa gencatan senjata dengan pergerakan harga minyak mentah yang masih berada di kisaran US$70 per barel.

Kedua, investor juga masih mencermati rilis data-data makro AS pada pekan ini serta sinyal kebijakan suku bunga The Fed.

“Terakhir, diperkirakan masih terjadi foreign outflow pada IHSG dengan kecenderungan nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp 17.880 per dolar AS,” ujarnya.

Sementara, Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyampaikan, IHSG ditutup melemah di tengah rendahnya aktivitas perdagangan, yang mencerminkan sikap wait and see investor.

Pelemahan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari meningkatnya kehati-hatian menjelang rilis data ekonomi penting global.

Seperti data ketenagakerjaan AS dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, hingga kekhawatiran terhadap perkembangan geopolitik.

Dari domestik, investor juga menantikan rilis data manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan Indonesia yang akan menjadi indikator kekuatan fundamental ekonomi.

“Selain itu, rencana IPO sejumlah emiten pada awal Juli diperkirakan turut menyerap likuiditas pasar dalam jangka pendek sehingga membatasi ruang penguatan IHSG,” tuturnya.

Herditya memperkirakan, IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan level support di 5.800 dan resistance di 5.837 pada perdagangan Selasa (30/6/2026).
Pergerakan IHSG hari ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh arus dana asing dan nilai tukar rupiah.

“Di sisi lain, investor juga masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah serta menanti rilis data inflasi Indonesia pada hari Rabu,” paparnya.

Herditya pun menyarankan investor untuk mencermati saham IMPC dengan target harga Rp 1.735-Rp 2.200 per saham, INDY Rp 2.290-Rp 2.690 per saham, dan SUPA Rp 610-Rp 685 per saham.

Reza memperkirakan, IHSG pada perdagangan besok masih bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada kisaran support 5.730 dan resistance 6.000.

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren lower high sehingga ruang rebound masih terbatas selama belum mampu menembus area resistance tersebut.

Sentimen utama yang akan dicermati pasar adalah rilis S&P Global Manufacturing PMI Indonesia, inflasi, dan neraca perdagangan.

“Apabila data-data tersebut lebih baik dari ekspektasi, terutama inflasi yang tetap terkendali dan surplus perdagangan yang kuat, maka berpotensi menjadi katalis positif bagi IHSG melalui penguatan rupiah dan meningkatnya kepercayaan investor,” katanya.

Reza merekomendasikan beli untuk HMSP, DSSA, dan UNVR dengan target harga masing-masing Rp 675-Rp 695 per saham, Rp 840-Rp 860 per saham, dan Rp 1.810-Rp 1.855 per saham.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *