BeritaNasional

Menu MBG Ramadan Diprotes, Orang Tua Datangi SPPG Bekasi Barat, Sekolah Keluhkan Kualitas Makanan

×

Menu MBG Ramadan Diprotes, Orang Tua Datangi SPPG Bekasi Barat, Sekolah Keluhkan Kualitas Makanan

Sebarkan artikel ini
Orang tua siswa memprotes menu MBG Ramadan di kantor SPPG Bekasi Barat
Sejumlah orang tua siswa mendatangi kantor SPPG Bekasi Barat untuk memprotes menu MBG Ramadan yang dibagikan kepada anak-anak mereka. (TikTok/@atindiskandar)

Ringkasan Berita
  • Menu MBG Ramadan di Bekasi Barat diprotes orang tua siswa. Sejumlah emak-emak mendatangi kantor SPPG karena menilai makanan yang dibagikan tidak sesuai harapan
  • Beberapa sekolah juga mengeluhkan kualitas menu MBG. Bahkan muncul temuan roti berjamur sebelum sempat dibagikan kepada siswa penerima manfaat.
  • Program MBG tetap berjalan selama Ramadan dengan menu makanan kering untuk berbuka puasa. Hingga kini, pihak SPPG Bekasi Barat belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan yang viral.

Topikseru.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan selama bulan Ramadan menuai sorotan. Sejumlah orang tua siswa di Bekasi Barat mendatangi kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat setelah mengeluhkan menu makanan yang dibagikan kepada anak-anak mereka.

Aksi tersebut viral di media sosial dan memicu perdebatan publik terkait kualitas serta standar menu MBG selama Ramadan.

Orang Tua Datangi SPPG Bekasi Barat

Sebuah video yang beredar luas memperlihatkan sejumlah ibu-ibu mendatangi kantor SPPG Bekasi Barat. Mereka menyampaikan protes atas menu MBG yang dinilai tidak layak dan tidak sesuai harapan.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @liputanwargacibitung pada Rabu, 25 Februari 2026, terdengar seorang perekam menyuarakan kekecewaannya.

“Nih ya MBG di Bekasi Barat. Tiap hari MBG-nya nggak pernah bener, begini mulu,” ucapnya dalam rekaman tersebut.

Video itu juga memperlihatkan beberapa jenis makanan yang dibagikan kepada siswa, antara lain roti manis, pisang, serta satu jenis makanan yang dibungkus plastik kecil.

Para orang tua mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan, namun merasa tidak mendapatkan respons memadai dari pihak pengelola.

“Itu emak-emak banyak yang komplain, pengelolanya nggak ada. Kita didiemin mulu nih kalau komplain. Nggak bener ini soalnya tiap hari,” lanjut suara dalam video tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari SPPG Bekasi Barat terkait kedatangan para orang tua maupun keluhan yang disampaikan.

Menu MBG Ramadan Berubah Jadi Makanan Kering

Sebagaimana diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya memastikan bahwa program MBG tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan penyesuaian menu.

Karena sebagian besar penerima manfaat menjalankan ibadah puasa, menu yang dibagikan diubah menjadi makanan kering atau makanan siap konsumsi yang dapat disimpan dan dimakan saat berbuka puasa.

Penyesuaian ini disebut sebagai bentuk fleksibilitas agar program tetap berjalan tanpa mengganggu ibadah puasa siswa.

Namun, di lapangan, perubahan menu tersebut justru memunculkan keluhan dari sejumlah orang tua dan pihak sekolah. Mereka menilai variasi makanan terbatas dan kualitasnya belum konsisten.

Beberapa unggahan di media sosial menunjukkan paket makanan berisi roti, susu kemasan, kacang, atau buah. Secara komposisi, menu tersebut dinilai praktis, tetapi sebagian orang tua mempertanyakan kecukupan gizi serta standar kebersihannya.

Baca Juga  Guru Honorer Menangis Bandingkan Gaji dengan Sopir MBG, Videonya Viral

Sekolah Keluhkan Kualitas, Ada Temuan Roti Berjamur

Keluhan tak hanya datang dari orang tua. Sejumlah guru juga mengunggah dokumentasi menu MBG yang diterima sekolah mereka.

Bahkan, dalam beberapa kasus, pihak sekolah disebut berani menolak makanan yang dikirim karena ditemukan roti dalam kondisi berjamur sebelum sempat dibagikan kepada siswa.

Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran soal kontrol kualitas dan distribusi makanan. Makanan yang tidak layak konsumsi berpotensi membahayakan kesehatan siswa apabila tidak terdeteksi lebih awal.

Seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengaku pihak sekolah harus melakukan pengecekan ulang sebelum makanan dibagikan.

“Kami tentu tidak mau ambil risiko. Kalau memang tidak layak, ya harus ditolak,” ujarnya.

Meski demikian, belum ada keterangan resmi mengenai berapa banyak sekolah yang mengalami kejadian serupa maupun langkah evaluasi yang telah dilakukan pihak terkait.

Perlu Evaluasi dan Transparansi

Program MBG merupakan salah satu inisiatif pemenuhan gizi bagi anak sekolah. Karena menyasar kelompok rentan, pelaksanaan program ini menuntut pengawasan ketat, terutama dalam hal kualitas bahan makanan, proses produksi, hingga distribusi.

Pengamat kebijakan publik menilai, dalam situasi seperti ini, transparansi menjadi kunci untuk meredam polemik.

Pihak pengelola perlu menjelaskan standar menu Ramadan, nilai gizi per porsi, serta mekanisme kontrol kualitas yang diterapkan di dapur penyedia makanan.

Jika memang terjadi kelalaian dalam distribusi atau penyimpanan, evaluasi menyeluruh perlu segera dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Respons Publik dan Harapan Perbaikan

Viralnya video protes orang tua di Bekasi Barat menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap program MBG. Di satu sisi, hal ini menjadi indikator bahwa publik peduli terhadap kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka.

Di sisi lain, polemik ini menjadi ujian bagi pengelola program untuk memperkuat sistem pengawasan dan komunikasi publik.

Sebagian orang tua berharap ada dialog terbuka antara pihak SPPG, sekolah, dan wali murid agar persoalan tidak berlarut-larut.

“Kami cuma ingin yang terbaik untuk anak-anak. Kalau memang ini program bagus, ya kualitasnya harus dijaga,” ujar salah satu orang tua dalam percakapan terpisah.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari SPPG Bekasi Barat maupun klarifikasi dari Badan Gizi Nasional terkait keluhan yang viral tersebut.

Publik kini menunggu langkah konkret evaluasi serta perbaikan kualitas menu MBG selama Ramadan, agar tujuan utama program—memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah—dapat tercapai secara optimal tanpa menimbulkan polemik baru.