Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Melemah Didorong Meningkatnya Optimisme Konflik Timur Tengah

×

Harga Minyak Mentah Melemah Didorong Meningkatnya Optimisme Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah
harga minyak mentah melemah seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik Timur Tengah berpotensi mereda melalui jalur diplomasi di perdagangan awal Jumat (17/4/2026)

Topikseru.com, New Yoork – Pada perdagangan awal Jumat (17/4/2026) harga minyak mentah melemah seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik Timur Tengah berpotensi mereda melalui jalur diplomasi.

Penurunan harga minyak mentah ini terjadi setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah Melemah di Perdagangan Kamis (16/4/2026): Brent Turun 44 Sen dan WTI Melemah 70 Sen

Serta pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menyebut kemungkinan pertemuan antara AS dan Iran pada akhir pekan ini.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent crude turun US$ 1,34 atau 1,35% menjadi US$ 98,05 per barel pada pukul 00.21 GMT.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah Turun Didorong Ekspektasi Pembicaraan AS-Iran Bakal Berlanjut

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 1,65 atau 1,74% ke level US$ 93,40 per barel.

Meski terkoreksi, harga minyak mentah masih bertahan di kisaran US$ 90 per barel setelah sebelumnya mencatat reli tajam hingga 50% pada Maret akibat ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.

Dalam perkembangan terbaru, Trump menyebut Iran telah menyatakan tidak akan mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun, yang menjadi salah satu titik penting dalam negosiasi damai.

“Kita akan lihat apa yang terjadi, tetapi saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih.

Sebelumnya, konflik berkepanjangan di kawasan telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz selama sekitar tujuh minggu.

Yang menurut estimasi analis mengganggu pasokan hingga sekitar 13 juta barel per hari atau setara hampir seperlima pasokan minyak global.

Penutupan jalur strategis tersebut menjadi faktor utama lonjakan harga energi dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, harapan meredanya konflik kini mulai menekan kembali premi risiko di pasar minyak, seiring meningkatnya ekspektasi pemulihan pasokan global jika kesepakatan damai benar-benar tercapai.

Di sisi lain, negosiator AS dan Iran disebut telah menurunkan target dari kesepakatan damai komprehensif menjadi kesepakatan sementara untuk mencegah kembalinya konflik.

Meski demikian, analis menilai pasar masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dalam waktu dekat, terutama terkait jalur distribusi minyak global.