Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Melemah Efek Blokade AS di Selat Hormuz: Brent Turun 76 Sen dan WTI Terkoreksi US$1,63

×

Harga Minyak Mentah Melemah Efek Blokade AS di Selat Hormuz: Brent Turun 76 Sen dan WTI Terkoreksi US$1,63

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah
harga minyak mentah melemah seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Selasa (14/4/2026) harga minyak mentah melemah seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam Menembus Level US$100 Per Barel

Di mana sentimen positif muncul dari peluang pembicaraan untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 76 sen atau 0,8% menjadi US$98,57 per barel.

Baca Juga  Harga Minyak Mentah Bergerak Volatil Dipicu Meredanya Tensi geopolitik di Timur Tengah

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi US$1,63 atau 1,65% ke level US$97,45 per barel.

Penurunan harga minyak mentah ini terjadi setelah kenaikan tajam pada sesi sebelumnya, di mana Brent melonjak lebih dari 4% dan WTI hampir 3%.

Kenaikan tersebut dipicu oleh langkah militer AS yang memulai blokade terhadap pelabuhan Iran, yang turut mendorong harga minyak melonjak hingga 50% sepanjang bulan lalu—sebuah rekor historis.

Harapan Dialog Redakan Tekanan Pasokan

Pasar mulai optimistis terhadap kemungkinan penyelesaian konflik, meskipun pembicaraan damai di Islamabad mengalami kebuntuan. Sumber menyebutkan bahwa Washington dan Teheran masih membuka peluang dialog.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran menunjukkan minat untuk mencapai kesepakatan, meskipun ia menegaskan tidak akan menerima perjanjian yang memungkinkan Iran memiliki senjata nuklir.

Analis menilai bahwa kembalinya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor kunci untuk menstabilkan pasar energi global.

Commonwealth Bank of Australia memperkirakan pemulihan pasokan dapat terjadi dalam hitungan hari hingga pekan, namun pemulihan produksi secara penuh bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Dampak Blokade terhadap Pasokan Global

Militer AS memperluas blokade dari Selat Hormuz hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab. Data pelacakan kapal menunjukkan adanya kapal yang berbalik arah saat blokade dimulai.

Iran merespons dengan ancaman menargetkan pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dan gas global, sehingga gangguan di wilayah ini berdampak signifikan terhadap pasar energi dunia.

Analis dari ANZ memperkirakan sekitar 10 juta barel per hari pasokan minyak telah terhenti dari pasar akibat situasi ini. Jika blokade berlanjut, tambahan 3 hingga 4 juta barel per hari juga berpotensi terdampak.

Sikap Global dan Risiko Ekonomi

Sejumlah sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih tidak bergabung dalam blokade, dan menyerukan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.

Di sisi lain, lembaga global seperti International Monetary Fund, World Bank, dan International Energy Agency memperingatkan negara-negara agar tidak menimbun pasokan energi atau menerapkan pembatasan ekspor, di tengah guncangan pasar yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah.

Kepala IEA Fatih Birol menyatakan bahwa lembaganya siap mengambil tindakan jika diperlukan, meskipun pelepasan cadangan strategis belum dianggap mendesak saat ini.

Sementara itu, Organization of the Petroleum Exporting Countries memangkas proyeksi permintaan minyak global kuartal II sebesar 500.000 barel per hari dalam laporan bulanannya.

Prospek Harga Minyak

Analis pasar menilai bahwa meskipun risiko eskalasi masih ada, pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan stabilisasi. Kepala analis KCM Trade, Tim Waterer, menyebut sinyal potensi kesepakatan dari AS telah membantu meredakan tekanan harga.

Namun demikian, ketatnya keseimbangan pasokan dan permintaan dinilai cukup untuk menjaga harga minyak tetap tinggi dalam waktu dekat, bahkan tanpa skenario eskalasi terburuk.

Dengan situasi geopolitik yang masih dinamis, arah harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara AS dan Iran serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.