Scroll untuk baca artikel
Daerah

Tapanuli Tengah Terisolasi 4 Hari Akibat Banjir dan Longsor, 57 Titik Jalan Terputus

×

Tapanuli Tengah Terisolasi 4 Hari Akibat Banjir dan Longsor, 57 Titik Jalan Terputus

Sebarkan artikel ini
Banjir Tapanuli Tengah
Banjir dan 57 titik longsor membuat Tapanuli Tengah terisolasi selama empat hari.

Topikseru.com – Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, hingga Kamis (27/11/2025) masih terisolasi setelah banjir besar dan puluhan titik longsor memutus akses darat serta melumpuhkan jaringan listrik dan telekomunikasi. Daerah tersebut telah empat hari terputus sejak bencana melanda pada Rabu (26/11/2025).

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menyebut ada 57 titik longsor yang menimbun ruas jalan utama Tarutung–Sibolga. Material tanah dan batu menutup seluruh badan jalan sehingga kendaraan sama sekali tidak bisa melintas.

“Warga dan relawan hanya bisa berjalan kaki melewati jalur yang licin dan sangat berbahaya,” ujar Masinton dalam keterangan tertulis yang diterima media, Kamis (27/11/2025) siang.

Baca Juga  Pemerintah Cabut Izin 4 Perusahaan Besar di Tapanuli Selatan, Diduga Penyebab Banjir dan Longsor Batang Toru

Jembatan Terputus, Jalur Alternatif Juga Lumpuh

Kondisi di sisi selatan Tapteng tak jauh berbeda. Beberapa jembatan penghubung antara Tapanuli Selatan dan Tapteng ambruk dihantam banjir, memutus satu-satunya jalur alternatif untuk distribusi logistik.

Putusnya akses ini menyebabkan pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan darurat terhambat.

Terputus Secara Digital: Listrik Padam, Internet dan Telepon Mati

Banjir Tapanuli Tengah
Situasi di Tapanuli Tengah (Tapteng) usai diterjang banjir dan longsor.

Bukan hanya secara fisik, Tapteng juga terisolasi secara digital.

Jaringan listrik padam total, sementara internet dan telepon tidak berfungsi di sebagian besar kecamatan.

Situasi ini membuat koordinasi penanganan tanggap darurat tersendat. Informasi tentang kondisi warga di desa-desa terpencil pun sulit dihimpun.

Di beberapa titik pengungsian, warga bertahan dengan fasilitas terbatas.