Hukum & Kriminal

Kanit Reskrim Polsek Jadi Tersangka Penganiayaan Pelajar Hingga Tewas

×

Kanit Reskrim Polsek Jadi Tersangka Penganiayaan Pelajar Hingga Tewas

Sebarkan artikel ini
Kanit Reskrim
Tiga tersangka dihadirkan di lokasi prarekontruksi kasus dugaan penganiayaan seorang siswa di Asahan yang diduga dilakukan oleh Oknum Polisi berpangkat IPDA di Polres Asahan, Senin (17/3). Foto: Tribunmedan.com

Ringkasan Berita

  • Berlanjut ke lokasi kedua, Bogol dengan mengendarai motor matik sendiri dan disusul oleh tersangka Siswoyo dan Ipda A…
  • Mirisnya, pelaku penganiayaan ini salah satunya adalah oknum polisi yang menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Simpan…
  • Prarekonstruksi ini digelar di beberapa tempat berbeda dan turut menghadirkan para tersangka di antaranya dua sipil D…

Topikseru.com, ASAHAN – Polres Asahan menggelar prarekonstruksi kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar bernama Pandu Brata Siregar (18). Mirisnya, pelaku penganiayaan ini salah satunya adalah oknum polisi yang menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Simpang Empat.

Prarekonstruksi ini digelar di beberapa tempat berbeda dan turut menghadirkan para tersangka di antaranya dua sipil Dimas Adrianto dan Yudi Siswoyo dan oknum anggota polisi bernama Ahmad Efendi.

Dalam prarekonstruksi itu terlihat cerita berawal dari sebuah warung Mie Aceh. Para tersangka berada di satu lokasi dan mendapat informasi adanya aksi balap liar.

Mendapat informasi tersebut, Bogol mendatangi lokasi untuk memastikan informasi terkait balap liar itu.

“Kanit (tersangka Ahmad Efendi) mengatakan nanti kalau ada (balap liar) kabari saya,” kata  tersangka Bagol saat rekonstruksi, Senin (17/3).

Ada dua adegan yang para tersangka peragakan di warung Warkop Agam. Pertama, Bogol mengecek lokasi di Kecamatan Simpang Empat terkait informasi balap liar.

Berlanjut ke lokasi kedua, Bogol dengan mengendarai motor matik sendiri dan disusul oleh tersangka Siswoyo dan Ipda Ahmad Efendi menggunakan motor WR 155 untuk membubarkan diduga aksi balap liar.

Gelar Ekshumasi Jenazah Pelajar

Selain prarekonstruksi, polisi bersama Tim Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan juga menggelar ekshumasi terhadap jasad Pandu Brata Siregar.

Ekshumasi atau pembongkaran makam siswa sekolah menengah atas (SMA) itu berlangsung setidaknya hampir empat jam.

Dokter forensik RS Bhayangkara TK II Medan, dr Ismurizal SpF mengaku menemukan beberapa keganjilan di jasad korban seperti adanya beberapa bercak merah.

“Sudah kami otopsi, sudah kami ambil semua dan kami lihat. Nanti akan dirangkum dulu semua ya,” ungkap Dokter Forensik RS Bhayangkara TK II Medan, dr Ismurizal, Minggu (16/3).

Baca Juga  Kasus Luthfi Korban Jerat Kabel Menjuntai Akhirnya Dilanjutkan Polisi

Dokter Ismurizal akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan hasil ekshumasi yang sudah dilakukan.

“Kan dia sudah dikubur, kita lihatlah nanti. Ada memang seperti warna kemerahan gitu ya. Tapi, belum bisa kita simpulkan karena harus ada pemeriksaan tambahan,” katanya.

Saat disinggung apakah ada hal janggal pada tubuh korban dalam pemeriksaan, dr Ismurizal dengan tegas mengatakan yang sebenarnya.

“Adalah, ga usah kita pungkiri ada,” jawabnya tegas.

Dia mengatakan hasil pemeriksaan ini akan diketahui hasilnya dalam dua pekan ke depan, apabila tidak ada pemeriksaan tambahan.

Kronologi Pelajar Ditangkap

Seorang saksi mata, rekan korban yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku dalam pengejaran tersebut, petugas sempat letuskan tiga kali tembakan peringatan.

“Kejadian itu awalnya kami 10 orang, kami makan di warkop Aceh di simpang empat. Kemudian, kami mau kerumah temannya kami ke Sei Lama, untuk mengambil baju,” ungkap anak kelas 12 SMA tersebut, Rabu (12/3).

Lanjutnya, saat dalam perjalanan, ada gerombolan warga yang hendak melakukan balap lari. Sehingga, korban dan 9 orang rekannya terhenti untuk melihat balap tersebut.

Mereka masih persiapan, tiba-tiba polisi datang. Mereka ini berhamburan, kami juga lari. Saat itu, posisi saya sama teman-teman berbonceng lima dengan satu sepeda motor,” katanya.

Karena melihat situasi sepeda motor berat, dirinya lompat dan meninggal empat orang rekannya yang menggunakan sepeda motor.

“Saya lompat, langsung lari ke arah sawitan. Korban ini dibonceng ke empat, lompat juga setelah 100 meter saya lompat,” ungkapnya.

Namun, sayangnya korban berhasil diamankan dan dibawa ke Polsek Simpang Empat untuk dilakukan pemeriksaan.

“Di sana, kami sempat komunikasi, kami telfon dia katanya setelah lompat itu, dia ditabrak dan ditendang sebanyak dua kali oleh polisi tersebut,” ungkapnya.