Nasional

Nilai Tukar Rupiah Melemah Dihantam Ketegangan Timur Tengah: Harga Minyak dan Risiko Inflasi Jadi Ancaman

×

Nilai Tukar Rupiah Melemah Dihantam Ketegangan Timur Tengah: Harga Minyak dan Risiko Inflasi Jadi Ancaman

Sebarkan artikel ini
Devisa Indonesia
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Ringkasan Berita

  • Sementara Kurs JISDOR Bank Indonesia juga terkoreksi ke posisi Rp 16.484 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.399.
  • Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai, pasar merespons negatif keterlibatan langsung Amerika Seri…
  • Tekanan Harga Minyak dan Neraca Dagang Ketegangan geopolitik ini memperbesar kekhawatiran atas kenaikan harga minyak …

Topikseru.comNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah signifikan pada perdagangan Senin (23/6), seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran pasar atas pasokan minyak global dan tekanan inflasi di negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai, pasar merespons negatif keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam serangan ke fasilitas nuklir Iran, yang turut menyulut lonjakan harga minyak dunia. Eskalasi ini memperburuk sentimen terhadap aset negara berkembang.

“Konflik ini telah mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi tahun ini dan menciptakan tekanan langsung pada kurs rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta melansir Antara, Senin (23/6).

Rupiah ditutup melemah 96 poin atau 0,58 persen ke level Rp 16.492 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di angka Rp 16.397.

Sementara Kurs JISDOR Bank Indonesia juga terkoreksi ke posisi Rp 16.484 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.399.

Tekanan Harga Minyak dan Neraca Dagang

Ketegangan geopolitik ini memperbesar kekhawatiran atas kenaikan harga minyak global, padahal Indonesia saat ini mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah per hari untuk kebutuhan energi nasional.

Baca Juga  Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Kawasan Kebun Sawit PT Rapala

Lonjakan harga langsung berdampak pada biaya impor, subsidi energi, dan neraca perdagangan.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut kondisi ini sebagai “ancaman terbesar terhadap stabilitas ekonomi nasional dalam jangka pendek.”

“Indonesia bukan lagi eksportir minyak bersih. Setiap kenaikan harga minyak akan langsung terasa dampaknya ke APBN, terutama di sektor subsidi dan defisit transaksi berjalan,” kata Yusuf.

Investor Kabur ke Aset Aman

Ketidakpastian geopolitik juga memicu arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Investor cenderung menarik dana mereka dari pasar negara berkembang untuk mengalihkan ke aset safe haven seperti dolar AS, emas, atau surat utang negara-negara maju.

“Efek psikologis ini menguatkan tekanan terhadap kurs rupiah, yang akhirnya memicu kekhawatiran lanjutan pada sisi fiskal,” tambah Yusuf.

Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan beban impor, terutama untuk BBM dan pangan, yang dapat mendorong kenaikan harga dalam negeri. Selain itu, beban subsidi energi pemerintah akan membengkak seiring depresiasi nilai tukar dan kenaikan harga minyak.

Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan daya beli masyarakat dengan subsidi yang besar atau menyesuaikan harga energi yang berisiko memicu inflasi lebih lanjut.