Topikseru.com – Kabar duka datang dari dunia medis Indonesia. Seorang dokter muda peserta program internship, dr Myta Aprilia Azmy, dilaporkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif.
Kasus ini dengan cepat menjadi perbincangan hangat di media sosial karena muncul dugaan adanya beban kerja berlebih hingga perundungan selama masa tugasnya.
Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga memicu pertanyaan besar publik mengenai sistem kerja dokter internship di Indonesia.
Kronologi Wafatnya dr Myta Aprilia Azmy
dr Myta Aprilia Azmy diketahui merupakan dokter internship dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri). Ia menjalani program penugasan di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Menurut informasi yang beredar, dr Myta sempat mengalami kondisi kesehatan yang menurun sebelum akhirnya dirawat di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang.
Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 1 Mei 2026.
Kabar ini sontak mengundang perhatian luas, terutama dari kalangan tenaga medis dan mahasiswa kedokteran.
Dugaan Beban Kerja Berat Tanpa Libur
Sorotan publik semakin kuat setelah beredarnya surat pernyataan dari Ikatan Alumni FK Unsri yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan RI. Surat tersebut kemudian viral di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @medicstory.id.
Dalam pernyataan itu, disebutkan adanya dugaan beban kerja yang tidak manusiawi yang dialami oleh dokter internship.
“Adanya beban kerja yang tidak manusiawi, hingga tiga bulan tanpa libur di bangsal maupun IGD,” tulis pernyataan tersebut.
Tak hanya itu, alumni juga menyoroti dugaan bahwa dokter internship bekerja tanpa supervisi dokter definitif. Padahal, secara aturan, dokter internship masih berstatus sebagai dokter magang yang seharusnya berada di bawah pengawasan.
Jika dugaan ini benar, maka kondisi tersebut dinilai berpotensi melanggar regulasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
Catatan Dugaan Kelalaian dan Kondisi Kesehatan
Dalam poin lain, Ikatan Alumni FK Unsri juga mengungkap adanya dugaan pengabaian kondisi kesehatan dr Myta saat masih bertugas.
Disebutkan bahwa almarhumah sempat mengalami gejala serius seperti sesak napas dan demam tinggi. Namun, ia tetap dijadwalkan untuk menjalani tugas jaga, termasuk jaga malam.
Bahkan, dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa saturasi oksigen dr Myta sempat berada di angka sekitar 80 persen, yang secara medis sudah tergolong kondisi berbahaya.
“Ditemukan fakta adanya saturasi oksigen yang menyentuh angka 80 persen sebelum akhirnya mendapatkan penanganan yang layak,” demikian isi pernyataan tersebut.
Temuan ini semakin memicu keprihatinan publik, terutama terkait standar keselamatan kerja bagi tenaga medis muda.
Muncul Dugaan Perundungan Verbal
Selain beban kerja, isu lain yang turut mencuat adalah dugaan perundungan verbal yang dialami oleh dr Myta selama menjalani program internship.
Berdasarkan klaim yang disampaikan dalam surat tersebut, disebutkan adanya narasi yang merendahkan kondisi dokter muda, termasuk penggunaan istilah seperti “generasi Z lembek” ketika mereka menyuarakan hak kesehatan atau kelelahan kerja.
Tak hanya itu, terdapat pula dugaan bahwa kondisi kesehatan dr Myta sempat tidak dilaporkan secara terbuka, dengan alasan agar masa internship tidak diperpanjang.
Jika benar terjadi, praktik ini dinilai berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat secara mental bagi dokter muda.
Desakan Audit Sistem Internship
Kasus ini kini berkembang menjadi isu yang lebih luas, tidak hanya tentang satu individu, tetapi juga sistem yang menaungi dokter internship di Indonesia.
Ikatan Alumni FK Unsri secara tegas meminta Menteri Kesehatan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem kerja di RSUD Kuala Tungkal, serta mengevaluasi program internship secara nasional.
Desakan ini juga didukung oleh banyak warganet yang merasa prihatin dan menuntut adanya perubahan sistem demi melindungi tenaga medis muda.
Sorotan Publik dan Reaksi di Media Sosial
Di media sosial, kasus ini memicu gelombang empati sekaligus kemarahan. Banyak pengguna yang membagikan pengalaman serupa terkait tekanan kerja selama menjalani pendidikan dan praktik medis.
Tidak sedikit pula yang mempertanyakan apakah sistem internship saat ini sudah cukup manusiawi dan aman bagi para dokter muda.
Beberapa bahkan menyerukan reformasi total terhadap sistem pendidikan dan penugasan dokter di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang.
Tanggapan Pihak Terkait Masih Ditunggu
Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal terkait dugaan yang beredar.
Begitu pula dengan Kementerian Kesehatan RI, yang masih belum mengeluarkan hasil investigasi atau klarifikasi resmi terkait kasus ini.
Kondisi ini membuat publik masih menunggu kejelasan dan transparansi dari pihak-pihak terkait untuk memastikan fakta yang sebenarnya terjadi.
Kasus wafatnya dr Myta Aprilia Azmy menjadi pengingat penting bagi semua pihak, khususnya dalam dunia kesehatan.
Di satu sisi, tenaga medis adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan. Namun di sisi lain, mereka juga membutuhkan perlindungan, baik secara fisik maupun mental.
Jika dugaan yang beredar terbukti benar, maka ini bukan hanya soal satu kasus, melainkan gambaran dari sistem yang perlu segera diperbaiki.
Kasus meninggalnya dokter internship FK Unsri, dr Myta Aprilia Azmy, telah membuka diskusi luas tentang beban kerja, keselamatan, dan kesehatan mental dokter muda di Indonesia.
Meski masih menunggu hasil investigasi resmi, berbagai dugaan yang muncul telah cukup untuk menjadi alarm serius bagi dunia medis.
Kini, publik berharap ada langkah konkret dari pemerintah dan institusi terkait untuk memastikan bahwa setiap tenaga medis, terutama dokter muda, mendapatkan lingkungan kerja yang aman, manusiawi, dan sesuai dengan standar yang berlaku.












