Topikseru.com, Medan – Kecelakaan Maut melibatkan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) milik ALS dan truk tangki terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026).
Insiden tragis tersebut menewaskan 16 orang dan menyebabkan proses evakuasi berlangsung dramatis akibat sejumlah korban terjepit di dalam kendaraan.
Peristiwa ini turut menyita perhatian publik karena ALS dikenal sebagai salah satu perusahaan otobus tertua dan terbesar di Pulau Sumatera. Operator bus tersebut memiliki sejarah panjang dalam melayani transportasi antarkota lintas Sumatera hingga Pulau Jawa.
Berikut profil PO ALS yang dihimpun Topikseru.com, sejarah berdiri, perkembangan trayek, hingga ciri khas armadanya yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia.
PO ALS atau Antar Lintas Sumatera lahir 29 September 1966 dari tujuh saudagar yang dipelopori Haji Sati Lubis. Awalnya hanya dua unit Chevrolet C-50. Siapa sangka, dari situlah perjalanan panjang dimulai.
Bisnis ini tumbuh dari kebutuhan logistik. Truk pengangkut hasil bumi pelan-pelan diubah jadi angkutan penumpang. Respons pasar positif. Trayek pun meluas dari Kotanopan–Medan hingga merambah hampir seluruh Sumatera, lalu menyeberang ke Jawa setelah jalur feri Merak–Bakauheni dibuka.
Ciri khasnya? Rute ekstrem dan panjang. Medan ke Jakarta, Yogyakarta, bahkan Surabaya dan Malang. Perjalanan darat bisa tembus hampir 3.000 km dan memakan waktu hingga tiga hari. ALS bukan sekadar bus, tapi penghubung perantau lintas generasi.
Model bisnisnya juga unik. Sebagian armada dimiliki mitra keluarga dengan kode nomor pintu sebagai penanda kepemilikan. Sistem “pool” ini membuat ekspansi bisa berjalan tanpa seluruh armada ditanggung satu manajemen.
Namun perjalanan panjang itu tak lepas dari ujian. Kecelakaan fatal 6 Mei 2025 di Padang Panjang yang menewaskan 12 orang menjadi pengingat keras soal standar keselamatan dan pengawasan transportasi darat di Indonesia.
Dari warisan saudagar Mandailing, ekspansi lintas pulau, hingga tantangan keselamatan, ALS adalah potret bagaimana bisnis keluarga bisa tumbuh besar sekaligus diuji zaman.
PT Antar Lintas Sumatera (ALS) adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang didirikan di Kotanopan, Mandailing Natal, dan kini berpusat di Kecamatan Mean Splas, Kota Medan.
Didirikan pada tahun 1966, ALS merupakan operator bus terbesar di Pulau Sumatra dan melayani trayek ke banyak kota di pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Dikenal sebagai salah satu PO yang sangat tangguh di Indonesia, ALS juga merupakan salah satu pemilik trayek terjauh di Indonesia dengan rute Kota Medan di Sumatera Utara hingga Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sejarah
PO Antar Lintas Sumatera (ALS) didirikan di Kotanopan, Kabupaten Mandaiing Natal, Sumatera Utara pada 29 September 1966. Perusahaan otobus ini dirintis oleh tujuh bersaudara bermarga Lubis, yaitu Sati, Nursewan, Jasanti, Jagu Lembang, Muhammad Arif, dan Hanafiah, serta satu orang lain yang hingga kini masih bersifat tentatif. Sati Lubis sendiri tercatat sebagai pemilik pertama perusahaan. Pada awal berdirinya, ALS belum langsung bergerak sebagai perusahaan bus antarkota besar, melainkan berawal dari pengoperasian truk yang kemudian berkembang menjadi usaha angkutan penumpang.
Pada masa awal operasionalnya, ALS hanya melayani trayek antarkota dalam provinsi, yakni rute Medan – Kotanopan. Seiring meningkatnya kebutuhan transportasi dan kepercayaan masyarakat, ALS mulai memperluas jangkauan layanannya dengan membuka trayek antarkota antarprovinsi Medan-Bukittinggi. Perkembangan ini menandai transformasi ALS dari usaha transportasi berskala lokal menjadi perusahaan otobus yang mulai diperhitungkan di wilayah Sumatra bagian utara dan barat.
Memasuki tahun 1972, ALS mengalami perkembangan pesat dengan membuka berbagai trayek baru ke kota-kota besar di Pulau Sumatra, antara lain Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang hingga Bandar Lampung. Pada dekade 1970-an, meskipun kendaraan darat belum dapat menyeberang langsung ke Pulau Jawa karena keterbatasan kapal feri ro-ro, ALS sudah berani membuka trayek menuju Jawa. Untuk mengatasi kendala tersebut, ALS memanfaatkan jasa agen yang mengurus pemberangkatan penumpang dari Pelabuhan Merak dengan menggunakan kendaraan lain menuju kota tujuan di Pulau Jawa.
Pada dekade 1980-an, ketika fasilitas penyeberangan feri ro-ro sudah memungkinkan kendaraan menyeberang langsung ke Pulau Jawa, ALS mulai membuka trayek langsung ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. , yang kemudian disusul dengan rute ke Malang dan Jembar. Bahkan, ALS sempat memperluas jangkauannya hingga ke Bali. Namun, trayek jarak sangat jauh tersebut akhirnya ditutup pada tahun 2003 karena pertimbangan waktu tempuh yang terlalu panjang serta kondisi mesin bus yang kurang mendukung untuk perjalanan sejauh itu.
Armada
ALS dikenal luas sebagai salah satu perusahaan otobus di Sumatra yang mengandalkan kekuatan armada bus yang tangguh, andal, dan terus berkembang mengikuti kebutuhan layanan transportasi antarkota antarprovinsi. Dalam beberapa tahun terakhir, ALS secara konsisten melakukan pembaruan armada dengan menghadirkan bus-bus modern yang dirancang khusus untuk menunjang perjalanan jarak jauh. Pembaruan ini tidak hanya berfokus pada penambahan unit baru, tetapi juga pada peningkatan kenyamanan, keselamatan, dan pengalaman penumpang. Armada-armada terbaru ALS dibangun dari kombinasi sasis berkualitas tinggi dan karoseri buatan perusahaan karoseri ternama di Indonesia, sehingga mampu menjawab tantangan operasional di berbagai rute Sumatra yang dikenal memiliki kondisi jalan dan topografi yang beragam.
Dari sisi sasis, PO ALS dikenal sangat setia menggunakan produk Mercedez-Benz yang telah terbukti ketangguhannya. Hingga 2025, ALS masih mengoperasikan beberapa unit sasis lawas era 1990-an, seperti Mercedes-Benz OH 1521 yang populer dengan julukan “Setir Tampah” karena ukuran kemudinya yang besar dan khas. Selain itu, tulang punggung armada modern ALS didominasi oleh sasis Mercedes-Benz OH 1526 dan OH 1626. Sasis ini dipilih karena memiliki reputasi kuat untuk penggunaan jarak jauh, daya tahan tinggi, serta kemampuan melibas jalur menanjak dan panjang yang banyak ditemui di Pulau Sumatra.
Sasis Mercedes-Benz OH 1626 yang digunakan ALS dibekali mesin diesel OM 906 LA Euro 3 berkonfigurasi enam silinder dengan kapasitas sekitar 6.374 cc (389,0 cu in). Mesin ini mampu menghasilkan tenaga sekitar 260 hp (190 kW) dengan torsi besar, sehingga memberikan akselerasi yang responsif sekaligus stabil saat membawa beban penuh di medan berat. Tenaga tersebut disalurkan melalui pilihan transmisi manual maupun otomatis enam percepatan, yang memungkinkan PO ini menyesuaikan karakter bus dengan kebutuhan layanan dan preferensi pengemudi. Kombinasi mesin dan transmisi ini menjadikan armada ALS dikenal bertenaga, awet, dan relatif mudah dalam perawatan untuk operasional jangka panjang.
Dalam hal karoseri, PO ALS tidak terpaku pada satu pabrikan karoseri tertentu, melainkan memanfaatkan keahlian dari beberapa karoseri besar di Indonesia. Beberapa unit menggunakan bodi Avante H8 Facelift dari Tentrem dengan desain minimalis, modern, dan selendang yang lebih kontemporer. Armada lainnya mengandalkan bodi Patriot TU dari Morodadi Prima yang menawarkan opsi kaca ganda serta karakter desain yang kokoh dan khas.[6] Sementara itu, bus-bus dengan bodi Jetbus dari Adi Putro hadir dengan tampilan agresif melalui desain lampu depan modern dan sentuhan estetika terbaru. Keragaman karoseri ini memberi ALS fleksibilitas dalam menghadirkan layanan kelas ekonomi, eksekutif, hingga premium sesuai kebutuhan pasar.
Ciri Khas Armada dan Tampilan
Ciri khas armada PO ALS juga sangat kuat, baik dari sisi fungsi maupun tampilan visual. ALS dikenal dengan julukan “Raja Paket”, sehingga hampir seluruh armadanya dilengkapi landasan di atas atap bus untuk mengangkut paket dan bagasi dengan ketentuan tertentu. Dari segi tampilan, Bus ALS mudah dikenali melalui kombinasi warna hijau tua dan hijau muda sebagai warna utama bodi, dipadukan dengan aksen oranye, biru, dan abu-abu yang klasik. Tampilan ini sering dilengkapi wheel dop putih dan ornamen stiker sederhana sehingga terlihat bersih dan elegan. Di bagian interior, grafis khas seperti peta Pulau Sumatra menjadi identitas visual ALS.
Ciri khas lainnya yang dimiliki ALS adalah sistem penomoran armada (yang biasa disebut sebagai “nomor pintu”). Sebagai perusahaan keluarga, maka kepemilikan armada bus ALS tidak hanya satu orang. Digit terakhir dari nomor pintu merupakan penanda siapa tauke (pemilik) dari armada tersebut:
- Angka 1 adalah milik keluarga Sati Lubis (Direktur Utama pertama ALS).
- Angka 3 adalah milik keluarga Rasyad Nasution.
- Angka 5 adalah milik keluarga Japarkayo Hasibuan.
- Angka 7 adalah milik keluarga Muhammad Arif Lubis.
- Angka 8 adalah milik keluarga Abdul Wahab Lubis dan Hasbullah Lubis.
- Angka 9 dan 0 adalah milik keluarga Nursewan Lubis dan Rangkuti.
- Angka-angka lainnya dimiliki oleh anggota keluarga lainnya dan bersifat acak, misalnya milik keluarga Hamzah Nasution dan Nasir Daulay. Namun seiring berjalannya waktu, kepemilikan bus tersebut dikelola pula oleh generasi-generasi kedua dan ketiga dari pemilik.
Misalnya, jika bus ALS memiliki nomor pintu 311, maka kepemilikan armada ini berada pada keluarga Sati Lubis (saat ini dipegang oleh anaknya, Chandra, yang saat ini berstatus sebagai pimpinan dan pemilik perusahaan).
Trayek
ALS menjadikan bus antarkota sebagai satu-satunya lini bisnis dan tumbuh besar pada masa keemasan angkutan bus jarak jauh di Sumatra. Pada periode tersebut, ribuan kilometer jalan raya lintas Sumatra baik lintas timur maupun lintas tengah—dipadati armada bus dari ratusan perusahaan otobus.
Di antara para pemain besar itu, ALS dari Sumatera Utara dengan armada sekitar 258 unit kerap dijuluki “raja jalanan” dari Sumatra, sejajar dengan PMTOH dari Aceh, ANS dan NPM dari Sumatera Barat, serta Gumarang Jaya dari Lampung.
ulukan ini lahir dari intensitas kehadiran armada ALS di jalur-jalur utama dan konsistensi pelayanannya dalam menghubungkan kota-kota besar lintas pulau.
Seluruh titik awal keberangkatan bus ALS berpusat di Kota Medan, Sumatera Utara, yang juga menjadi lokasi kantor pusat perusahaan. Dari Medan, ALS membentangkan jaringan trayek yang menjangkau hampir seluruh kota di Sumatra dan Jawa. Berdasarkan daftar agen dan terminal pada situs pemesanan tiket resminya, layanan pemesanan daring ALS difokuskan pada trayek awal mulai dari DKI Jakarta menuju hampir seluruh wilayah Sumatra, dengan pengecualian Kepulaian Riau, Bangka Belitung dan Aceh. Sementara itu, kota-kota lain di Pulau Jawa tetap dilayani melalui pola tradisional, yakni kantor perwakilan dan agen yang beroperasi di sepanjang jalur trayek, mempertahankan kedekatan dengan pelanggan setia di daerah.
Kisah pengembangan trayek ALS juga diwarnai cerita-cerita unik. Salah satunya terjadi saat perusahaan hendak membuka trayek Yogyakarta- Medan. Dalam proses persiapan pembukaan kantor perwakilan dan pengurusan izin trayek di Yogyakarta, pendiri ALS, Sati Lubis, justru sempat terlihat menggunakan becak saat berbelanja di kota tersebut. Dari jaringan panjang yang dibangun, ALS dikenal memiliki salah satu trayek terpanjang di Indonesia, yakni Kota Medan, Sumut – Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan jarak mencapai sekitar 2.839 kilometer (1.764 mi). Trayek ini mencerminkan karakter ALS sebagai operator bus jarak jauh sejati yang mengandalkan daya tahan armada dan kru dalam perjalanan lintas pulau yang sangat panjang








