Ramadan 1447 H

Jongkong Khas Mandailing Natal Diserbu Warga Medan Saat Ramadan, Pedagang Raup Berkah Musiman

×

Jongkong Khas Mandailing Natal Diserbu Warga Medan Saat Ramadan, Pedagang Raup Berkah Musiman

Sebarkan artikel ini
Jongkong khas Mandailing Natal
Pedagang Jongkong khas Mandailing Natal, menjajakan dagangan di bulan Ramadan, Selasa (3/3/2026). Foto: Topikseru.com/Agustian

Topikseru.com, Medan – Bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para pedagang Jongkong khas Mandailing Natal (Madina) yang berjualan di Kota Medan. Kuliner tradisional yang hanya muncul setahun sekali ini kembali diburu warga sebagai menu takjil favorit untuk berbuka puasa.

Di sepanjang Jalan HM Yamin, tepatnya di sekitar Masjid Juang 45, lapak-lapak sederhana mulai dipadati pembeli sejak sore hari. Aroma santan dan gula merah yang berpadu dengan wangi daun pisang menguar dari balik bungkus Jongkong, menggoda para pengendara yang melintas.

Kuliner Khas Madina yang Hadir Setahun Sekali

Jongkong merupakan makanan tradisional asal Mandailing Natal yang dibungkus daun pisang. Bahan utamanya tepung beras berwarna putih yang disiram kuah santan kental dan gula merah cair.

Sekilas, tampilannya menyerupai bubur sumsum. Namun teksturnya lebih lembut dengan cita rasa gurih-manis yang khas. Aroma daun pisang yang membungkusnya memberi sensasi tersendiri saat disantap hangat menjelang azan magrib.

Keunikan lainnya, Jongkong nyaris tidak ditemukan di luar Ramadan. Tradisi ini menjadikannya sebagai kuliner musiman yang selalu dirindukan warga, khususnya perantau asal Madina di Medan.

Tambah Penghasilan Jelang Lebaran

Salah seorang pedagang, Riris Siregar, mengaku sengaja berjualan Jongkong hanya saat Ramadan. Selain ingin mengenalkan kuliner kampung halamannya, ia juga memanfaatkan momentum ini untuk menambah penghasilan keluarga.

“Kami memang jualannya setahun sekali. Selain ingin mengenalkan kuliner khas Madina, kami juga berharap bisa mendapat rezeki lebih selama Ramadan,” ujar Riris, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, proses pembuatan Jongkong tidak sederhana. Dibutuhkan ketelatenan dalam mengolah tepung beras hingga menghasilkan tekstur lembut yang pas. Karena itu, ia memilih fokus berjualan hanya di bulan puasa.

Hasil penjualan selama Ramadan biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan menjelang Hari Raya, mulai dari biaya mudik ke Mandailing Natal, membeli pakaian baru, hingga menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung.

“Banyak kebutuhan menjelang Lebaran, jadi dari dulu setiap Ramadan saya selalu berjualan untuk membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Harapan Penjualan Meningkat

Pedagang lainnya, Asri, juga menggantungkan harapan pada meningkatnya jumlah pembeli seiring bertambahnya hari puasa.

“Sudah ada pembeli, tapi belum terlalu signifikan. Mudah-mudahan ke depan makin ramai dan banyak yang jadi pelanggan tetap,” tuturnya.

Satu porsi Jongkong dijual seharga Rp8.000. Harga yang relatif terjangkau ini membuatnya menjadi pilihan takjil favorit warga Medan untuk berbuka puasa bersama keluarga.

Tradisi Kuliner Ramadan di Medan

Fenomena maraknya pedagang Jongkong setiap Ramadan menjadi bagian dari dinamika kuliner musiman di Medan. Kehadirannya bukan sekadar jajanan berbuka, tetapi juga menjadi simbol nostalgia dan identitas budaya masyarakat Mandailing yang merantau.

Di tengah menjamurnya takjil modern, Jongkong tetap bertahan sebagai sajian tradisional yang memiliki tempat tersendiri di hati penikmatnya.