- Jongkong khas Mandailing Natal kembali ramai dijual di Medan selama Ramadan dan menjadi salah satu takjil favorit warga.
- Kuliner tradisional berbahan tepung beras, santan, dan gula merah ini biasanya hanya muncul saat bulan puasa.
- Pedagang memanfaatkan momen Ramadan untuk menambah penghasilan sekaligus melestarikan kuliner khas daerah.
Topikseru.com, Medan – Kehadiran pedagang Jongkong khas Mandailing Natal (Madina) kembali meramaikan suasana Ramadan di Kota Medan. Kuliner tradisional yang dikenal sebagai salah satu takjil khas Sumatera Utara ini menjadi buruan warga untuk menu berbuka puasa.
Setiap sore menjelang azan magrib, sejumlah lapak pedagang Jongkong mulai dipadati pembeli. Salah satu titik yang ramai terlihat di kawasan Jalan HM Yamin, tepatnya di sekitar Masjid Juang 45 Medan.
Aroma santan yang berpadu dengan manisnya gula merah dari dalam bungkus daun pisang membuat banyak pengendara yang melintas tertarik untuk berhenti membeli. Tak heran jika kuliner ini selalu menjadi favorit warga setiap Ramadan.
Fenomena maraknya pedagang Jongkong setiap bulan puasa menjadi bagian dari tradisi kuliner musiman di Medan yang selalu dinanti masyarakat.
Jongkong Khas Madina, Takjil Tradisional yang Selalu Dirindukan
Jongkong merupakan makanan tradisional yang berasal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kuliner ini terbuat dari tepung beras yang diolah hingga menghasilkan tekstur lembut, kemudian disajikan dengan kuah santan kental dan gula merah cair.
Makanan ini biasanya dibungkus menggunakan daun pisang sehingga memberikan aroma khas yang menggugah selera.
Sekilas, Jongkong memang terlihat mirip dengan bubur sumsum. Namun, rasa dan teksturnya memiliki ciri khas tersendiri.
Tekstur Jongkong cenderung lebih padat namun tetap lembut saat disantap. Perpaduan rasa gurih dari santan dan manis dari gula merah membuat kuliner ini cocok menjadi menu berbuka puasa.
Selain rasanya yang lezat, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus juga memberikan sensasi aroma alami yang menambah kenikmatan saat menyantapnya.
Tidak sedikit warga yang mengaku selalu menantikan kehadiran Jongkong setiap Ramadan karena sulit ditemukan di waktu lain.
Kuliner Musiman yang Hanya Muncul Saat Ramadan
Berbeda dengan jajanan tradisional lainnya, Jongkong termasuk kuliner musiman yang biasanya hanya dijual saat bulan Ramadan.
Hal inilah yang membuat makanan ini semakin diburu masyarakat.
Bagi warga asal Mandailing yang merantau ke Medan, Jongkong bukan sekadar makanan berbuka puasa. Kuliner ini juga menjadi simbol nostalgia terhadap kampung halaman.
Banyak perantau yang sengaja membeli Jongkong untuk mengobati kerinduan pada makanan khas daerah mereka.
Tradisi berjualan Jongkong selama Ramadan sudah berlangsung sejak lama di Kota Medan. Para pedagang biasanya membuka lapak sederhana di pinggir jalan atau di sekitar kawasan masjid yang ramai dikunjungi warga saat menjelang berbuka puasa.
Pedagang Manfaatkan Ramadan untuk Tambah Penghasilan
Salah seorang pedagang Jongkong di kawasan Jalan HM Yamin, Riris Siregar, mengaku setiap tahun selalu berjualan saat bulan Ramadan.
Menurutnya, momen Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menjual kuliner khas Mandailing tersebut.
“Kami memang biasanya berjualan Jongkong hanya saat Ramadan. Selain ingin mengenalkan kuliner khas Madina, kami juga berharap bisa mendapat tambahan penghasilan,” ujar Riris.
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan Jongkong tidaklah mudah. Dibutuhkan ketelatenan dalam mengolah tepung beras hingga menghasilkan tekstur yang lembut dan tidak menggumpal.
Selain itu, santan dan gula merah juga harus dimasak dengan komposisi yang pas agar menghasilkan rasa yang gurih dan manis seimbang.
Karena proses pembuatannya cukup rumit, banyak pedagang memilih menjualnya hanya saat Ramadan ketika permintaan meningkat.
Hasil Jualan untuk Persiapan Lebaran
Riris mengatakan, hasil penjualan Jongkong selama Ramadan biasanya digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Mulai dari membeli pakaian baru, menyiapkan kebutuhan rumah tangga, hingga biaya mudik ke kampung halaman di Mandailing Natal.
“Biasanya uang dari jualan ini kami kumpulkan untuk kebutuhan Lebaran. Apalagi kalau mau pulang kampung tentu butuh biaya,” katanya.
Bagi sebagian pedagang, berjualan takjil seperti Jongkong juga menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup membantu ekonomi keluarga.
Selain Riris, pedagang lainnya bernama Asri juga berharap penjualan Jongkong tahun ini bisa meningkat seiring bertambahnya hari puasa.
“Sekarang sudah mulai ada pembeli, tapi belum terlalu ramai. Mudah-mudahan makin mendekati Lebaran semakin banyak yang beli,” ujarnya.
Harga Terjangkau, Jadi Favorit Warga
Salah satu alasan Jongkong banyak diminati adalah harganya yang relatif terjangkau.
Di kawasan Jalan HM Yamin, satu porsi Jongkong biasanya dijual dengan harga sekitar Rp8.000.
Harga yang murah membuat kuliner ini menjadi pilihan favorit masyarakat untuk berbuka puasa bersama keluarga.
Banyak warga yang membeli beberapa porsi sekaligus untuk dinikmati bersama di rumah.
Selain rasanya yang lezat, Jongkong juga dianggap sebagai takjil yang mengenyangkan karena bahan utamanya berasal dari tepung beras.
Tetap Bertahan di Tengah Takjil Modern
Di tengah menjamurnya berbagai takjil modern seperti dessert box, minuman kekinian, hingga jajanan viral di media sosial, Jongkong tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Kuliner tradisional ini menjadi bukti bahwa makanan khas daerah masih mampu bertahan di tengah perkembangan tren kuliner yang terus berubah.
Bagi sebagian warga, menyantap Jongkong saat berbuka puasa bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, kehadiran pedagang Jongkong setiap Ramadan selalu disambut antusias oleh masyarakat Medan.
Selain menjadi menu takjil favorit, Jongkong juga menjadi simbol kekayaan kuliner tradisional Mandailing yang tetap hidup di tengah masyarakat perkotaan.










