Topikseru.com, Jakarta – Khutbah Jumat mengangkat tema Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban di mana Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa kebangkitan manusia dimulai dari perintah Iqra’ atau membaca dan memahami.
Momentum ini bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk diamalkan sebagai pedoman hidup agar lahir masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan mampu mewujudkan peradaban yang mulia.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ، خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ، اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ، الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ، عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Baca Juga Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia Menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Perlu kita pahami bahwa ketakwaan bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga ketaatan dalam menerima, memahami, dan mengamalkan wahyu Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.
Terlebih pada momentum bulan Ramadhan yang mulia ini, kita diingatkan pada peristiwa agung Nuzulul Qur’an yakni, turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup kita.
Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah shalat, bukan pula perintah zakat, tetapi perintah untuk membaca atau Iqra’. Ini menunjukkan bahwa jalan menuju takwa dimulai dari membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayat Allah.
Takwa tanpa ilmu akan rapuh. Ilmu tanpa membaca tidak akan tumbuh. Maka momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bagi kita bahwa membangun ketakwaan harus diawali dengan membangun tradisi membaca, membaca Al-Qur’an, membaca tanda-tanda kebesaran Allah, serta membaca realitas kehidupan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Nuzulul Qur’an adalah peristiwa turunnya wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang menyendiri di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan. Saat itu, datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama, yakni lima ayat dari Surat Al-‘Alaq:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (2) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, (4) yang mengajar (manusia) dengan pena. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada dua fase atau tahapan.
Pertama, yakni dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia (Baitul Izzah) sekaligus pada malam Lailatul Qadar. Kemudian, fase kedua adalah dari langit dunia ke bumi secara bertahap selama 23 tahun. Syekh ‘Abdul Qadir Jilani dalam kitab al-Ghunyah li Thâlibi Tharâqil Haqq berpendapat bahwa dibandingkan dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara langsung, Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap menjadi kitab yang terbaik. Syekh Abdul Qadir mengatakan:
أَنَّ اللهَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ جُمْلَةً وَاحِدَةً وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ مُتَفَرِّقًا. فَقِيْلَ أَيُّهُمَا أَحْسَنُ نُزُوْلًا؟ اَلْقُرْأَنُ أَحْسَنُ
Artinya: “Sungguh, Allah menurunkan Kitab (sebelum Al-Qur’an) satu kali secara keseluruhan, dan menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) secara terpisah. Maka, jika ditanyakan: di mana yang lebih baik turunnya? (Maka jawabannya) Al-Qur’an lebih baik.” Kelebihan Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap ini adalah karena sejarah diturunkannya wahyu secara keseluruhan kepada umat terdahulu, yang menjadikan mereka sangat berat mengerjakan semua perintah dan larangan yang ada di dalamnya.
Kemudian merekapun mengatakan: فَقَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا
Artinya: ‘Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati’.”
Dari hal ini kita bisa memahami bahwa diturunkannya kitab suci secara langsung memberikan tantangan emosional yang sangat berat bagi kaum terdahulu.
Bahkan, tantangan yang mereka terima justru tidak membuat mereka berubah dan mengikuti apa yang diperintahkan dalam kitab suci, melainkan hanya didengarkan dan tidak dikerjakan dengan baik.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sebagai umat yang telah mendapatkan karunia Kitab Suci terbaik ini, maka menjadi keniscayaan bagi kita untuk dapat membaca, memahami, dan mengamalkan perintah Allah dalam Al-Qur’an dengan maksimal.
Dalam konteks ayat pertama yang diturunkan, yakni Iqra’, perintah membaca dalam Al-Qur’an ini bukan hanya membaca teks, tetapi membaca situasi dan keadaan dalam kehidupan. Perintah ini membawa kita pada dimensi untuk membaca ayat-ayat qauliyah, yakni firman Allah yang tertulis dalam mushaf, dan juga membaca ayat-ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.
Ayat ini menjadi sumber dari perintah Rasulullah agar senantiasa menjadi pribadi yang bisa memahami segala sesuatu sehingga kebaikan akan menghampiri.
Rasulullah bersabda: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ
Artinya: “Siapa saja yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya ia akan diberi pemahaman dalam agama dan diilhami petunjuk-Nya,” (HR At-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Oleh karena itu, Momentum Nuzulul Qur’an ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita. Sudahkah kita membaca Al-Qur’an setiap hari? Sudahkah kita memahami maknanya?
Sudahkah kita mengamalkannya dalam kehidupan nyata? Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi hiasan di lemari saja, tetapi tidak menjadi pedoman hidup kita. Perintah Iqra adalah pesan abadi.
Perintah ini bukan hanya seruan kepada Nabi Muhammad saw saja, namun juga kepada seluruh umat manusia, khususnya kita umat Islam. Jika kita ingin bangkit, maka jawabannya bukan sekadar pada jumlah umat Islam di dunia, tetapi pada kualitas ilmu dan kesadaran dalam menjalani kehidupan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Peradaban besar tidak dibangun dengan kebisingan, tetapi dengan pemikiran. Tidak dibangun dengan kemarahan, tetapi dengan pencerahan.
Maka marilah kita kembali kepada iqra, membaca, memahami, mengamalkan, dan membangun peradaban. Karena dari satu kata itulah lahir optimisme dalam melanjutkan peradaban mulia. Amin.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ اْلقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu.













