BursaEkonomi dan Bisnis

IHSG Dibuka di Zona Hijau Naik 0,75% Berdiri di Level 8.225,04 Pagi Ini

×

IHSG Dibuka di Zona Hijau Naik 0,75% Berdiri di Level 8.225,04 Pagi Ini

Sebarkan artikel ini

Ringkasan Berita

  • Berdasarkan data yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG menguat 0,75% atau bertambah 61,16 poin …
  • Kenaikan IHSG ditopang semua indeks sektoral di BEI, dengan sektor yang naik paling tinggi di antaranya barang konsum…
  • Total volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 1,25 miliar dengan nilai transaksi tembus Rp 1,02 triliun.

Topikseru.com – Pada perdagangan Senin (3/11/2025) pukul 09.03 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan awal pekan pertama bulan November 2025 ini.

Berdasarkan data yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG menguat 0,75% atau bertambah 61,16 poin ke level 8.225,04 di pasar spot.

Kenaikan IHSG ditopang semua indeks sektoral di BEI, dengan sektor yang naik paling tinggi di antaranya barang konsumer non primer, perindustrian, infrastruktur, teknologi, Kesehatan, barang baku, transportasi dan keuangan.

Total volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 1,25 miliar dengan nilai transaksi tembus Rp 1,02 triliun.

Ada 292 saham yang naik, 175 saham yang turun dan 205 saham yang stagnan.

Top gainers di LQ45 adalah:
1. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) 5,49% ke Rp 1.250 per saham
2. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) 4,26% ke Rp 1.345 per saham
3. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) 4,26% ke Rp 2.690 per saham

Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) 2,635 ke Rp 8.325 per saham
2. PT Alamtri Minerals Tbk (ADMR) 2,87% ke Rp 1.355 per saham
3. PT Trimegah Bangun Persadana Tbk (NCKL) 2,00% ke Rp 1.225 per saham

Analis Pasar: IHSG bakal bergerak di rentang support 8.117 dan resistance 8.199

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sebesar 1,3% dalam sepekan ini. Di akhir perdagangannya kemarin, Jumat (31/10/2025), indeks ditutup melemah 0,25% ke 8.163.

Menanggapi hal tersebut, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, merinci koreksi IHSG dalam sepekan tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti musim rilis kinerja keuangan emiten dan harga emas dunia yang melemah. Hal ini berdampak pada pergerakan emiten berbasis emas di IHSG.

Selain itu, adanya pertemuan Amerika Serikat dengan China di Korea Selatan juga ikut berpengaruh pada gerak pasar saham Tanah Air.

“Hal ini menjadi sentimen positif yang diperkirakan AS memangkas kenaikan tarif China,” jelas Herditya.

Herditya menambahkan, pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve, juga menyumbang sentimen baik bagi pasar saham global dan domestik. Apalagi, pasar menaksir The Fed akan kembali memangkas suku bunga acuannya pada Desember 2025 mendatang.

Namun, wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan perubahan perhitungan free float saham Indonesia masih menjadi momok bagi IHSG.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menambahkan faktor penutupan perdagangan di akhir bulan dan rebalancing indeks LQ45 juga mempengaruhi pergerakan IHSG minggu ini.

Data NBS Manufacturing PMI China yang turun di level 49,0 di Oktober 2025 dari 49,8 di September 2025, yang merupakan level terendah sejak April 2025, turut pula menyumbang sentimen bagi indeks.

Secara teknikal, Stochastic RSI dilihat Alrich melanjutkan reversal ke atas di area pivot. Indikator MACD masih berlanjut membentuk histogram negatif, dan IHSG bertahan ditutup di atas MA5 dan MA20. Dus, Alrich menaksir IHSG akan bergerak pada kisaran support 8.000 dan resistance 8.280 besok.

Sementara proyeksi Herditya, IHSG bakal bergerak di rentang support 8.117 dan resistance 8.199.

Sentimennya, Herditya menjelaskan, pasar akan menanti rilis data inflasi dan PDB Indonesia yang diprediksi konsensus masih cenderung melandai.

Selain itu, pergerakan harga emas yang berpeluang menguat, sentimen positif pertemuan presiden AS-China, dan sentimen rilis kinerja emiten juga masih akan mengiringi laju IHSG pekan depan.

Baca Juga  IHSG Melorot 94,42 Poin Terduduk di Level 7.736,06 Sore Ini

Alrich menimpali, investor juga menantikan data manufaktur PMI, neraca perdagangan, dan cadangan devisa Indonesia pekan depan.

Dengan berbagai sentimen ini, saham pilihan Alrich besok ialah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Sementara itu, investor disarankan Herditya untuk mencermati saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada rentang support dan resistance Rp 950-Rp 1.005, PT Indosat Tbk (ISAT) di Rp 1.970-Rp 2.100, dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) Rp 14.600-Rp 15.450.

Analis Pasar: IHSG Berpeluang Rebound ke 8.600 Jelang Akhir Tahun Dipicu The Fed Pangkas Suku Bunga

Akhir Oktober 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan mingguan sebesar 1,3% ke level 8.163. Namun secara bulanan, IHSG masih berhasil tumbuh 1,28%, menandakan adanya potensi pemulihan di tengah dinamika pasar global.

Menurut Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, rebound IHSG dipicu oleh keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang memangkas tingkat suku bunga acuannya.

Selain itu, kesepakatan dagang satu tahun antara Amerika Serikat dan China, serta ekspektasi pemangkasan kembali suku bunga The Fed pada Desember mendatang turut menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai bahwa optimisme investor juga didorong oleh potensi aksi window dressing menjelang akhir tahun. Menurutnya, rotasi portofolio dan ekspektasi pelonggaran moneter global dapat menjadi bahan bakar bagi penguatan IHSG di penghujung tahun.

Namun demikian, Reza menekankan bahwa arah pergerakan IHSG masih sangat bergantung pada kondisi eksternal.

“Jika ketiga faktor tersebut mereda, peluang IHSG untuk rebound akan semakin besar,” ucap Reza.

Sentimen Domestik dan Global Jadi Penentu
Ke depan, Reza menilai rilis kinerja kuartal III-2025 emiten, neraca perdagangan, data inflasi, serta data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar.

Selain itu, pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga patut dicermati karena dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

Dari sisi global, Nico menambahkan bahwa investor akan menanti rilis beberapa data ekonomi utama Amerika Serikat seperti ISM Manufacturing, JOLTS data pekerjaan, ADP Employment Change, dan ISM Services Index.

Dari kawasan Eropa, data Producer Price Index (PPI) dan retail sales akan menjadi perhatian, sedangkan dari China, publikasi data ekspor-impor dan neraca perdagangan (trade balance) berpotensi menimbulkan efek lanjutan terhadap laju IHSG.

Proyeksi IHSG dan Sektor Unggulan
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Nico memperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran support 8.022 dan resistance 8.200 dalam jangka pendek.

“Dan akhir tahun dengan tingkat probabilitas sebesar 57%, masih berpotensi untuk mencapai 8.430,” taksirnya.

Adapun Reza memperkirakan IHSG dapat menguat menuju area 8.500–8.600 hingga akhir tahun, dengan support di 7.900–8.000 dan resistance psikologis di 8.300.

Dari sisi sektoral, keduanya menilai bahwa perbankan, properti, dan konsumer akan menjadi sektor yang diuntungkan oleh tren penurunan suku bunga dan optimisme pasar. Sementara itu, komoditas emas, CPO, konsumer, dan perbankan akan lebih dipengaruhi oleh rilis kinerja keuangan emiten.

Untuk strategi investasi akhir tahun, Reza merekomendasikan agar investor mulai mencermati saham berbasis komoditas batubara, yang berpotensi menguat seiring meningkatnya permintaan musiman.

Sementara Nico menilai bahwa sektor pilihan yang menarik untuk dicermati mencakup properti, perbankan, consumer nonsiklikal, energi, dan komoditas.