Topikseru.com – Pada perdagangan Jumat, 21 November 2025 harga bitcoin (BTC) kembali mengalami penurunan di bawah $90.000. Mata uang crypto utama ini turun lebih dari 3% dalam 24 jam terakhir, mencapai titik terendah baru dalam tujuh bulan di sekitar $86.300 sebelum sedikit pulih dan diperdagangkan di kisaran $88.000 pada saat berita ini ditulis.
Pasar crypto secara keseluruhan juga ikut melemah mengikuti pergerakan Bitcoin, yang mengakibatkan likuidasi lebih dari $914 juta dari para trader yang menggunakan leverage.
Menariknya, lebih dari $703 juta di antaranya berasal dari posisi long, yang memperkuat sentimen bearish melalui fenomena “long squeeze.”
Pada 21 November 2025, harga Bitcoin tercatat berada di level $88,045 atau setara dengan Rp1.482.651.906, mengalami penurunan 3,31% dalam 24 jam terakhir.
Sepanjang periode ini, BTC menyentuh level terendahnya di Rp1.448.607.620 dan harga tertingginya di Rp1.560.156.152.
Saat penulisan, kapitalisasi pasar Bitcoin berada di sekitar Rp29.385 triliun, dengan volume perdagangan dalam 24 jam terakhir yang naik 24% menjadi Rp1.681 triliun.
Dalam grafik mingguan, harga Bitcoin telah membentuk pola channel naik simetris sejak awal 2023. Setelah mencapai rekor tertinggi sekitar $126.000 pada Oktober lalu, harga Bitcoin mengalami fase koreksi dan kini tengah menguji batas bawah dari channel naik jangka panjang tersebut.
Menurut analisis data pasar dari Santiment, para trader ritel semakin banyak memprediksi bahwa harga BTC akan turun di bawah $70.000.
Namun, Santiment mencatat bahwa pasar sering kali bergerak berlawanan arah dengan sentimen mayoritas trader ritel.
Sentimen bullish jangka menengah pun semakin kuat karena adanya ketakutan ekstrem akan terjadinya kapitulasi lebih lanjut di pasar kripto. Indeks Fear and Greed dari CoinMarketCap bahkan turun ke titik terendah tahunannya di angka sekitar 15 dari 100.
Menariknya, terakhir kali indeks ini berada di level serendah itu, pasar justru mengalami rebound yang signifikan dalam beberapa bulan berikutnya.
Dengan dibukanya kembali pemerintahan Amerika Serikat, likuiditas diperkirakan akan mengalir kembali ke pasar kripto seiring dengan kemungkinan dimulainya kembali kebijakan Quantitative Easing (QE) oleh Federal Reserve.
Seperti dilaporkan oleh CoinPedia, harga Bitcoin diprediksi akan mengalami rebound yang serupa dengan apa yang terjadi pasca-shutdown pemerintah AS pada tahun 2019.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli crypto memiliki risiko dan volatilitas tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
Coinpedia. Bitcoin Price Drops Below $87k; Here is Why a Rebound Is Likely Ahead. Diakses pada 21 November 2025













