Ekonomi dan Bisnis

Bitcoin dan Ethereum Terduduk di Zona Merah, Analis Pasar Soroti Tekanan Stagflasi AS

×

Bitcoin dan Ethereum Terduduk di Zona Merah, Analis Pasar Soroti Tekanan Stagflasi AS

Sebarkan artikel ini

Harga Bitcoin (BTC) Turun 3,44% dan Ethereum (ETH) Melemah 4,41%

Bitcoin
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (28/5) pukul 14.10 WIB, harga Bitcoin (BTC) turun 3,44% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 73.061. Secara mingguan, Bitcoin terkoreksi 5,75%. Sementara itu, Ethereum (ETH) melemah 4,41% dalam sehari menjadi US$ 1.982 dan turun 6,78% dalam sepekan.

Topikseru.com, Jakarta – Pergerakan aset kripto utama masih berada dalam tekanan. Pelemahan harga Bitcoin dan Ethereum dipicu kombinasi sentimen global mulai dari risiko stagflasi Amerika Serikat (AS), ketegangan geopolitik Timur Tengah, hingga sikap hati-hati investor institusi.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (28/5) pukul 14.10 WIB, harga Bitcoin (BTC) turun 3,44% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 73.061.

Secara mingguan, Bitcoin terkoreksi 5,75%. Sementara itu, Ethereum (ETH) melemah 4,41% dalam sehari menjadi US$ 1.982 dan turun 6,78% dalam sepekan.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menilai tekanan terhadap pasar kripto tahun ini datang dari berbagai faktor eksternal secara bersamaan.

Salah satunya adalah kekhawatiran pasar terhadap kondisi stagflasi di AS.

Menurut Fahmi, konflik Iran yang mendorong kenaikan harga minyak membuat tekanan inflasi kembali meningkat.

Di sisi lain, kondisi tersebut membuat ruang Bank Sentral AS (The Fed) untuk memangkas suku bunga menjadi semakin terbatas.

“Inflasi semakin menjauh dari target sehingga The Fed belum memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan suku bunga,” ujar Fahmi.

Selain faktor makroekonomi, Fahmi melihat investor institusi yang sebelumnya cukup agresif mulai menunjukkan sikap defensif.

Kondisi ini dinilai mengurangi optimisme pelaku pasar terhadap aset kripto.

Meski demikian, ia menilai peluang penguatan harga kripto masih terbuka apabila The Fed mulai memberikan sinyal pemangkasan suku bunga pada kuartal III tahun ini.

Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpotensi bergerak ke kisaran US$ 90.000 hingga US$ 100.000.

Sementara Ethereum diperkirakan dapat menguat ke rentang US$ 2.400 hingga US$ 2.800.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi meningkat dan peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka, pasar kripto diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan.

Bahkan, Bitcoin disebut berpotensi kembali menguji level US$ 60.000. Untuk strategi investasi, Fahmi menyarankan investor jangka menengah hingga panjang melakukan akumulasi secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA).

Selain itu, diversifikasi pada beberapa aset kripto dengan karakter pergerakan harga yang berbeda juga dinilai penting untuk mengurangi risiko volatilitas pasar.

Adapun sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor dalam waktu dekat antara lain arah kebijakan suku bunga The Fed, arus dana ETF kripto, perkembangan data ekonomi AS, hingga dinamika geopolitik global.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *