Peristiwa

Kisah Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Bertahan di Tenda Menjelang Ramadan

×

Kisah Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Bertahan di Tenda Menjelang Ramadan

Sebarkan artikel ini
Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang pascabanjir tinggal di tenda darurat hampir tiga bulan setelah banjir bandang merusak rumah dan lingkungan permukiman.
Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang pascabanjir masih bertahan di tenda darurat hampir tiga bulan setelah banjir bandang menghancurkan rumah dan ladang mereka. (Instagram/waracantika06)

Topikseru.com, Tamiang – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, warga Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, masih menjalani hari-hari berat di tenda pengungsian.

Tiga bulan setelah banjir bandang melanda wilayah mereka pada akhir November 2025, sebagian besar warga belum bisa kembali ke rumah karena bangunan tempat tinggal hancur bahkan hanyut terseret arus.

Banjir bandang yang melanda Desa Sekumur menjadi salah satu yang terparah di Aceh Tamiang. Air datang tiba-tiba sambil membawa gelondongan kayu besar yang merusak rumah-rumah warga serta ladang tempat mereka menggantungkan hidup.

Kondisi terkini desa tersebut terungkap melalui unggahan video akun Instagram @waracantika06 pada Minggu (8/2/2026).

Dalam video berdurasi 58 detik itu, tampak deretan tenda darurat masih berdiri di atas tanah berlumpur, menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi warga.

“Ini 8 Februari 2026. Tiga bulan pascabanjir, kami masih tinggal di tenda. Rumah kami hancur,” ujar seorang warga dalam video tersebut.

Bagi warga, tinggal di tenda bukan hanya soal kehilangan kenyamanan, tetapi juga ketahanan fisik dan mental.

Pada siang hari, suhu di dalam tenda terasa sangat panas. Sementara saat malam tiba, udara dingin menusuk tubuh.

Baca Juga  Debu Pascabanjir di Aceh Tamiang Makin Pekat, Warga Khawatir Dampak Kesehatan

“Kami masih tidur di tenda, masih kepanasan. Bayangkan nanti bulan puasa, kami tetap tidur di tenda seperti ini,” ucap warga lainnya dengan suara lirih.

Selain kehilangan tempat tinggal, banjir juga memutus sumber penghidupan warga.

Ladang yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi rusak parah, tertimbun lumpur dan tumpukan kayu sisa banjir.

“Bukan kami tidak mau membuat tenda yang lebih layak, tapi dari mana? Ladang kami semua hancur,” keluh seorang warga.

Di sejumlah titik Desa Sekumur, gelondongan kayu besar masih terlihat menumpuk.

Kayu-kayu tersebut rencananya akan dimanfaatkan sebagai bahan bangunan untuk membangun kembali rumah warga.

Namun keterbatasan biaya membuat rencana itu belum bisa diwujudkan.

Baca Juga  Jeritan Warga Desa Juar Aceh Tamiang, Bertahan di Tengah Lumpur dan Ancaman Kelaparan Pascabanjir Bandang

“Kayunya besar-besar, kemarin sudah dipotong sebagian karena banyak anak-anak bermain, takut jatuh,” ujarnya.

Warga juga menyebut hingga kini belum ada pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir di Desa Sekumur.

Seluruh warga terdampak masih bertahan di tenda bantuan.

“Belum ada hunian sementara. Kami semua masih tinggal di tenda,” tegas warga dalam video tersebut.

Menjelang Ramadan, kekhawatiran warga semakin besar. Selain harus menjalani ibadah puasa dalam keterbatasan, mereka juga masih dibayangi ketidakpastian tempat tinggal dan penghidupan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang terkait perkembangan pembangunan hunian sementara maupun langkah pemulihan bagi warga Desa Sekumur pascabanjir.