Ramadan 1447 H

Kultum Ramadhan Kamis 26 Februari 2026: Keutamaan Tarawih dan Witir

×

Kultum Ramadhan Kamis 26 Februari 2026: Keutamaan Tarawih dan Witir

Sebarkan artikel ini
Kultum Ramadhan
Kultum Ramadhan Kamis 26 Februari 2026: Keutamaan Tarawih dan Witir

Ringkasan Berita

  • Keutamaan Shalat Tarawih Shalat Tarawih menempati kedudukan yang sangat istimewa sebagai ibadah sunnah yang sangat di…
  • Di antara rangkaian ibadah yang paling dinanti adalah pelaksanaan shalat Tarawih dan Witir yang menghidupkan malam-ma…
  • Para ulama telah sepakat tentang kesunnahannya.” (Syarhun Nawawi 'alal Muslim, , jilid VI, halaman 39).

Topikseru.com, Jakarta –  Kultum Ramadhan Kamis 26 Februari 2026: Keutamaan Tarawih dan Witir di mana sepanjang bulan Ramadhan, umat Islam berbondong-bondong merajut berbagai kebajikan demi menjemput kemuliaan di bulan yang penuh berkah ini.

Di antara rangkaian ibadah yang paling dinanti adalah pelaksanaan shalat Tarawih dan Witir yang menghidupkan malam-malam suci.

Keutamaan Shalat Tarawih

Shalat Tarawih menempati kedudukan yang sangat istimewa sebagai ibadah sunnah yang sangat ditekankan sepanjang bulan Ramadhan. Ibadah ini membawa janji pengampunan yang luar biasa; setiap sujud dan rukuknya menjadi wasilah bagi terhapusnya dosa-dosa masa lalu. Mengenai keutamaan besar ini, Rasulullah SAW memberikan penegasannya dalam sebuah hadits:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, “Barang siapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan ikhlas (karena Allah ta’ala) maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR Muslim).

Mengacu pada penjelasan Imam An-Nawawi, beliau menegaskan bahwa terminologi ‘menghidupkan malam Ramadhan’ dalam hadis riwayat Imam Muslim tersebut secara spesifik merujuk pada pelaksanaan Shalat Tarawih. Dalam kitabnya, Imam An-Nawawi menguraikan:

وَالْمُرَادُ بِقِيَامِ رَمَضَانَ صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ، وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلىَ اسْتِحْبَابِهَا

Artinya, “Yang dimaksud dengan menghidupkan malam Ramadhan (qiyam Ramadhan) adalah shalat Tarawih. Para ulama telah sepakat tentang kesunnahannya.” (Syarhun Nawawi ‘alal Muslim, [Beirut, Daru Ihyait Turats: tt], jilid VI, halaman 39).

Para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai cakupan dosa yang diampuni dalam hadits tersebut, sebagaimana dinamika ikhtilaf yang kerap muncul pada teks-teks serupa. Imam al-Haramain berpendapat bahwa pengampunan tersebut secara spesifik menyasar dosa-dosa kecil, mengingat dosa besar memerlukan mekanisme tobat khusus untuk dapat terhapuskan.

Di sisi lain, Imam Ibnu al-Mundzir menawarkan perspektif yang lebih luas; beliau memandang redaksi ‘mâ’ (dosa) sebagai bentuk lafaz ‘âm (terminologi umum) yang menyapu bersih segala jenis dosa, baik itu kesalahan kecil maupun dosa besar.

Imam Syamsuddin Ar-Ramli mengatakan:

قَالَ الْإِمَامُ: (وَالْمُكَفَّرُ الصَّغَائِرُ دُونَ الْكَبَائِرِ) . قَالَ صَاحِبُ الذَّخَائِرِ: وَهَذَا مِنْهُ تَحَكُّمٌ يَحْتَاجُ إلَى دَلِيلٍ وَالْحَدِيثُ عَامٌّ وَفَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ لَا يُحْجَرُ. قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي قَوْلِهِ – ﷺ – «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»: هَذَا قَوْلٌ عَامٌّ يُرْجَى أَنَّهُ يُغْفَرُ لَهُ جَمِيعُ ذُنُوبِهِ صَغِيرُهَا وَكَبِيرُهَا.

Artinya: “Imam (Al-Haramain) berpendapat: ‘(Yang dihapuskan) adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar’. Namun, penulis kitab Adz-Dzakha’ir menyanggah: ‘Pendapat ini adalah klaim sepihak (tahakkum) yang butuh dalil, padahal haditsnya bersifat umum dan karunia Allah itu luas, tidak terbatas’.

Ibnu Mundzir juga berkomentar mengenai sabda Nabi ﷺ (Barangsiapa shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu): ‘Ini adalah pernyataan umum, sehingga diharapkan (dengan amal tersebut) seluruh dosanya diampuni, baik yang kecil maupun yang besar’.” (Nihayatul Muhtaj, [Beirut, Darul Fikr: 1404 H], jilid. III, hal. 206).

Keutamaan Shalat Witir

Melengkapi keindahan malam Ramadhan, pengerjaan Shalat Witir juga menjadi amalan yang sangat ditekankan bagi setiap Muslim. Mengenai keistimewaan Shalat Witir, Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat memukau bagi seluruh umat manusia.

Beliau menegaskan bahwa shalat sunnah ini memiliki nilai yang sangat agung di hadapan Allah SWT, bahkan melampaui kemewahan unta merah, simbol harta paling prestisius dan tak ternilai pada zaman tersebut. Untuk memahami betapa berharganya posisi Witir dalam timbangan amal, mari kita renungkan sabda Baginda Nabi SAW berikut ini:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ: الْوِتْرُ، جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَىٰ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Artinya, “Sesungguhnya Allah telah memberi kalian suatu shalat yang lebih baik bagi kalian daripada unta merah, yaitu Shalat Witir. Allah menjadikannya untuk kalian antara waktu shalat Isya hingga terbit fajar.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Imam Ash-Shan’ani dalam kitabnya, At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir memberikan interpretasi mengenai hadits tersebut sebagai berikut,

فَإِنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تُحِبُّ حُمْرَ النَّعَمِ وَتَرَاهَا أَشْرَفَ مَا يُعْطَى

Artinya: “Sebab orang-orang Arab dahulu sangat menyukai unta merah dan menganggapnya sebagai pemberian yang paling mulia/berharga.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir , [Riyadh, Maktabah Darussalam: 1432 H], jilid. III, hal. 317).

Dari keterangan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pada zaman Rasulullah SAW, unta merah bukan sekadar hewan ternak, melainkan simbol kemakmuran tertinggi dan harta yang paling didambakan.

Melalui perumpamaan yang sangat kuat ini, Baginda Nabi ingin menyentuh kesadaran kita bahwa Shalat Witir memiliki nilai intrinsik yang jauh melampaui segala kemewahan duniawi. Terlebih di bulan Ramadhan, saat setiap ketaatan mendapat apresiasi pahala yang berlipat ganda, Witir bertransformasi menjadi investasi akhirat yang tak ternilai harganya.

Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa menunaikan kedua shalat ini bukan sekadar rutinitas ibadah fisik semata, melainkan sebuah upaya untuk meniupkan ruh ke dalam malam-malam Ramadhan.

Dengan mengerjakannya, kita tidak hanya sedang memenuhi kewajiban sunnah, tetapi juga sedang merawat nyala spiritual agar malam-malam suci ini tetap hidup dan penuh makna di hadapan Sang Pencipta, sehingga kita akan mendapatkan ampunan-Nya seraya menyiapkan investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Wallahu a’lam.

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.