Sosok

Profil Ali Khamenei: Dari Revolusi Iran 1979 hingga Gugur dalam Serangan AS-Israel

×

Profil Ali Khamenei: Dari Revolusi Iran 1979 hingga Gugur dalam Serangan AS-Israel

Sebarkan artikel ini
Profil Ali Khamenei
Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: Anadolu

Topikseru.com – Kematian Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menandai babak baru dalam sejarah politik Republik Islam Iran. Sosok yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade itu dikenal sebagai figur sentral dalam konsolidasi kekuasaan pasca-Revolusi Islam 1979.

Iran resmi mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah Khamenei dipastikan gugur dalam serangan yang juga menyasar sejumlah wilayah strategis, termasuk ibu kota Teheran.

Lahir di Mashhad, Tumbuh di Lingkar Ulama Syiah

Ali Khamenei lahir di Mashhad, Iran timur laut, pada 19 April 1939. Ia memperdalam ilmu agama di kota suci Qom dan menjadi murid dari ulama besar Syiah, termasuk Ruhollah Khomeini, tokoh yang kelak memimpin Revolusi Islam Iran.

Setelah Revolusi Islam 1979 menggulingkan Shah Reza Pahlavi dan mengakhiri monarki, Khamenei mulai menapaki jalur kekuasaan berkat kedekatannya dengan Khomeini.

Pada 27 Juni 1981, ia selamat dari percobaan pembunuhan saat berkhutbah di Teheran. Ledakan dari alat perekam yang disembunyikan di mimbar menyebabkan tangan kanannya lumpuh permanen.

Beberapa bulan kemudian, pada November 1981, ia terpilih sebagai Presiden Iran dan memimpin negara itu di tengah perang berkepanjangan melawan Irak.

Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran Sejak 1989

Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, Majelis Ahli menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Sejak saat itu, ia menjadi figur paling berpengaruh dalam sistem politik Iran, yakni mengawasi militer, pengadilan, kebijakan luar negeri, hingga garis ideologis negara.

Khamenei dikenal sebagai penggagas “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance), yakni aliansi strategis melawan pengaruh AS dan Israel di kawasan.

Iran mempererat hubungan dengan kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman dalam kerangka poros tersebut.

Nuklir, Sanksi, dan JCPOA

Di tengah tekanan sanksi Barat, Khamenei mendorong konsep “ekonomi perlawanan” untuk memperkuat produksi domestik dan mengurangi ketergantungan ekspor minyak.

Ia juga mendukung pengembangan teknologi nuklir sebagai simbol kedaulatan nasional, sembari mengeluarkan fatwa yang melarang pengembangan senjata nuklir.

Baca Juga  Khamenei Tewas Bersama Putri, Menantu dan Cucu dalam Serangan Israel-AS di Iran

Pada 2015, Iran mencapai kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Uni Eropa.

Namun, kesepakatan itu runtuh setelah pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump menarik diri pada 2018 dan kembali menjatuhkan sanksi penuh. Pada 2025, Iran resmi menyatakan mundur dari JCPOA.

Gelombang Protes dan Tekanan Eksternal

Kepemimpinan Khamenei juga diwarnai gelombang protes domestik, mulai dari demonstrasi pascapemilu 2009, unjuk rasa 2019–2020, protes Mahsa Amini 2022, hingga demonstrasi yang kembali muncul pada Desember 2025.

Respons keras aparat keamanan terhadap protes memicu kecaman luas dari negara-negara Barat.

Di saat yang sama, ketegangan dengan AS dan Israel meningkat tajam, termasuk serangan selama 12 hari pada pertengahan 2025 yang disebut menargetkan pusat-pusat strategis Iran.

Transisi Kepemimpinan dan Peran Majelis Ahli

Akademisi Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menilai wafatnya Khamenei tidak serta-merta mengguncang fondasi politik Iran. Menurutnya, Republik Islam Iran bukan rezim personalistik yang bergantung pada satu figur.

“Pengalaman wafatnya Imam Ruhollah Khomeini pada 1989 menunjukkan bahwa transisi bisa berjalan tanpa mengguncang fondasi negara,” ujarnya.

Sesuai Pasal 111 Konstitusi Iran, Majelis Ahli Iran akan segera bersidang untuk memilih Pemimpin Tertinggi baru. Tokoh pengganti harus bergelar Ayatollah, gelar tertinggi dalam hierarki ulama Syiah Iran.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memastikan Majelis Ahli akan memulai proses pemilihan secepatnya.

Era Baru Republik Islam Iran

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran menyatakan akan membalas kematian Khamenei. Sejumlah ulama Syiah bahkan menyerukan perlawanan terbuka terhadap AS dan Israel.

Dengan masa kepemimpinan selama 36 tahun sebagai Pemimpin Tertinggi, dan total 45 tahun berada di pucuk kekuasaan sejak menjadi presiden, Iran kini memasuki fase transisi yang krusial.

Wafatnya Ali Khamenei diyakini akan membentuk ulang peta politik domestik dan arah kebijakan luar negeri Iran, di tengah tekanan sanksi internasional dan eskalasi konflik kawasan yang belum mereda.