Ekonomi dan Bisnis

Efek Domino Perang Iran Mulai Terasa Picu Harga BBM AS Tembus US$4 Per Galon

×

Efek Domino Perang Iran Mulai Terasa Picu Harga BBM AS Tembus US$4 Per Galon

Sebarkan artikel ini
Iran
Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat melonjak tajam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Rata-rata harga bensin nasional di AS kini menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Topikseru.com, Jakarta – Pasca perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat melonjak tajam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.

Rata-rata harga bensin nasional di AS kini menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Melansir Reuters berdasarkan data pelacak harga GasBuddy, lonjakan tersebut terjadi pada Senin (30/3/2026), didorong oleh gangguan besar pada pasokan energi global akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Level US$4 per galon terakhir kali tercapai pada Agustus 2022, setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Angka ini kerap dianggap sebagai batas psikologis bagi konsumen, karena berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Kenaikan harga energi dipicu oleh terganggunya distribusi minyak dunia, terutama setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak global.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, harga bensin di AS telah naik sekitar US$1,06 per galon atau sekitar 36%.

Lonjakan ini mulai menekan keuangan rumah tangga yang sebelumnya sudah terbebani oleh kenaikan biaya hidup.

Analis Raymond James Pavel Molchanov menilai, lonjakan harga BBM akibat perang bukanlah fenomena baru. Ia mencontohkan kondisi serupa terjadi saat konflik Rusia-Ukraina pada 2022.

“Lonjakan mendadak akibat perang mendorong harga bensin ke US$4 per galon. Namun kami memperkirakan krisis kali ini akan lebih singkat dibandingkan 2022, ketika harga bertahan tinggi selama 23 minggu,” ujarnya.

Baca Juga  Bursa Saham Amerika Serikat Menghijau: Indeks Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Baru

Meski demikian, harga BBM masih berpotensi naik lebih lanjut jika harga minyak mentah terus melonjak.

Pada perdagangan terakhir, harga minyak AS ditutup di level US$102,88 per barel dan terus menunjukkan tren kenaikan.

Pemerintah AS telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam lonjakan harga, termasuk memberikan pengecualian sementara terhadap Undang-Undang Jones Act selama 60 hari.

Kebijakan ini memungkinkan kapal berbendera asing mengangkut bahan bakar dan komoditas lain antar pelabuhan domestik.

Namun, pelaku industri menilai dampak kebijakan tersebut terhadap penurunan harga relatif terbatas.

Kenaikan harga BBM juga menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.

Sebelumnya, Trump berjanji akan menurunkan harga energi dan meningkatkan produksi minyak serta gas domestik.

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 55% responden mengaku kondisi keuangan rumah tangga mereka terdampak oleh kenaikan harga BBM. Dari jumlah tersebut, 21% menyebut dampaknya sangat signifikan.

Ekonom WisdomTree Jeremy Siegel menegaskan bahwa harga bensin memiliki dampak psikologis yang kuat terhadap masyarakat.

“Isu utamanya bukan hanya minyak mentah, tetapi harga bensin sebagai harga paling terlihat oleh konsumen. Ketika harga itu naik, dampaknya langsung terasa secara psikologis,” ujarnya.