Ekonomi dan Bisnis

Harga Kripto Terkoreksi Dipicu Tekanan Geopolitik Timur Tengah Semakin Memanas

×

Harga Kripto Terkoreksi Dipicu Tekanan Geopolitik Timur Tengah Semakin Memanas

Sebarkan artikel ini
Kripto
harga kripto terkoreksi dipicu tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Di mana kondisi ini turut menyeret kinerja aset kripto utama yang mengalami pelemahan dalam sepekan terakhir, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap instrumen berisiko.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (3/4/2026) harga kripto terkoreksi dipicu tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global.

Di mana kondisi ini turut menyeret kinerja aset kripto utama yang mengalami pelemahan dalam sepekan terakhir, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap instrumen berisiko.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap mayoritas aset kripto mencatatkan penurunan secara mingguan.

Bitcoin terkoreksi sebesar 2,19%, Ethereum melemah tipis 0,03%, sementara Solana mencatat penurunan paling dalam hingga 7% dalam periode yang sama.

Menanggapi hal tersebut, Analis Reku, Andri Fauzan, menilai bahwa pelemahan harga kripto dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang belum mereda.

Kondisi tersebut mendorong investor untuk mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga berasal dari sentimen makroekonomi global. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish serta penguatan dolar Amerika Serikat turut membebani pergerakan aset kripto.

“Faktor lainnya penjualan besar-besaran dari miner dan institusi sehingga pasar kripto secara keseluruhan masih berada dalam fase konsolidasi yang berat,” ujarnya.

Di sisi lain, analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat adanya korelasi yang cukup kuat antara pergerakan harga Bitcoin dengan indeks saham S&P 500 serta emas.

Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika pasar kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen global, bukan semata faktor internal industri.

Untuk Ethereum, tekanan justru lebih banyak berasal dari sisi institusional. Kembalinya arus keluar dana (outflow) dari produk ETF spot Ethereum menunjukkan bahwa minat investor besar masih belum stabil di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

“Ketika institusi mulai menarik dana, likuiditas pasar menjadi lebih tipis dan harga menjadi lebih mudah tertekan, terutama di tengah sentimen pasar yang sedang negatif,” kata Fyqieh.

Sementara itu, Solana menghadapi tekanan tambahan dari faktor internal dalam ekosistemnya. Insiden peretasan besar yang terjadi pada protokol DeFi Drift, dengan nilai kerugian mencapai ratusan juta dolar, turut menggerus kepercayaan investor.

“Insiden ini memicu penarikan likuiditas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan ekosistem Solana, sehingga memperburuk penurunan harga di tengah kondisi pasar yang memang sedang lemah,” ujar Fyqieh.

Harga Bitcoin Terkoreksi ke Level sekitar US$ 66.000 Dipicu Pidato Donald Trump

Bitcoin
Pada perdagangan Jumat (3/4/2026) setelah sempat bertahan di kisaran US$ 68.000 menjelang pidato, Bitcoin justru terkoreksi ke level sekitar US$ 66.000, seiring reaksi negatif pasar global.

Pada perdagangan Jumat (3/4/2026) setelah sempat bertahan di kisaran US$ 68.000 menjelang pidato, Bitcoin justru terkoreksi ke level sekitar US$ 66.000, seiring reaksi negatif pasar global.

Baca Juga  Harga Kripto Tersungkur di Zona Merah di Perdagangan Kamis (20/11/2025): Bitcoin Turun 1,65 Persen dan Ethereum (ETH) Turun 3,28 Persen

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tekanan signifikan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya setelah pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kejelasan arah deeskalasi.

Sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar sempat mengantisipasi narasi “perang akan segera berakhir”, yang mendorong pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya.

Namun, data intraday menunjukkan bahwa reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat.

Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan timeline yang jelas terkait berakhirnya konflik.

Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 5% dan memicu kekhawatiran inflasi global, sementara penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan aset berisiko termasuk kripto.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa kondisi ini mencerminkan fenomena klasik “sell the news” di mana ekspektasi positif telah lebih dulu diantisipasi pasar, namun tidak diikuti oleh realisasi yang sesuai.

“Ketika pidato Trump tidak memberikan kepastian, pelaku pasar memilih untuk mengurangi risiko. Ini terlihat dari dominasi distribusi volume dan penurunan open interest di pasar derivatif,” ujar Fyqieh dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).

Lebih lanjut, Fyqieh memproyeksikan bahwa dalam jangka pendek Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil.

Selama Bitcoin masih berada di bawah area resistance US$ 70.000 – US$ 75.000, pergerakan harga cenderung sideways dengan risiko koreksi lanjutan, terutama jika tekanan makro seperti kenaikan harga energi dan suku bunga terus berlanjut.

Ia menambahkan, dalam skenario negatif, Bitcoin berpotensi menguji kembali area support di kisaran US$ 60.000, bahkan hingga US$ 40.000 – US$ 60.000 jika tekanan geopolitik meningkat dan likuiditas pasar menurun.

Namun, jika konflik mulai mereda dan likuiditas global kembali meningkat, Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat secara bertahap.

Dalam jangka menengah hingga akhir 2026, prospek Bitcoin masih relatif positif.

Beberapa proyeksi menunjukkan harga berpotensi berada di kisaran US$ 80.000 hingga US$ 100.000 sebagai skenario dasar, dengan potensi kenaikan lebih tinggi jika didukung oleh arus masuk institusi dan stabilitas makroekonomi.

Secara fundamental, Bitcoin masih didukung oleh narasi jangka panjang seperti adopsi institusional dan efek pasca-halving.

“Namun dalam jangka pendek, pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Artinya, volatilitas masih akan menjadi karakter utama dalam beberapa bulan ke depan,” tutup Fyqieh.