Ekonomi dan Bisnis

Harga Tiket Pesawat Meroket, Dampak Multipliernya Akan Dirasakan di Banyak Sektor Ekonomi

×

Harga Tiket Pesawat Meroket, Dampak Multipliernya Akan Dirasakan di Banyak Sektor Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin.(Foto: Istimewa/Topikseru)

Topikseru.com, Medan – Perang antara Iran – AS serta Israel telah membawa petaka bagi industri penerbangan belakangan ini. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat bertahan di atas $100 per barel telah memicu kenaikan pada harga tiket pesawat. Dari hasil penelusuran, harga tiket pesawat Jakarta – Medan saat ini dijual sekitar Rp2.5 juta untuk satu kali jalan.

Menurut Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, salah satu yang menjadi pemicu kenaikan harga tiket pesawat adalah melompatnya harga avtur sekitar 70%. Meski demikian pemerintah hanya membolehkan kenaikan tiket pesawat sebesar 13%. Dimana pemerintah memberikan sejumlah keringan dari sisi lainnya seperti insentif penyediaan suku cadang, keringanan pajak hingga penyeragaman biaya tambahan (fuel surcharge).

“Kenaikan harga tiket pesawat di tanah air selain membenai industri penerbangan itu sendiri, juga memicu kenaikan laju tekanan inflasi. Termasuk berpeluang memberikan tekanan pada daya beli masyarakat, menekan industri pariwisata, perhotelan, transportasi, pergudangan hingga kuliner,” ujar Gunawan Benjamin.

Pada besaran laju inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga tiket belakangan ini, Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara ini, menghitung nilainya tidak lebih dari 0.27%. Namun dampak ekonomi lain yang ditimbulkan dari kenaikan harga tiket ini memiliki multiplier efek yang besar dan berpeluang menekan sejumlah sektor usaha yang ada di semua wilayah tanah air.

Baca Juga  Huawei MatePad Pro 12.2 Inci: Tablet Flagship Terjangkau, Lebih Murah dari iPad Pro!

Gunawan Benjamin menambahkan, harga tiket yang mahal berpeluang menekan jumlah penumpang pengguna jasa penerbangan. Kenaikan harga tiket secara global juga akan mengalami kenaikan. Sehingga tidak akan serta merta merubah daya saing penerbangan lokal terhadap minat masyarakat untuk berkunjung ke luar negeri. Artinya karena kenaikan harg atiket ini bersifat serentak, maka daya saing penerbangan lokal maupun asing tidak alami perubahan.

Potensi penurunan jumlah penumpang pada hampir semua maskapai juga akan relatif sama. Saat ini harga minyak mentah dunia sudah turun di bawah $100 per barel. Namun dampaknya belum akan dirasakan instan. Karena perubahan harga acuan avtur yang bersumber dari MOPS (mean of platts Singapore) juga tidak akan berubah secepat itu.

Gunawan Benjamin menilai, gencatan senjata selama dua pekan kedepan ini juga masih bersifat temporer. Menyisahkan ketidakpastian yang bisa saja memperburuk kinerja maskapai kedepan. Sehingga belum bisa memastikan pemulihan industri penerbangan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *